Theme Support

Showing posts with label cersil. Show all posts
Showing posts with label cersil. Show all posts

Monday, 29 April 2013

3.1 Cinta Bernoda Darah

Puncak Gunung Thai-san yang menjulang tinggi di angkasa tertutup awan putih tebal yang bergumpal-gumpal mengelilingi puncak. Hampir selalu puncak Thai-san tertutup awan, kecuali pada musim panas, sekali waktu ada kalanya puncak Thai-san yang meruncing itu tampak dari bawah. Keadaan inilah yang menimbulkan dongeng di kalangan penduduk di sekitar kaki dan lereng gunung, bahwa puncak Thai-san merupakan anak tangga menuju ke sorga! Dan bahwa hanya para dewa dan manusia setengah dewa saja yang dapat mendatangi puncak Thai-san.

Dongeng atau kepercayaan tentang hal ke dua ini tidaklah terlalu berlebihan kalau diingat bahwa penduduk pegunungan amatlah tebal kepercayaannya akan para dewa yang menguasai seluruh permukaan bumi dan diingat pula akan keadaan pun­cak itu sendiri. Terlalu tinggi, terlalu sukar jalan mendaki puncak, terlalu dingin sehingga manusia biasa tak mungkin akan dapat mendaki puncak. Terlalu banyak bahayanya. Binatang buas, jalan yang amat licin, jurang-jurang yang curam, daerah-daerah yang mengeluarkan gas, dan hawa dingin yang membekukan darah dalam badan.


Memang tak mungkin bagi manusia-manusia biasa, namun mungkin saja bagi manusia-manusia luar biasa, yaitu manusia-manusia yang memiliki kepandaian tinggi dan memiliki tubuh terlatih, yang kuat menghadapi semua tekanan, kuat pula mengatasi semua rintangan. Betapa­pun juga, jarang sekali terjadi puncak Thai-san dikunjungi orang pandai, karena selain perjalanan itu amat berbahaya, juga tanpa keperluan yang amat penting, apakah yang dicari di tempat sunyi itu?

Pagi hari itu amat cerah. Awan putih yang berkelompok di sekitar puncak tam­pak berkilauan seperti perak digosok, matahari membobol benteng halimun lembab, mencairkan segala kebekuan dan menghias ujung-ujung daun dengan mutia­ra-mutiara air embun berkilauan seperti hiasan anting-anting pada telinga dara jelita. Burung-burung berkicau menyam­but hari yang amat indah itu, dan segala yang berada di permukaan bumi seakan bergembira ria. Apakah gerangan yang menyebabkan suasana gembira dan indah ini?

Tidak mengherankan. Musim semi tiba, pagi hari itu adalah permulaan dari tahun yang baru. Musim yang tepat sekali untuk memulai segala sesuatu dengan awalan-awalan yang sama sekali baru! Buang yang lama-lama dan yang buruk-buruk, mulai dengan yang baru-baru dan yang indah-indah. Setidaknya, demikianlah harapan dan renungan setiap insan pada setiap tahun baru.

Pada penduduk di sekitar kaki dan lereng gunung, semenjak pagi hari sudah sibuk berpesta, bergembira ria merayakan hari tahun baru. Pakaian-pakaian simpan­an dikeluarkan dari peti pakaian “se­tahun sekali” menghias tubuh, yang muda menghormat yang tua, yang muda minta maaf, yang tua memaafkan. Saling memaafkan, gembira tertawa, hilang dengki, lenyap benci. Alangkah indahnya dunia, alangkah nikmatnya hidup.

Serombongan orang amat cepat gerak-geriknya amat ringan langkah kakinya, bergerak cepat mendaki puncak Thai-san. Kalau saja para penduduk tidak sedang bersuka ria dan sempat menyak­sikan gerak-gerik lima orang yang bagai­kan serombongan kera besar melompat ke sana ke mari, menyelinap di antara batu-batu besar dan pohon-pohon mendaki puncak, tentu akan makin tebal kepercayaan mereka bahwa serombongan dewa atau manusia setengah dewa yang men­daki puncak itu, untuk bertahun baru di sana!

Rombongan itu adalah para tosu dari Kun-lun-pai, termasuk tokoh-tokoh ting­kat dua dan tiga di Kun-lun-pai, maka tidaklah mengherankan apabila mereka berlima sepandai itu mendaki puncak Thai-san. Tiba-tiba pemimpin rombongan, Ang Kun Tojin mengangkat tangan memberi isyarat dan seketika lima orang itu berhenti, diam tak bergerak seperti pa­tung-patung dewa penghias gunung. Me­reka semua telah mendengar suara yang halus itu. Suara nyanyian yang halus seperti bisikan angin lalu, bercampur dan menyelinap di antara desir angin mem­permainkan daun dan dendang anak su­ngai di dasar jurang. Namun kata-kata­nya jelas dapat tertangkap pendengaran telinga-telinga yang terlatih itu.

“Segala sesuatu yang menimpa diri pribadi adalah akibat daripada pikiran sendiri.

Pikiran kotor yang mendorong ucapan dan perbuatan selalu dlikuti sakit dan penderitaanseperti roda kereta mengikuti jejak sapi penariknya.

 Pikiran bersih yang mendorong ucapan dan perbuatan selalu diikuti kepuasan dan kebahagiaanseperti bayangan yang tak pernah berpisah dari padanya.”

Ang Tojin melambaikan tangan dan lima orang tosu itu melanjutkan per­jalanan mereka. Di wajah-wajah tua itu timbul semangat baru, timbul harapan dan kegembiraan.

“Twa-suheng (Kakak Seperguruan Pertama), apakah itu suara beliau....?” tosu termuda, belum lima puluh tahun, bertahi lalat di ujung hidung, bertanya.

“....ssssttttt....!” Ang Kun Tojin menyuruh adik seperguruan termuda itu diam. Mereka melanjutkan pendakian dan tak seorang pun berani bertanya lagi. Sambil mempergunakan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang khas Kun-lun-pai, yaitu ilmu lari cepat Teng-peng-touw-sui (Injak Rumput Seperti Air). Langkah kaki mereka dalam berlarian itu pendek-pendek namun cepat dan gin-kang mereka begitu hebat sehingga seakan-akan rumput yang terinjak kaki mereka tak sempat rebah saking cepatnya kaki yang bergerak! Sementara itu, suara nyanyian terdengar terus, halus lembut menusuk anak telinga.

“Dia menyiksaku, dia memukulku dia mengalahkan aku, dia merampokku! Pikiran seperti ini menimbulkan benci tiada habisnya.

Memang pikiran ini berarti melenyapkan kebencian, karena benci takkan hapus oleh benci pula,melainkan musnah oleh kasih!”

Ang Kun Tojin mengerutkan kening­nya. Dia adalah seorang tosu (Pendeta Agama To) yang dalam pengetahuannya tentang Agama To, juga sebagai orang ke dua dari Kun-lun-pai dan seorang yang tekun mempelajari filsafat agama, ia mengenal kata-kata dalam nyanyian itu. Itulah pelajaran dari Agama Buddha me­rupakan bait-bait pertama daripada pe­lajaran dalam kitab Dhammapada. Ia pernah mendengar bahwa “beliau” adalah seorang yang menganut Agama To, megapa sekarang menyanyikan pelajaran be­rupa syair Agama Buddha? Apakah bukan beliau yang bernyanyi itu! Seorang hwesio (pendeta Buddha) yang berada di puncak? Mudah-mudahan begitu karena bagi Ang Kun Tojin, jauh lebih baik dan menimbulkan harapan apabila beliau itu seorang yang beragama To.

Di pertengahan puncak mereka berhenti lagi. Dengan penuh kekaguman mereka memandang ke bawah. Awan putih berombak-ombak seperti lautan susu di bawah kaki mereka. Puncak-pun­cak gunung lain tersembul keluar seperti pulau-pulau runcing atau seperti gunung-gunung kecil. Indah bukan main, men­datangkan rasa seakan-akan mereka telah berada di kahyangan, tempat tinggal para dewa dan mahluk halus, bukan tempat manusia, menimbulkan kepercayaan bah­wa mereka makin dekat dengan Tuhan. Memang, siapa dapat merasai ketenangan dan ketenteraman, selalu akan merasa dekat dengan Tuhan!

Perjalanan dilanjutkan mendaki puncak. Tidak sesukar tadi, bahkan bumi yang mereka injak ditilami rumput-rumput hijau segar sehalus beludru. Akan tetapi setiba mereka di puncak yang dikelilingi batu-batu putih berjajar seper­ti menara, di tanah datar yang halus itu mereka mendapat kenyataan bahwa dua rombongan orang telah berada di situ, mendahului mereka!

“Ha-ha-ha, kalian terlambat, sehabat-sahabat Kun-lun-pai! Siapa terlambat takkan dapat, bukankah begitu kata peri­bahasa, Ang Kun Toyu?” tegur seorang laki-laki pendek gendut berusia enam puluhan, berpakaian sebagai petani sederhana dengan kepala dilindungi ca­ping lebar. Di belakang si gendut ini berdiri enam orang petani lain, kesemua­nya sudah lima puluh lewat usianya, sikap mereka sederhana seperti pakaian mereka, namun jelas tampak kegagahan pada pandang mata mereka.

“Siancai.... siancai....” Ang Kun Tojin mengucapkan puja-puja sambil merangkap­kan kedua tangan ke depan dada mem­beri hormat, diikuti oleh empat orang adik seperguruannya. “Tidak dinyana sa­habat Kok Bin Cu dari Hoa-san-pai sudah hadir. Selamat Musim Semi, Sicu (Orang Gagah).”

“Ha-ha-ha, selamat.... selaimat, Toyu. Semoga kalian panjang usia, penuh bahagia dan makin subur makmur dan kokoh kuat.” Si Gendut yang bernama Kok Bin Cu dan menjadi murid kepala Hoa-san-pai itu balas memberi hormat, diturutoleh enam orang adik seperguruannya.

“Juga pinto (saya) sesaudera meng­haturkan selamat kepada Leng Lo Suhu dan para Suhu dari Bu-tong-pai.” kata pula Ang Kun Tojin sambil memberi hormat kepada rombongan ke dua yang di sebelah kiri. Rombongan ini terdiri dari empat orang hwesio berkepala gundul yang bersikap pendiam dan dingin. Mereka dipimpin oleh seorang hwesio tua, usianya sekitar tujuh puluh tahun, bertubuh tinggi tegap dan kelihatan masih kuat, jubahnya berwarna ku­ning, tanda bahwa dia adalah seorang hwesio yang sudah mencapai tingkat tinggi. Memang sesungguhnya, Leng Lo Hwesio adalah murid kepala dan menjadi orang ke dua dari Bu-tong-pai, selain ilmu silatnya amat tinggi, juga pengetahuannya tentang Agama Buddha amat mendalam.

“Omitobud....” Leng Lo Hwesio cepat membalas penghormatan rombongan Kun-lun-pai ini, diturut oleh tiga orang adik seperguruannya. “Para saudara Toyu dari Kun-lun-pai amat ramah, semoga dilimpahi berkah oleh Sang Buddha....”

Murid kepala Hoa-san-pai yang bertu­buh pendek gendut itu adalah seorang tua yang gembira sikapnya, suka berkelakar dan ia memandang dunia ini dari sudut yang menggembirakan. Berbeda dengan rom­bongan-rombongan Kun-lun dan Bu-tong, yang bersikap serius dan pendiam sehing­ga keadaan di situ menjadi kaku dan di­ngin. Mungkin hal ini adalah karena kedua golongan ini telah menjadi pendeta se­hingga mereka pun harus menyesuaikan sikap sebagaimana layaknya para pen­deta, yaitu alim dan suci! Murid-murid Hoa-san-pai adalah penganut Agama To pula, akan tetapi mereka bukanlah tosu, bukan pendeta agama ini, melainkan pe­nganut biasa dan hidup mereka sehari-hari adalah sebagai petani.

Melihat keadaan yang kaku dan dingin, Kok Bin Cu tertawa keras dan berkata. “Wah, tiga rombongan wakil partai per­silatan terbesar di dunia tanpa sengaja telah berkumpul di sini. Kiranya dengan maksud yang sama pula, hendak bertemu dan mohon petunjuk dari Siansu (Guru Sakti), bukankah begitu Ang Kun Toyu dan Leng Lo Suhu?”

“Pinceng (saya) sesaudara memang hendak menghadap Bu Kek Siansu yang mulia dan mohon belas kasihannya.” ja­wab murid kepala Bu-tong-pai dengan suara merendah, sebagai seorang hwesio tidak malu-malu untuk minta-minta.

“Karena beliau seorang pendeta To, sudah selayaknya kalau kami datang mo­hon diberi penerangan,” jawab Ang Kun Tojin dengan angkuh.

“Belum tentu beliau seorang tosu, tadi pinceng mendengar beliau menyanyikan syair kitab Dammapada, bukankah itu membuktikan bahwa Bu Kek Siansu adalah seorang pendeta Buddha golongan kami?” bantah Leng Lo Hwesio dengan suaranya yang dan lambat.

Mendengar ini, diam-diam para anak murid Kun-lun-pai menjadi kaget, kagum dan juga khawatir. Nyanyian itu terde­ngar oleh mereka di lereng, masih amat jauh dari tempat ini, akan tetapi ternyata mereka yang berada di puncak ini juga mendengarnya. Bukan main! Peng­gunaan tenaga mujijat khi-kang yang di­salurkan pada suara nyanyian itu benar-benar sudah mencapai tingkat sempurna. Mereka khawatir karena kalau betul-betul Bu Kek Siansu seorang penganut Agama Buddha, tentu saja tipis harapan bagi mereka untuk bersaing dengan para hwe­sio itu.

“Ha-ha-ha, ji-wi Lihiap (Dua Pende­kar Tua) harap jangan salah duga dan menarik Siansu pada golongan masing-masing. Biarpun saya sendiri, seperti juga sahabat semua : selama hidup belum pernah bertemu muka dengan Bu Kek Siansu, namun sudah banyak saya mendengar tentang orang tua sakti itu. Beliau meng­akui semua agama, seperti sifat para dewa yang melindungi semua manusia tanpa pilih bulu. Tentu beliau seorang yang amat adil. Dan mengingat bahwa kami datang lebih dulu, yang pertama di tempat ini, sepatutnya kami yang mendapat perhatian lebih dulu. Siapa cepat dia dapat, bukan?”

Ang Kun Tojin melangkah maju dan membantah, “Sicu dan saudara-saudara dari Hoa-san bukanlah orang-orang yang mencari kesempurnaan batin, melainkan jasmaniah, hidup sebagai petani-petani yang bahagia. Ilmu Silat Hoa-san-pai juga sudah tersohor di ko­long langit. Untuk apa pula mohon petun­juk Siansu? Tentu bukan untuk urusan kebatinan, akan tetapi kalau hendak mohon petunjuk tentang ilmu silat : untuk apakah pula? Pekerjaan petani tidak membutuhkan ilmu silat terlalu tinggi.”

“Ucapan Toyu benar,” sambung Leng Lo Hwesio, “bagi pendeta-pendeta seperti kami dan para tosu Kun-lun, tentu saja amat membutuhkan petunjuk tentang ke­batinan dari Siansu. Akan tetapi para Sicu (Orang Gagah) dari Hoa-san, tak mungkin hendak minta petunjuk tentang kerohanian. Kalau mereka hendak minta petunjuk tentang ilmu silat, pinceng (saya) kira Siansu juga akan memberi petunjuk, jika melihat bahwa Ilmu Silat Hoa-san-pai masih amat rendah.”

Ucapan ini biarpun terdengar mem­bela namun mengandung sindiran yang memandang rendah tingkat Ilmu Silat Hoa-san-pai. Memang hwesio murid kepala Bu-tong-pai ini berwatak keras dan kaku, juga tidak biasa menyembunyikan apa yang dipikirnya.

“Leng Lo Suhu benar-benar meman­dang rendah kami dari Hoa-san-pai!” tiba-tiba orang ke lima dari Hoa-san-pai membentak sambil melompat maju. Dia adalah Kok Ceng Cu, seorang yang bertubuh tinggi tegap, berwajah tampan dengan sepasang mata tajam bersinar-sinar, usianya sekitar tiga puluh tahun.

“Sama sekali tidak memandang ren­dah,” bantah Leng Lo Hwesio, “hanya pin­ceng sering kali mendengar bahwa Hoa-san-pai mengutamakan tenaga luar dan penggunaan kaki tangan dalam ilmu silat tidak begitu mementingkan kekuatan dalam. Padahal, Bu Kek Siansu adalah seorang ahli kebatinan dan tentu saja petunjuknya akan berhubungan erat de­ngan kebatinan, maka tidak akan cocok dengan Sicu sekalian.”

“Tidak memandang rendah akan tetapi sama sekali tidak menghargai kepandaian lain orang. Sama saja! Leng Lo Suhu, kami dari Hoa-san-pai memang masih rendah pengetahuan, tidak ada sesuatu yang patut dibanggakan apalagi disom­bongkan. Akan tetapi, saya akan merasa takluk kalau seorang di antara para Lo­suhu dari Bu-tong-pai dapat melebihi apa yang akan saya perlihatkan!” Kok Ceng Cu yang masih berdarah panas dan tidak tahan mendengar partainya dipandang ringan, segera melangkah lebar mendekati sebuah batu gunung yang berwarna putih. Batu ini sebesar perut kerbau, beratnya tidak kurang dari lima ratus kati. Se­perempat bagian dari batu ini terpendam dalam tanah, kokoh kuat dan untuk men­cabutnya keluar kiranya dibutuhkan sedikitnya tenaga seribu kati.

Kok Ceng Cu memasang kuda-kuda di dekat batu, kedua tangannya merangkul dari kanan kiri, lalu dengan sebuah teriakan keras ia mengerahkan tenaga menjebol dan.... batu itu terangkat ke atas terus diangkat ke atas kepalanya. Otot-otot kedua lengannya tersembul keluar, lehernya mendadak menjadi besar, namun wajahnya yang tampan itu tidak berubah, tetap tenang dan tersenyum. Fihak Bu-tong-pai dan Kun-lun-pai memandang kagum. Sebagai ahli-ahli silat tingkat tinggi, mereka maklum bahwa untuk mengangkat batu seberat itu mengandalkan tenaga luar, bukanlah hal yang mudah dilakukan. Selain membutuhkan latihan tekun dan lama, juga harus me­miliki bakat alam, yaitu tenaga yang besar dan hal ini hanya dapat dimiliki oleh seorang laki-laki yang selama hidup tetap membujang. Melihat keadaan wajah Kok Ceng Cu, terang bahwa jago Hoa-san-pai ini biarpun usianya sudah tiga puluh tahun lebih, ternyata dia masih bujang, jejaka tulen!

“Tenaga gwa-kang (tenaga luar) Sicu hebat sekali, pinceng kagum!” kata Leng Lo Suhu dengan sejujurnya. Akan tetapi hal ini memanaskan perut Leng Hi Hwesio, murid ke empat dari Bu-tong-pai. Biarpun usianya sudah enam puluh tahun, hwesio keempat dari Bu-tong-pai ini wataknya keras dan tidak mau kalah. Ia segera melompat maju mendekati Kok Ceng Cu dan berkata nyaring.

“Main-main dengan batu mati ini apa sih anehnya? Sicu, kalau kau sudah le­lah dan bosan, boleh operkan batu itu pada pinceng!”

Tadinya Kok Ceng Cu merasa bangga akan pujian murid tertua Bu-tong-pai, akan tetapi melihat dan mendengar sikap dan kata-kata hwesio ke empat ini, diam-diam ia merasa penasaran juga kaget. Apakah hwesio yang kurus kering ini dapat mempergunakan tenaga seperti dia? Ia berseru keras dan kedua lengan­nya bergerak ke bawah lalu ke atas, me­lontarkan batu besar itu kepada Leng Hi Hwesio sambil berseru.

“Losuhu terimalah!”

Batu berat itu meluncur ke arah hwesio Bu-tong-pai, kalau menimpa kepala tentu akan remuk. Namun, dengan tenang hwesio ini menggerakkan kedua tangannya, menerima batu itu dengan gerakan indah. Kiranya ia telah menggunakan gerakan Dewa Menyambut Mustika, begitu kedua telapak tangannya menempel pada batu, ia meminjam tenaga lontaran tadi, dan terus mengayun batu ke bawah, ke atas lagi, dan melontarkannya ke atas, diterima lagi, diayun dan dilontar­kan lagi ke atas sampai lima kali. Keti­ka untuk ke lima kalinya batu itu me­nimpa turun, ia menggunakan gerakan menyabet dengan kedua tangan miring. Batu itu melenceng ke samping, terban­ting ke atas tanah sampai amblas hampir setengahnya. Inilah gerak pukulan Pukul Roboh Gunung Hitam, sebuah jurus ilmu Silat Bu-tong-pai yang lihai.

Terdengar tepuk tangan memuji dari para tosu Kun-lun-pai. “Siancai, siancai, ilmu pukulan Bu-tong-pai benar-benar hebat!” seru Ang Kun Tojin. Akan tetapi Pek Sin Tojin, murid ke lima Kun-lun-pai yang bertahi lalat pada ujung hidung­nya, menjadi penasaran melihat betapa dua orang dari rombongan Hoa-san-pai dan Bu-tong-pai seakan-akan mendemonstrasikan kepandaian. Kalau dari fihak Kun-lun-pai tidak ada yang bergerak, jangan-jangan fihaknya akan dipandang rendah. Ia melangkah maju mendekati batu itu, berkata,

“Siancai, batu terbanting keras jangan-jangan banyak cacing yang akan tertimpa remuk.” Kaki kanannya bergerak mencongkel dan.... batu itu menggelinding keluar dari dalam tanah, sampai lima kaki lebih jauhnya. Gerakan ini saja membuktikan betapa lihainya para tosu Kun-lun-pai.

Yang paling berangasan di antara semua orang adalah Kok Ceng Cu. Ia mengeluarkan suara ejekan dari hidung­nya, “Hemmm, semua memamerkan te­naga dalam yang mengandalkan tenaga pinjaman, bukan tenaga aseli dari otot dan urat. Biarpun kami dari Hoa-san-pai hanya melatih otot untuk memper­kuat tubuh, namun permainan lwee-kang (tenaga dalam) seperti itu juga bukan hal aneh.” Ia tidak melakukan tantangan, namun kata-katanya ini jelas mengangkat golongan sendiri dan tidak memandang tinggi dua rombongan lain. Juga ia ber­diri dengan dada terangkat, kedua kaki­nya memasang kuda-kuda dengan sikap seolah-olah ia siap menghadapi siapa saja yang berani melawannya!

Tentu saja sikap ini memanaskan hati fihak Kun-lun-pai dan Bu-tong-pai, apalagi fihak Bu-tong-pai. Kalau saja Ang Kun Tojin dan Leng Lo Hwesio tidak memberi isyarat dengan pandang mata, tentu ada tosu Kun-lun dan hwesio Bu-tong yang melompat maju untuk meng­hadapi Kok Ceng Cu. Pada saat itu ter­dengar suara tertawa nyaring dan merdu. Semua orang menjadi kaget, memandang ke kanan kiri, namun tidak tampak se­orang pun manusia. Padahal jelas sekali tadi terdengar suara ketawa seorang wanita, terdengar dekat sekali, bahkan suara pernapasan di antara kekeh tawa itu dapat mereka dengar.

“Omitohud!” Leng Lo Hwesio menge­luarkan suara sambil merangkapkan ke­dua telapak tangan di depan dada. “Sicu mengeluarkan sikap menantang, membikin marah dewi penjaga gunung!”

“Kita datang untuk mohon pelajaran kebatinan kepada Bu Kek Siansu, saudara-saudara dari Hoa-san-pai memperlihatkan kekerasan, sungguh lucu sehingga ditertawakan oleh segala mahluk halus,” kata pula Ang Kun Tojin, namun diam-diam ia merasa gelisah karena ia dapat menduga bahwa yang mengeluarkan suara ketawa itu sudah pasti seorang yang memiliki kesaktian luar biasa. Terang bukan Bu Kek Siansu, juga bukan yang bernyanyi tadi, karena suara ketawa ini adalah suara wanita.

“Kami orang-orang Hoa-san-pai tidak takut terhadap segala siluman!” Kok Ceng Cu berkata keras sambil melirik ke kanan kiri.

“Sute, jangan bicara begitu....” Kok Bin Cu mencela adik seperguruan yang berangasan itu.

Akan tetapi suaranya terhenti ketika tiba-tiba pada saat itu terdengar lagi suara ketawa dan kini tahu-tahu di depan mereka telah berdiri seorang wanita yang amat cantik. Dia datang begitu saja seperti muncul dari dalam bumi, tidak tampak datangnya, tahu-tahu sudah ber­diri di depan Kok Ceng Cu sambil ter­tawa terkekeh-kekeh, bibirnya yang me­rah dan lembut itu terbuka, tampak dua deretan gigi yang putih seperti mutiara berbaris.

Empat belas orang itu memandang dengan mata terbelalak. Sungguh seorang wanita yang amat cantik, dilihat dari wajahnya yang segar berseri itu agaknya belum dua puluh lima tahun usianya, na­mun sikap dan gerak-geriknya memba­yangkan kepribadian yang kuat dan ber­wibawa, tenang dan tabah, sikap masak seorang tokoh besar. Pakaiannya dari sutera tipis berwarna putih sehingga terbayang baju dalam yang berwarna merah muda. Sepasang kakinya tertutup sepatu kulit mengkilap, berwarna hitam. Yang menarik hati dan mengerikan ada­lah rambutnya. Rambut hitam gemuk, panjang sampai hampir menyentuh tanah di belakangnya, sebagian lagi terurai ke depan dari kanan kiri lehernya. Tubuhnya padat berisi, kulit leher, tangan dan mukanya halus den putih seperti salju. Wanita yang cantik jelita, bersinar matar bengis, dengan mulut yang selalu meng­ejek tampaknya dan diselubungi sesuatu yang aneh mengerikan. Begitu ia muncul, tercium bau harum seperti taman bunga.

“Hi-hi-hik, kiranya jejaka tampan yang mengeluarkan tantangan. Wah, un­tungku hari ini! Orang muda yang penuh tenaga dan hawa murni, kau dari golongan mana?”

Kok Ceng Cu biarpun sudah berusia tiga puluh tahun lebih, namun tak pernah berdekatan dengan wanita. Memang ia tidak suka akan wanita dan sudah ber­sumpah akan tetap membujang seumur hidup. Kini menghadapi wanita cantik aneh yang sikapnya sombong, ketawanya terbuka tanpa mengenal sopan dan susila ini, ia menjadi marah sekali.

“Wanita tak bersopan! Aku tidak suka bicara denganmu, akan tetapi kalau kau ingin tahu, aku Kok Ceng Cu murid ke lima dari Hoa-san-pai. Sudahlah, pergi jangan menambah muak dengan ketawa-ketawa seperti siluman!”

“Hi-hi-hik, jejaka murni, nyalinya kuat. Bagus, bagus, kebetulan sekali. Eh, Kok Ceng Cu, kulihat tadi kau meng­angkat batu kecil ini, entah apa kau kuat menerima lemparan dariku?” Tanpa menanti jawaban, wanita ini menggerakkan kepalanya dan.... rambutnya yang indah dan panjang itu bergerak seperti hidup ke arah batu gunung putih di de­katnya yang tadi dipakai main-main oleh orang-orang sakti itu. Begitu cepat gerakkannya dan tahu-tahu batu itu telah terlempar ke arah Kok Ceng Cu. Benar-benar membuat semua orang bengong terlongong. Bagaimana rambut indah panjang itu dapat dipergunakan untuk mengangkat dan melempar batu yang beratnya lima ratus kati lebih?

Akan tetapi Kok Ceng Cu tidak sem­pat berheran. Melihat datangnya batu ke arah kepalanya, ia cepat menggerakkan kedua lengan, menangkap batu itu dan mengerahkan tenaganya, melemparkan batu itu kembali kepada wanita tadi sambil berseru membentak, “Siluman jahat, terimalah kembali!”

Lemparan Kok Ceng Cu dilakukan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya, akan hehat sekali akibatnya kalau wanita itu tertimpa. Agaknya wanita aneh ini tidak mempedulikan datangnya batu, ha­nya mengangkat lengan kiri menangkis. Terdengar suara keras dan batu itu terlempar ke kiri, pecah menjadi dua!

Kejadian ini benar-benar membuat semua orang terkejut, dan sekaligus mak­lumlah mereka bahwa wanita ini ternyata memiliki kepandaian yang amat luar biasa. Juga Kok Ceng Cu sadar akan hal ini, namun penyesalannya terlambat. Sambil terkikik-kikik ketawa wanita itu kembali menggerakkan kepalanya dan kini rambutnya terurai meluncur ke depan dan di lain saat kedua pergelangan le­ngan dan leher Kok Ceng Cu sudah terlibat rambut. Betapapun murid ke lima dari Hoa-san-pai ini mengerahkan seluruh tenaganya untuk melepaskan diri, usaha­nya sia-sia seakan-akan seekor latat yang berusaha melepaskan diri daripada sarang laba-laba, meronta-ronta tanpa hasil, malah rambut-rambut itu makin erat mengikat tangan dan mencekik leher.

“Hi-hi-hik, berontaklah, makin keras makin baik agar darahmu berjalan lebih kencang!” Sambil terkekeh wanita itu kembali menggerakkan kepalanya. Tubuh Kok Ceng Cu tersentak ke depan, ber­putar dan tak dapat dicegah lagi men­dekati wanita itu. Tiba-tiba wajah wanita cantik itu menjadi beringas, matanya bersinar-sinar, mulutnya terbuka dan.... cepat sekali mulutnya mendekati tengkuk leher Kok Ceng Cu dan menggigitnya, terus mengisap! Kok Ceng Cu mengeluar­kan jerit mengerikan, mukanya menjadi pucat kehijauan dan beberapa detik ke­mudian nyawanya telah melayang meninggalkan badannya!

“Siluman keji....!” Kok Bin Cu dan tiga orang adik seperguruannya bergerak maju, menerjang wanita itu. Akan tetapi mereka terhuyung mundur dan tubuh Kok Ceng Cu yang sudah dingin terlempar ke arah mereka, diiringi suara ketawa wa­nita itu. Melihat keadaan Kok Ceng Cu yang sudah menjadi mayat, Kok Bin Cu cepat menyambar dan memeluk adik termuda ini dengan penuh kesedihan.

Adapun tiga orang adik seperguruannya yang lain berdiri dengan sikap siap, na­mun ragu-ragu untuk menerjang tanpa perintah Kok Bin Cu. Mereka maklum akan kelihaian wanita siluman ini dan menjadi gentar juga.

“Cuh! Cuhhhhh!” suara orang meludah dan Leng Hi murid ke empat Bu-tong-pai menyumpah-nyumpah karena mukanya terkena ludah kental yang tak diketahui dari mana datangnya.

“Ho-ho-hah, Siang-mou Sin-ni jangan berpesta seorang diri!” Suara laki-laki seperti tambur bobrok ini terdengar dan orangnya sekaligus tampak seorang berpakaian pengemis, sudah tua dan bong­kok, mukanya pucat seperti mayat, ram­butnya panjang sampai ke pundak, awut-awutan dan riap-riapan kotor, mata kiri­nya buta, mata kanannya lebar mem­belalak. Pakaiannya kotor dan penuh tambalan, hanya sepasang sepatunya ma­sih baru. Ia memegang sebatang tongkat butut, berdiri di situ dengan punggung agak bongkok.

Dilihat sepintas lalu, ia hanya seorang pengemis kotor biasa saja, malah se­orang pengemis yang tidak normal, se­tengah gila. Hal itu tampak pada muka­nya yang mengerikan, apalagi mulutnya yang lebar dan selalu sedikit terbuka, memperlihatkan sebuah gigi besar, gigi yang hanya satu-satunya dalam mulut tua.

Kembali ia meludah, “Cuh-cuh-cuh!” ke kanan kiri, menjijikkan sekali.

Melihat ini, Leng Li Hwesio marah, “Orang tua jorok (kotor), kaukah yang meludahi pinceng tadi?”

“Ho-ho-hah-hah, aku memang suka meludah, biasa meludahi anjing korengan dan kucing kudisan. Lebih suka lagi me­ludahi keledai gundul, cuh-cuh!” Mukanya menghadap ke bawah dan ia meludah ke bawah, akan tetapi anehnya, dua kali meludah, dua kali muka Leng Hi Hwesio yang berada di sebelah kanannya dalam jarak tiga meter itu terkena sambaran ludah kental yang sebagian memasuki lubang hidungnya. Entah bagaimana ludah itu bisa terbang menyeleweng dan miring.

Kakek pengemis itu berjingkrak ke­girangan bertepuk-tepuk tangan sambil tertawa. “Ha-ho-hoh! Bagus sekali. Ke­ledai Bu-tong memang baik menjadi tem­polong ludah!”

“Jahanam hina!” Leng Hi Hwesio mana dapat menahan kesabarannya? Dengan kemarahan meluap-luap ia sudah men­cabut pedangnya dan menerjang pengemis itu.

“Ho-ho-ha-hah, untung besar hari ini bisa meludahi mampus keledai Bu-tong!” Tiba-tiba terdengar suara keras dan pe­dang di tangan Leng Hi Hwesio sudah terlempar jauh, menimpa batu gunung dan patah menjadi dua. Kemudian kakek pengemis itu meludah terus dan tiap kali meludah, Leng Hi Hwesio berseru ke­sakitan. Hujan ludah itu mengenai tubuh­nya, akan tetapi tidak hanya membikin kotor seperti tadi, kini terasa seperti pukulan-pukulan keras yang tepat me­ngenai jalan darah di tubuhnya. Tiap kali kakek itu meludah dan mengenai tubuh­nya, ia berteriak mengaduh, kemudian ia menggulingkan tubuh untuk menghindarkan diri. Namun kakek itu terus me­ludah, makin keras agaknya karena kini tubuh Leng Hi Hwesio bergulingan seper­ti seekor cacing terkena abu panas dan dari telinga dan hidungnya keluar darah segar!

“Pengemis keji, lepaskan Sute kami!” Leng Lo Hwesio dan dua orang adik se­perguruannya cepat mencabut pedang dan menerjang pengemis itu. Akan tetapi pengemis itu mengangkat tongkatnya, sekaligus tiga batang pedang itu ter­tangkis dan terpental. Sungguhpun tiga orang hwesio kosen itu tidak sampai melepaskan pedang masing-masing, namun mereka merasakan telapak tangan mere­ka sakit dan panas. Terkejutlah mereka. Bu-tong-pai terkenal dengan ilmu pedang yang digerakkan dengan tenaga lwee-kang, kuat bukan main. Akan tetapi sekarang sekali tangkis saja kakek ini dapat mem­buat pedang mereka terpental. Padahal mereka adalah orang-orang yang men­duduki tingkat dua, tiga, dan empat di Bu-tong-pai, yang paling lihai di bawah suhu (guru) mereka!

Sementara itu, kakek itu terus me­ludahi tubuh Leng Hi Hwesio yang kini sudah tak dapat bersambat atau bergerak lagi. Hebatnya, kepala yang gundul itu kini bolong-bolong dan dari situ keluar darah bercampur otak. Hwesio ke empat ini sudah tewas!

“Mana orang Kun-lun! Mana tosu-tosu bau dari Kun-lun?” tiba-tiba terdengar suara dan kali ini suara itu terdengar dari.... bawah! Terlalu hebat peristiwa yang terjadi berturut-turut itu, dan para tosu Kun-lun-pai masih tercengang dan ngeri menyaksikan kematian seorang anggauta rombongan Hoa-san-pai dan seorang hwesio Bu-tong-pai. Sekarang mendengar bentakan dari bawah tanah ini, mereka seketika menjadi pucat dan cepat memandang ke arah suara. Tentu saja pandang mata mereka tertuju ke bawah, karena dari situlah munculnya suara.

“Hi-hi-hik, It-gan Kai-ong! Dengar itu, Si Tengkorak Hidup Hek-giam-lo juga datang. Bakal ramai sekarang!” Wanita rambut panjang tadi kini tertawa dan Si Pengemis Mata Satu juga tertawa dan meludah ke kanan kiri.

“Bagus, dan kebetulan orang-orang Kun-lun berada di sini. Baik sekali. Hayo, Hek-giam-lo tengkorak busuk, perlihatkan diri, apa kau gentar melihat banyak orang Kun-lun-pai?”

Mendengar disebutnya Hek-giam-lo, muka Ang Kun Tojin makin pucat. Ia belum pernah bertemu dengan Hek-giam-lo, akan tetapi ia mengenal nama ini yang oleh gurunya disebut sebagai se­orang tokoh hitam yang amat keji dan jahat, malah ada bibit permusuhan de­ngan Kun-lun-pai, yaitu musuh dari men­diang kakek guru Ang Kun Tojin.

Terdengar suara menggereng seperti harimau dari dalam tanah dan tiba-tiba tanah berikut batu berhamburan terbang dan tahu-tahu tanah itu sudah berlobang besar. Dari dalam lubang meluncur caha­ya seperti kilat yang terbang ke arah lima orang tosu Kun-lun-pai.

Para tosu ini bukanlah orang-orang sembarangan. Tingkat ilmu silat mereka seperti juga orang-orang Hoa-san-pai dan Bu-tong-pai itu, sudah mencapai taraf tinggi sekali. Sekali pandang saja mereka maklum bahwa yang menyambar ini ada­lah sebuah senjata yang amat tajam dan runcing, yang disusul melesatnya bayangan hitam. Cepat mereka berlima melompat ke belakang, mencabut pedang dan menangkis.

“Trang-trang-trang....!” terdengar bunyi nyaring. Bunga api berhamburan disusul melayangnya tiga batang pedang, yaitu tiga batang di antara lima pedang yang bertemu dengan senjata berkilauan itu. Kemudian terdengar jerit mengerikan dan Pek Sin Tojin, tosu yang bertahi lalat pada hidungnya, telah roboh mandi darah. Dari leher sampai ke perutnya terdapat luka goresan yang panjang, luka kulit saja akan tetapi amat mengerikan. Apalagi kalau mereka melihat lawan mereka yang kini sudah berdiri di depan mereka, benar-benar mendirikan bulu roma.

Dia seorang yang tubuhnya sedang saja, malah agak kurus. Seluruh badan, kecuali sepasang tangan yang kecil kurus, terbungkus pakaian serba hitam. Mukanya adalah muka tengkorak, tulang putih mengerikan dengan dua lobang mata hitam, kepala tengkorak tertutup topi runcing hitam, kedua kakinya memakai sepatu hitam pula. Di tangannya tampak sebuah senjata sabit yang amat tajam dan runcing, agak melengkung.

Senjata sabit itu kini bergerak-gerak ke arah tubuh Pek Sin Tojin, sekali ber­kelebat tentu kulit tubuh tosu itu ter­iris robek. Pek Sin Tojin menggeliat-geliat, bergulingan, darah memenuhi tu­buh dan mukanya, namun sabit itu terus bergerak, makin lama makin cepat. Em­pat orang tosu Kun-lun-pai menerjang lagi, yang dua orang termasuk Ang Kun Tojin menggunakan pedang, yang dua orang lagi karena pedangnya terlempar, menerjang dengan kepalan. Akan tetapi hebatnya, si tengkorak ini hanya meng­gerak-gerakkan tangan kirinya dan semua serangan itu tertangkis oleh ujung lengan bajunya. Adapun sabit di tangan kanan­nya terus bergerak, mengiris-iris kulit tubuh Pek Sin Tojin sampai cobak-cabik.

Kekejaman yang mendirikan bulu roma. Pek Sin Tojin tak dapat mengerang lagi, tubuhnya berkelojotan, lalu diam. Gerakan sabit juga berhenti dan kini sabit itu berkelebatan menghadapi empat orang Kun-lun-pai yang mengeroyoknya.

Sementara itu, orang-orang Bu-tong-pai sudah bergerak mengeroyok si kakek pengemis yang melayani tiga orang kosen Bu-tong-pai ini sambil meludah-ludah dan memaki-maki.

Di lain fihak, empat orang Hoa-san-pai juga mengeroyok si wanita rambut panjang yang melayani mereka sambil terkekeh-kekeh genit. Sungguh pertempur­an yang amat seru namun tidak seimbang kekuatannya. Seperti tiga ekor harimau buas dikeroyok serombongan kelinci saja. Sabit di tengan tengkorak hidup itu menyambar seperti halilintar dan sebentar saja, dua orang tosu Kun-lun-pai sudah menggeletak dengan tubuh terbacok ham­pir putus menjadi dua potong, sedangkan Ang Kun Tojin dan seorang sutenya sudah luka-luka pula.

Juga wanita mengerikan yang bernama Siang-mou Sin-ni (Dewi Rambut Harum) telah menewaskan dua orang Hoa-san-pai dengan cambukan-cambukan rambutnya. Wanita ini hanya berdiri te­gak, kepalanya digerak-gerakkan dan rambutnya melayang-layang di sekitar tubuhnya, menangkis senjata dan meng­hantam lawan. Jangan dipandang rendah rambut ini, karena ketika menghantam lawan, rambut halus dan berbau harum itu seakan-akan telah berubah menjadi kawat baja yang amat kuat.

It-gan Kai-ong (Raja Pengemis Mata Satu), meludah-ludah dan memaki-maki. Ludahnya membikin buta seorang lawan yang terus ditusuk tongkat kepalanya sehingga mati seketika. Leng Lo Hwesio mengerahkan seluruh Ilmu Pedang Bu-tong Kiam-hoat, namun sama sekali tak berdaya menghadapi sinar tongkat kakek itu.

Mereka semua maklum bahwa kalau dilanjutkan, mereka semua pasti akan tewas. Seperti ada yang memberi koman­do, Ang Kun Tojin, Kok Bin Cu, dan Leng Lo Hwesio melompat pergi mening­galkan para sutenya yang sudah tewas.

Mereka pun menderita luka-luka berat. “Ha-ha-ho-ho! Siang-mou Sin-ni, Hek-giam-lo, biarkan mereka pergi untuk memberi tahu kepada partai masing-masing!”

“Tak usah kau ngoceh, pengemis picak!” Siang-mou Sin-ni mencibirkan bibirnya yang merah sambil mengebut-ngebutkan rambutnya yang panjang dengan cermat. “Kalau aku mau, apa kau­kira tua bangka Hoa-san itu bisa pergi hidup-hidup?”

“Ho-ho-hah! Bagaimana, Hek-giam-lo, puas kau hari ini dapat membunuh empat orang tokoh Kun-lun?” Pengemis itu berpaling kepada si tengkorak.

“Aku datang ke Thai-san bukan untuk itu,” Hek-giam-lo Si Tengkorak Hidup menjawab pendek.

“Hi-hik, untuk apalagi kalau bukan untuk minta sesuatu dari Bu Kek Siansu? Iihhh, Hek-giam-lo, sejak kapan kau ikut-ikut menjadi pengemis seperti pengemis picak ini?” Siang-mou Sin-ni mengejek. Akan tetapi Hek-giam-lo tidak menjawab, hanya mendengus marah.

“Ho-hah, setan cilik, lidahmu benar-benar lemas, bibirmu halus mengandung madu, tapi ludahmu seperti butrawali dan mrica! Kau sendiri datang pada permula­an musim semi, apakah akan memberi selamat panjang umur kepada setan gu­nung? Ho-ho, kau sendiri juga akan mengemis ilmu, bukan?”

“Cih, mulutmu bau busuk, pengemis kotor! Aku mendengar bahwa Bu Kek Siansu akan muncul di dunia. Aku hendak melihat apakah dia dapat menghadapi rambutku, kalau dapat, baru aku mau mengangkatnya sebagai guru, bukan me­ngemis seperti kau!”

“Ha-ha, silat lidah! Menjadi murid dan mengemis ilmu, apa bedanya? Malu-malu kucing segala, cuh!” It-gan Kai-ong me­ludah ke dekat kakinya dan batu di dekatnya berlubang oleh ludah itu! “Bukan­kah begitu, Hek-giam-lo?”

Si tengkorak hidup tidak menjawab, tidak mengangguk atau menggeleng ha­nya mengeluarkan suara, “Huhhh!”

“Ihhh, menyebalkan si tengkorak busuk ini. Apa mendadak menjadi bisu? Apakah ingin menyembunyikan suara seperti ber­tahun-tahun ia menyembunyikann mukanya? Wah, alangkah inginku merenggut lepas kedok tengkorak itu dan melihat apakah dia laki-laki atau wanita, kalau laki-laki tampan atau buruk, muda atau tua!”

“Hemmm....” Tengkorak hidup itu mundur selangkah, mukanya menghadap Siang-mou Sin-ni dan senjata sabitnya yang mengerikan itu diangkat ke atas, agaknya siap bertempur.

It-gan Kai-ong berjingkrak-jingkrak tertawa dan bertepuk-tepuk tangan. “Bagus, bagus....! Aku pun mempunyai keinginan yang amat sangat, yaitu melihat kalian bertempur mengadu ilmu. Alang­kah akan ramainya, entah siapa yang hanya bernama kosong belaka. Siang-mou Sin-ni ataukah Hek-giam-lo. Hayo, mulailah!”

Sejenak Siang-mou Sin-ni ragu-ragu, kepalanya sudah tegang, agaknya ia hen­dak menggerakkan rambutnya menerjang. Akan tetapi matanya melirik ke arah pengemis tua itu, lalu tiba-tiba ia tertawa terkekeh-kekeh. “Hi-hi-hik, penge­mis tua busuk, kau hendak akali kami berdua, ya? Kau mengadu kami, biar keduanya mampus atau payah, baru kau turun tangan dan dapat memonopoli atas ilmu-ilmu dari Bu Kek Siansu. Begitukah? Akal bulus!”

“Kalian mau saling gempur atau sa­ling cinta, apa sangkut-pautnya dengan aku? Habis, kau mau apa?” Kakek itu merengut, kesal.

“Kita bertiga harus menentukan siapa paling unggul, dia berhak menemui Bu Kek Siansu. Yang kalah dinyatakan tidak berharga dan harus minggat.”

“Setuju!” jawab It-gan Kai-ong. “Kau bagaimana?” tanyanya kepada Hek-giam-lo. Yang ditanya hanya mengangguk, tetap berdiri memasang kuda-kuda, sikapnya amat bercuriga dan tidak percaya kepada dua orang di depannya itu.

Tiga orang sakti itu berdiri memasang kuda-kuda, saling pandang dengan sinar mata penuh kebencian. Mereka seakan-akan tiga ekor harimau yang siap me­nanti datangnya terjangan lawan, tegang sampai ke bulu-bulunya, akan tetapi terlalu hati-hati untuk bergerak lebih dahulu karena maklum bahwa lawan amatlah hebat, siapa terlena dia akan sirna.

Tiba-tiba Siang-mou Sin-ni melengking tinggi dan rambutnya bergerak seperti sinar hitam menyambar ke arah Hek-giam-lo. Hanya satu atau dua detik se­lisihnya dengan gerakan It-gan Kai-ong yang menggunakan tongkat menyerang wanita ini, dan gerakan Hek-giam-lo yang menggunakan sabit menerjang It-gan Kai-ong. Sekaligus tiga orang itu telah menyerang dan diserang. Sekaligus pula mereka mendengus nyaring dan mengelak dengan lompatan kilat ke samping. Kini mereka berdiri lagi memben­tuk segi tiga, memasang kuda-kuda dan tidak bergerak. Suara desingan senjata mereka yang menyambar tadi masih ter­dengar gemanya, mengaung dari dalam jurang di dekat situ.

Amat tegang seluruh urat syaraf, ke­tiga orang itu sodah siap untuk melaku­kan terjangan atau menghadapi serangan lagi. Akan tetapi tiba-tiba wajah mereka bergerak dan perhatian mereka tertarik­ oleh bunyi suling yang amat luar biasa. Sesaat bunyi suling itu semerdu kicau burung di waktu pagi hari menyongsong munculnya sang matahari, akan tetapi pada saat lain terdengar seakan-akan halilintar menyambar-nyambar membelah gunung, pada detik ini terdengar gembira seperti suara bidadari tertawa merdu, pada lain detik seperti tangis wanita yang ditinggal mati suaminya.

“Tunda dulu urusan kita,” kata It-gan Kai-ong.

“Kita lihat siapa yang datang,” sam­bung Siang-mou Sin-ni mengangguk.

Hek-giam-lo hanya mengangguk dan menurunkan sabitnya. Makin lama suara suling terdengar makin nyaring, seolah-olah penyulingnya berjalan perlahan men­dekati tempat itu. Tiga orang sakti ini menjadi tegang hatinya, mereka men­duga-duga. Nama besar Bu Kek Siansu yang dipuja-puja seluruh tokoh kang-ouw, sudah banyak kali mereka dengar, namun selama hidup mereka belum pernah melihat orangnya. Apakah kakek sakti itu yang muncul sekarang sambil meniup suling?

Tak lama kemudian muncullah si peniup suling dari balik batu besar, ber­jalan dengan tenang perlahan menuju ke puncak sambil meniup suling yang di­pegang dengan kedua tangannya. Suling itu berkilauan tertimpa matahari dan mudah diduga babwa benda ini terbuat daripada emas murni. Peniupnya seorang laki-laki tinggi tegap, tampan dan gagah, berusia antara tiga puluh tahun. Pakaian­nya seperti pakaian seorang pelajar, dengan ikat pinggang sutera dan tali pe­nutup kepala melambai panjang. Pakaian orang ini hanya bentuknya saja seperti pakaian pelajar, juga topinya, akan tetapi warna sepatu, pakaian, dan topinya hi­tam, kecuali ikat pinggang dan pinggiran jubah, berwarna kuning. Di bagian dada bajunya yang hitam itu tampak lukisan sebuah suling emas di atas dasar bulatan merah muda seperti bulan purnama.

“Iihhh.... gantengnya....!” Siang-mou Sin-ni memuji, matanya memandeng pe­nuh gairah kepada wajah yang tampan itu.

“Inikah orangnya yang memakai nama Suling Emas....?” It-gan Kai-ong berkata perlahan seperti pada diri sendiri. Ada­pun Hek-giam-lo hanya mengeluarkan suara mendengus marah.

Sementara itu, laki-laki muda ber­suling itu sudah melihat adanya tiga orang aneh di puncak, juga adanya ma­yat-mayat berserakan di sekitar tempat itu. Suara sulingnya berhenti, benda itu ia selipkan pada ikat pinggang dan kedua kakinya melangkah lebar dan cepat ke tempat itu. Keningnya berkerut, sepasang alis yang tebal hitam itu seakan-akan bersambung menjadi satu.

“Keji sekali....!” Ia bersungut-sungut tanpa mempedulikan tiga orang itu.

“Kami yang membunuh mereka. Kau mau membela?” ejek It-gan Kai-ong me­nantang.

Dia tersenyum, menoleh kepada pe­ngemis mata satu dan berkata dengan suara tenang berwibawa, “Kalian membunuh orang, tidak ada sangkut-pautnya dengan aku, aku tidak peduli, bukan urusanku. Akan tetapi andaikata tadi aku berada di sini, jangan harap kalian me­ngumbar kekejaman sesuka hati.”

Setelah berkata demikian, orang ini lalu menghampiri Hek-giam-lo, meman­dang sejenak dan berkata. “Kau Hek-giam-lo, bukan? Beri pinjam senjatamu sebentar, aku hendak mengubur mayat-mayat itu.”

Hek-giam-lo mendengus dan melangkah mundur, sabitnya ia angkat ke atas kepala, siap menerjang. Orang muda itu tertawa mengejek.

“Kau takut aku melarikan senjatamu itu? Ha-ha, aku sering kali mendengar bahwa manusia iblis Hek-giam-lo memiliki kepandaian yang amat tinggi, kiranya ia hanya mengandalkan nyawanya kepada sebatang sabit, maka takut kehilangan senjatanya. Hek-giam-lo, sulingku ini dari emas, jauh lebih berharga daripada sabit­mu, baik harganya maupun kegunaannya. Kalau kau takut aku melarikan sabitmu, biar kau bawa dulu sulingku ini.”

Sebagai seorang tokoh besar dalam dunia persilatan, mana Hek-giam-lo mau menyerahkan senjatanya? Senjata yang diandalkan sama harganya dengan nyawa. Ia mendengus kembali, menggelengkan muka tengkoraknya.

Pemuda tinggi ganteng itu tersenyum lebar, tapi sepasang matanya mengeluar­kan sinar tajam. “Terimalah ini!” serunya dan suling di tangan kanannya itu tiba-tiba meluncur seperti halilintar menyam­bar, ke arah leher kiri Hek-giam-lo. Se­rangan ini cepat bukan main, juga tidak terduga karena gerakan suling itu dilihat dari depan seperti memutar, ujungnya membentuk lingkaran yang tidak dapat diterka ke mana akan mencari sasaran. Tiba-tiba, Hek-giam-lo melihat ujung suling sudah hampir menempel ulu hati­nya.

Namun ia memang lihai sekali. Sam­bil mengeluarkan suara gerengan seperti setan, tangan kirinya menyambar dari samping menangkap suling itu dan men­dorong ke kanan agar meleset daripada ulu hatinya, bagian yang berbahaya itu. Alangkah herannya ketika ia merasa betapa suling itu dengan mudah dapat ia renggut, malah agaknya dilepaskan oleh pemiliknya. Ia menduga akan adanya tipuan, akan tetapi terlambat karena pada saat itu, tenaga yang amat keras merampas sabitnya. Ia masih berusaha mempertahankan dengan tangan kanan, namun tiba-tiba suling di tangan kirinya itu bergerak hendak menusuk dadanya kembali. Terpaksa ia mengalihkan perhatian dan tenaganya ke tangan kiri yang mencengkcram suling, berusaha merampas suling untuk menyelamatkan diri. Lebih penting menyelamatkan diri daripada ancaman suling, baru kemudian berusaha merampas kembali senjatanya.

Pemuda itu tertawa sambil melompat mundur, sabit panjang sudah berada di tangannya. “Hek-giam-lo, terima kasih atas kebaikanmu. Hanya sebentar aku pinjam sabitmu, kalau sudah selesai akan kukembalikan.” Setelah berkata demikian, pemuda aneh ini lalu melirik ke kanan kiri beberapa lama, kemudian tiba-tiba ia meloncat ke kiri, sekali loncatan tubuh­nya melayang lebih sepuluh meter jauh­nya. Kiranya ia memilih tanah yang lunak di balik sebuah batu besar. Sabit di tangannya bergerak dan tampak sinar berkilauan ketika dengan cepatnya ia menggali tanah dengan sabit itu.

“Heh, kau tentu si muda sombong yang memakai nama Kim-siauw-eng (Pendekar Suling Emas)!” terdengar suara serak Si Muka Tengkorak. “Kembalikan senjataku.”

Suling Emas tidak menjawab, melain­kan menggali terus dengan cepat sekali sehingga sebentar saja di depannya telah tergali sebuah lubang besar. Namun ia masih menggali terus dengan cepat.

Sinar hitam yang lembut bergulung meluncur ke arah punggungnya. Sinar hitam ini datang dari Hek-giam-lo yang melepas senjata rahasianya yang disebut Hek-in-tok-ciam (Jarum Beracun Awan Hitam). Begitu hebat racun jarum-jarum yang jumlahnya tujuh batang ini sehingga mengeluarkan uap hitam seakan-akan awan yang membungkusnya ketika benda-benda kecil ini meluncur mencari korban.

Melihat Hek-giam-lo mempergunakan ilmunya melepas jarum, Siang-mou Sin-ni dan It-gan Kai-ong terkejut. Mereka berdua sudah mengenal baik hebatnya jarum-jarum itu. Sekarang Suling Emas yang ternyata hanya seorang pemuda masih hijau diserang dari belakang dan pemuda itu asyik bekerja menggali tanah, mana dapat ia menyelamatkan diri?

Suling Emas menggali dengan gerakan cepat dan aneh. Bukan hanya tangan kanan yang memegang sabit saja yang bergerak, malah semua tubuhnya ikut bergerak. Seorang petani akan menter­tawakannya karena cara ia mencangkul tanah menggunakan sabit amatlah lucu, meloncat ke sana ke mari, bergoyang-goyang dan terhuyung-huyung. Akan te­tapi kalau melihat hasil galian di depan­nya, orang akan bengong terlongong. Sepuluh orang tukang cangkul bekerja sama dengan cangkul yang baik sekalipun belum tentu akan dapat menggali lubang sedemikian besar dalam waktu demikian cepatnya.

Sekarang, tiga orang sakti itu yang menjadi kagum. Tanpa menoleh, Suling Emas masih tetap bekerja dan ketika gulungan awan hitam yang membungkus jarum-jarum beracun itu menghampirinya dan berpencar mengarah tujuh bagian jalan darah terpenting, ia masih saja bergerak-gerak menggali lobang. Namun kini di antara berkelebatnya sinar sabit yang putih, tampak bergulung-gulung sinar kebiruan yang mengeluarkan angin keras. Mendadak awan hitam itu membalik sampai tiga kaki jauhnya, Hek-giam-lo mengeluarkan suara geraman hebat dan awan hitam itu mendesak maju lagi, Si Muka Tengkorak berdiri setengah berjongkok, kedua tangannya dilonjorkan ke depan dan ia mengerahkan tenaga sin-kangnya untuk memberi dorong­an kepada senjata rahasianya.

Suling Emas menunda gerakannya menggali. Ia pun membalik dan kiranya di tangan kirinya terdapat sebuah kipas biru yang terdapat lukisan indah. Ia me­ngipaskan benda itu ke depan sambil berseru.

“Hek-giam-lo, aku terima tantangan­mu, akan tetapi tunggulah sebentar sam­pai selesai pekerjaanku.” Ia mengebutkan lagi kipasnya dan sekali lagi awan hi­tam yang sudah mendesak maju itu terpental mundur sampai lima kaki jauhnya.

Tanpa mempedulikan Hek-giam-lo yang terpaksa menerima kembali jarum-jarumnya itu, Suling Emas berloncatan ke sana ke mari dan tampaklah mayat-mayat yang berserakan itu satu demi satu melayang masuk ke dalam lobang besar yang digalinya tadi. Pemandangan yang amat mengerikan. Mayat-mayat itu seakan-akan hidup kembali dan terbang seperti setan-setan penasaran. Padahal Suling Emas hanya menggunakan ujung sabit untuk mencongkel mayat-mayat itu. Dalam waktu pendek saja sebelas buah mayat itu sudah terbang semua ke dalam lubang. Suling Emas lalu menguruk lu­bang dengan tanah galian. Begitu cepat ia melakukan pekerjaan ini sehingga wak­tu untuk menggali dan “mengubur” ini tidak lebih daripada sepuluh menit saja!

“Ho-ho-hah-hah, Suling Emas namanya menyundul langit. Kiranya hanya seorang bocah ingusan yang tak tahan melihat mayat-mayat berserakan. Ha-ha-ha.” It-gan Kai-ong tertawa mengejek.

“It-gan Kai-ong, terimalah salamku. Tak kusangka di puncak Thai-san ini akan bertemu dengan seorang raja, sungguh menyenangkan,” jawab Suling Emas.

“Tampan sekali! Ganteng.... dan jejaka tulen. Hebat! Suling Emas, mari pergi bersama saya....” Suara Siang-mou Sin-ni amat manis dan merdu, senyumnya memikat dan kerling matanya menyambar. Pemuda biasa saja kiranya akan runtuh kalbunya dan bobol pertahanannya kalau menghadapi senyum dan kerling yang memabukkan ini. Memang Siang-mou Sin-ni memiliki kecantikan yang luar biasa, keharuman rambut yang memabuk­kan, dan ada sesuatu yang mujijat, hawa kekuatan yang tidak sewajarnya, keluar dari tubuhnya.

Suling Emas menjadi merah mukanya ketika ia mengangguk dan membungkuk sebagai tanda hormat. “Siang-mou Sin-ni, terima kasih. Kulihat di antara mayat-mayat itu terdapat seorang muda yang sudah kausedot habis isi tulang belakang­nya, apakah kau masih juga belum kenyang?”

Siang-mou Sin-ni hanya terkekeh-kekeh mendengar ejekan ini. Adapun It-gan Kai-ong lalu menegur, “Kim-siauw (Suling Emas), kau yang masih begini muda, bagaimana berani lancang me­nyebut nama kami? Bagaimana kau bisa megenal bahwa aku It-gan Kai-ong?”

Suling Emas tertawa. “Banyak raja di dunia ini, akan tetapi yang suka me­makai pakaian tambalan, hanyalah raja pengemis. Di antara banyak raja penge­mis yang terkenal, memang ada beberapa orang di antaranya yang buta kedua matanya, akan tetapi yang picak sebelah hanyalah It-gan Kai-ong.”

Siang-mou Sin-ni makin keras kekeh tawanya. bahkan Si Muka Tengkorak yang pendiam juga terbatuk-batuk menahan tawa. It-gan Kai-ong mencak-mencak saking marahnya. “Bocah sombong, berani kau mempermainkan aku? Hayo ke sini­lah, boleh kita adu kepandaian.”

“Nanti dulu, Kai-ong. Biarlah dia mencoba kelihaian rambutku. Kalau dia bisa mengatasi rambutku, tak perlu aku mencium dan menggigitnya, hi-hi-hik!” Siang-mou Sin-ni melangkah maju.

Akan tetapi Suling Emas tidak mem­pedulikan mereka berdua, langsung ia menghampiri Hek-giam-lo, menyerahkan senjata sabit. “Ini senjatamu, Hek-giam-lo, dan terima kasih.”

Hek-giam-lo mengulur tangan kiri menangkap gagang sabitnya, akan tetapi Suling Emas tidak melepaskannya, dan sambil tersenyum pemuda ini mengulur tangan kiri pula ke arah sulingnya yang masih dipegang oleh Hek-giam-lo, kemu­dian menyambar suling itu. Keduanya kini berdiri berhadapan dengan kedua tangan memegang kedua macam senjata, tidak saling dilepas. Sejenak mereka berpandangan, ragu-ragu berada di fihak Hek-giam-lo, akan tetapi kemudian ia mengendorkan pegangannya pada suling. Suling Emas juga melepaskan sabit dan menarik suling sehingga di lain saat ke­dua orang itu sudah saling bertukar senjata.

Hek-giam-lo yang masih marah dan penasaran sudah mengangkat sabit, siap menyerang. Akan tetapi ia kalah dulu oleh Siang-mou Sin-ni yang sudah me­lompat ke depan Suling Emas dan sambil terkekeh wanita ini menggerakkan ram­butnya yang mengeluarkan bunyi bercuitan seperti seratus cambuk menerjang Su­ling Emas.

Bau yang harum semerbak memabuk­kan menusuk hidung. Suling Emas cepat mengerahkan sin-kang dan melompat ke belakang, sulingnya menyampok ke depan dibarengi kipasnya dikebutkan. Terdengar suara nyaring ketika suling emas itu bertemu dengan gumpalan rambut yang paiing tebal, sedangkan kipas yang ber­gerak kuat itu meniup balik rambut pan­jang yang tadi menerjang maju seperti hidup. Baik Suling Emas maupun Siang-mou Sin-ni masing-masing melangkah mundur tiga tindak dan saling pandang dengan kagum. Malah Siang-mou Sin-ni kelihatan kaget. Tak disangkanya bahwa pemuda ganteng ini demikian kuat dan lihai. Kulit kepalanya sampai terasa pedas dan panas karena akar rambutnya terguncang keras. Di lain fihak, Suling Emas juga maklum bahwa wanita ini benar-benar luar biasa seperti yang sudah lama ia dengar. Kipas dan sulingnya tergetar hebat dan ia sampai melirik kepada dua senjatanya itu untuk melihat apakah kipas dan suling tidak menjadi rusak.

“Siang-mou Sin-ni, jangan kau lancang. Karena dia tadi menghinaku, aku­lah yang berhak menantangnya. Eh, Su­ling Emas bocah sombong, beranikah kau menghadapiku?” Hek-giam-lo sudah melangkah maju lagi, tangan kirinya merogoh saku.

Suling Emas melintangkan suling di depan dada dan kipasnya diangkat ke atas kepala, tersenyum tenang. “Aku mendaki puncak Thai-san dengan perasa­an aman dan damai, dengan pikiran gem­bira dan bersih daripada permusuhan dengan siapa pun juga. Aku tidak meng­hendaki permusuhan di tempat yang in­dah dan sejuk ini, akan tetapi kalau ada yang menantangku, biarpun aku ogah melayani, namun suling dan kipasku ha­rus menjaga nama dan kehormatan.”

“Jadi!” Hek-giam-lo berseru keras, tangan kirinya keluar dan begitu tangan kiri itu bergerak-gerak, tiga belas batang pedang pendek yang seperti disulap ke­luar dari jubah hitamnya itu telah me­nancap di atas tanah, membentuk ling­karan. Lingkaran itu terdiri dari sepuluh batang pedang yang berdiri berjajar, di tengah-tengah lingkaran tertancap tiga batang pedang yang bentuknya segi tiga. Sambil menggereng keras tubuh Hek-giam-lo melayang ke tengah lingkaran dan tahu-tahu ia sudah berdiri dengan sebelah kaki menginjak gagang pedang. Pedang itu kecil saja, dapat dibayangkan betapa tinggi gin-kang (ilmu meringankan tubuh) harus dibutuhkan untuk dapat berdiri di atas gagangnya. Pedang bergoyang-goyang, namun tubuh Hek-giam-lo tetap tegak tak bergerak, sabitnya diangkat di atas kepala.

“Bagus, boleh kulayani kau main-main sebentar Hek-giam-lo!” seru Suling Emas dan seperti seekor burung garuda me­layang, tubuhnya yang tinggi tegap itu meloncat ke tengah lingkaran, kaki kanannya menginjak gagang sebuah pedang lain.

Hek-giam-lo menyambut kedatangan lawannya dengan suara ketawa aneh me­nyeramkan, sabitnya bergerak dan me­nyambar seperti kilat putih, memancung ke arah leher Suling Emas. Namun, la­wannya bukanlah orang sembarangan. Sedikit berjongkok saja sabit itu sudah lewat di atas kepala dan sekali meng­gerakkan kedua tangan, kipas di tangan kiri yang terbuka itu mengebut ke arah muka tengkorak sedangkan suling disodok­kan ke arah lambung. Sekaligus Suling Emas telah menyerang hebat dengan gerakan yang kelihatan lambat, namun tidak mengeluarkan suara dan sukar di­duga ke mana arah dan sasarannya.

“Huhhhhh....!” Hek-giam-lo mendengus pendek, sabitnya terayun membentuk lingkaran di depan lambung menangkis suling, tubuhnya meloncat ke belakang menginjak gagang pedang lain yang me­rupakan pagar.

“Hek-giam-lo, aku tahu ilmu silatmu hebat, setiap gerakan mengarah nyawa. Tapi adu ilmu ini hanya untuk saling kenal, bukan? Siapa turun dari pedang berarti sudah mengalah.”

“Cerewet!” Hek-giam-lo mendengus dan sabitnya menyambar lagi, kini berturut-turut dan bertubi-tubi menyerang dari segala jurusan, diputar-putar sampai lenyap bentuk sabit, berubah menjadi segulung sinar putih menyilaukan mata.

Suling Emas terpaksa melayani desak­an yang merupakan cakar-cakar maut mengancam nyawa ini. Dengan lincah tubuhnya bergerak cepat, lenyap berubah menjadi bayangan hitam, sulingnya mem­balas dengan serangan ke arah kaki, kipasnya mengancam kepala dan me­nyampok sabit. Terpaksa Hek-giam-lo kini yang harus berloncatan mengelilingi patok-patok pedang itu, karena agaknya Suling Emas berusaha keras untuk me­maksa ia turun dari patok dengan pe­nyerangan yang selalu ditujukan kepada kakinya yang menginjak gagang pedang.

“Tengkorak busuk, serahkan Si Ganteng kepadaku!” Siang-mou Sin-ni memekik dan wanita inipun sudah meloncat ke atas gagang pedang, dan dari belakang, rambutnya menyambar ke arah leher Suling Emas untuk mencekiknya. Agaknya wanita ini merasa khawatir kalau-kalau jejaka tampan yang hendak dijadikan kor­bannya itu tewas oleh Hek-giam-lo yang amat lihai.

***

Namun Suling Emas biarpun masih muda, ternyata memiliki kegesitan yang mengagumkan. Begitu rambut Siang-mou Sin-ni menyambar, tubuhnya sudah melayang ke kiri, kipasnya mengebut muka Hek-giam-lo dan sulingnya dari bawah menotok dada Siang-mou Sin-ni.

“Ihhhh.... kau mau membunuhku?” Wanita itu memekik sambil mengelak cepat. “Kau tidak suka kepadaku? Apa ada wanita yang lebih cantik dari padaku?”

“Kalau perlu, apa salahnya membunuhmu? Kau pun menghendaki nyawaku,” jawab Suling Emas sambil menerjang lagi, sekaligus menghadapi dua orang lawan yang sakti itu.

“Wah-wah, sungguh memalukan sekali Thian-te Liok-koai (Enam Setan Dunia) sudah terkenal sebagai enam tokoh tak terkalahkan di dunia. Masa dua di antara­nya sekarang tak dapat mengalahkan seorang bocah hijau? Kalau aku tidak turun tangan membasminya, bisa ter­cemar nama besar Thian-te Liok-koai!” It-gan Kai-ong Si Raja Pengemis Mata Satu melompat dan tongkatnya menyambar. Hebat gerakannya dan pedang yang diinjaknya sama sekali tidak bergerak, menandakan bahwa gin-kang yang dimilikinya amat tinggi tingkatnya.

Suling Emas mengeluh dalam hatinya. Kalau menghadapi mereka di atas tanah yang keras, biarpun tidak berani ia meng­harapkan kemenangan, namun ia dapat menjaga diri jauh lebih baik daripada kalau bertempur dikeroyok tiga di atas patok-patok pedang ini. Ia berusaha ma­inkan suling dan kipasnya sebaik mung­kin, menutup diri dengan pertahanan sekokoh benteng baja dan mencari ke­sempatan merobohkan lawannya seorang demi seorang. Namun ia harus akui ke­hebatan tiga orang tokoh yang selama hidupnya baru kali ini ia lihat, dan be­lum dua puluh jurus ia terdesak hebat.

Tiba-tiba terdengar suara keras dan tiga orang sakti itu berjungkir-balik dan berlompatan keluar dari lingkaran patok. Ternyata semua patok pedang, kecuali yang diinjak oleh Suling Emas, telah roboh malang melintang! Tiga orang sakti itu tadi hanya merasa betapa angin pu­kulan dahsyat menyambar ke bawah, merobohkan patok-patok pedang tanpa da­pat mereka cegah lagi, terpaksa mereka melompat dan berpoksai (bersalto) dan seperti mendengar komando, ketiganya lalu berlari cepat menghilang dari tem­pat itu.

Suling Emas terheran-heran. Ia me­lompat turun, dengan tangannya ia me­raup tiga belas pedang pendek itu, lalu melontarkannya ke arah menghilangnya Hek-giam-lo sambil berseru.

“Iblis Hitam, bawa pergi pedang-pedangmu!”

Tiga belas batang pedang itu terbang melayang seperti sekelompok burung dan lenyap di balik batu-batu besar yang mengitari puncak. Memang hebat sekali tenaga sambitan Suling Emas ini, dan patutlah kiranya ia menjadi lawan orang-orang sakti seperti tiga tokoh tadi.

Terdengar suara orang menarik napas panjang. Suling Emas cepat membalikkan tubuhnya dan bulu tengkuknya berdiri ketika ia melihat seorang kakek tua sudah berdiri di depannya. Ia merasa serem karena tak mungkin ada orang, betapapun saktinya, dapat mendekatinya tanpa ia mendengarnya sama sekali. He­laan napas saja dapat tertangkap oleh pendengarannya, bagaimanakah gerakan kakek ini sama sekali tidak didengarnya dan tahu-tahu sudah berdiri di belakang­nya? Apakah kakek ini pandai menghilang? Dengan pandang mata penuh selidik ia menatap kakek itu.

Sukar ditaksir usianya karena sudah terlalu tua. Melihat kakek ini mengingat­kan orang akan gambar-gambar para de­wa. Rambutnya berwarna dua, tebal dan jarang, panjang sampai ke punggung. Digelung kecil di atas kepala, ujungnya terurai ke pundak dan punggung. Kumis dan jenggotnya juga hitam putih, terurai ke bawah. Sepasang alisnya tebal, dahinya lebar, sepasang mata yang bening dengan sinar mata sayu termenung, mulut yang setengah tertutup cambang itu selalu tersenyum ramah. Jubahnya longgar berwarna kelabu kehitaman, sepatunya dari kain tebal, di bawahnya terbuat daripada anyaman rumput, lengan bajunya lebar sekali. Pada punggung kakek ini tampak sebuah alat musik khim. Agaknya saking tuanya maka tubuh kakek ini agak bongkok dan kelihatan pendek. Kelihatannya biasa saja, seperti kakek-kakek lain yang sudah amat tua, hanya daun telinga­nya yang mungkin terlalu besar bagi orang-orang biasa, mengingatkan orang akan daun telinga pada arca-arca Buddha dan para dewa.

Suling Emas cepat menjura dengan sikap hormat, mengangkat kedua tangan ke depan dada sambil berkata, “Maaf, Locianpwe (Kakek Sakti), benarkah dugaan saya bahwa Locianpwe adalah Bu Kek Siansu?”

Kakek itu tertawa dan tampaklah keganjilan pada mukanya karena di balik bibirnya itu tampak berderet dua baris gigi yang masih utuh dan rapi.

“Tidak salah, anak muda. Semoga dengan tibanya musim semi, Yang Maha Murah akan melimpahkan berkah kepada­mu....”

Suling Emas terkejut dan cepat ia menjatuhkan diri berlutut. Ia merasa malu karena ucapan selamat pada Hari Musim Semi itu didahului oleh kakek ini.

“Locianpwe, maafkan kelancangan teecu (murid) tadi. Teecu menghaturkan Selamat Musim Semi, semoga Locianpwe selalu sehat, bahagia dan dikurniai usia panjang.”

“Ha-ha-ha-ha, anak muda lucu, kau­rangkaikan sehat dan usia panjang dengan bahagia. Apa kaukira kalau sudah sehat itu pasti berusia panjang, dan kalau berusia panjang itu pasti bahagia? Ha-ha-ha!”

“Teecu mohon petunjuk, Locianpwe.”

“Sulingmu tadi mainkan Ilmu Pedang Pat-sian Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Dewa) dan kipasmu mainkan Ilmu Kipas Lo-hai San-hoat (Ilmu Kipas Kacau Laut­an), apamukah Kim-mo Taisu?”

Suling Emas terkejut sekali dan cepat ia mengangguk-anggukkan kepala sampai jidatnya menyentuh bumi. “Kiranya Locianpwe yang tadi menolong teecu dari pengeroyokan tiga manusia iblis, teecu menghaturkan terima kasih. Kim-mo Taisu yang Locianpwe tanyakan adalah mendiang Suhu (Guru), dan beliaulah yang dahulu berpesan kepada teecu agar teecu mencari kesempatan pada tiap hari pertama musim semi untuk menjumpai Locianpwe don mohon petunjuk.”

“Ha-ha-ha, Thian (Tuhan) sungguh adil dan bijak, hari ini memberi hadiah de­ngan jodoh yang amat baik. Jadi Kim-mo Taisu itu gurumu? Dia sudah mati lebih dulu daripada aku? Ha-ha, aku berani mengatakan bahwa dia tentu mati dalam tugas sebagai pahlawan. Memang sejak dulu dia mempunyai jiwa patriot.”

“Tidak salah dugaan Locianpwe. Suhu tewas ketika terjadi perang terhadap bangsa Khitan di daerah Ho-peh, Suhu roboh oleh pengeroyokan jago-jago Khitan. Teecu hanya terluka, tapi tidak dapat mencegah terjadinya hal itu.” Suara Suling Emas melirih, akan tetapi sama sekali tidak terdengar kesedihan. Hati­nya sudah terlalu masak dan mengeras untuk dapat dikuasai kesedihan.

“Hemmm, belasan tahun ia bersusah payah membantu Cao Kwang Yin dalam usahanya mendirikan Wangsa Sung. Sam­pai Cao Kwang Yin menjadi Kaisar Sung Tai Cu, gurumu masih terus membantu­nya dan akhirnya mengorbankan nyawa. Dia seorang patriot tulen, tanpa pamrih, tidak mengejar pangkat, hanya ingin melihat negara kuat dan rakyatnya hidup makmur. Betapapun juga, segala sesuatu sudah direncanakan dan akan diatur pe­laksanaannya oleh Tuhan. Orang muda, siapa namamu?”

“Teecu dikenal sebagai Kim-siauw-eng (Pendekar Suling Emas), dan teecu tidak menggunakan nama lain lagi.”

“Ha-ha, begini muda, sudah menelan kepahitan hidup. Hati-hati, orang muda, kepatahan hatimu dapat mendorongmu menjadi tidak peduli seperti sekarang ini, melupakan yang lewat, dan akhirnya kalau tidak kuat-kuat batinmu, dapat membuat kau menjadi seorang yang kejam. Baiknya belum sejauh itu kau ter­sesat, buktinya kau masih mau mengubur jenazah-jenazah itu.”

“Maaf, Locianpwe. Teecu cukup dapat membedakan mana jahat mana baik, biarpun teecu sengaja meninggalkan hidup yang lewat untuk.... untuk....”

“Melupakan kepahitan yang mematah­kan hatimu?”

Suling Emas hanya mengangguk lalu menundukkan muka. “Teecu mohon pe­tunjuk.”

“Kau berjuluk Suling Emas, tentu pandai bermain suling. Hayo perdengar­kan suara sulingmu, dan kita coba-coba main bersama sulingmu dengan khim yang kumainkan, mencari keserasian.” Kakek itu lalu duduk di atas rumput, menurunkan alat musiknya yang mem­punyai tujuh buah kawat itu.

Suling Emas girang sekali. Sebagai seorang murid gemblengan dari orang sakti Kim-mo Taisu, tentu saja ia mak­lum bahwa bermain musik bagi seorang seperti Bu Kek Siansu, berarti berlatih atau menguji kepandaian lwee-kang dan ilmu silat tinggi. Ia segera duduk bersila, mengatur pernapasan, lalu meniup sulingnya.

Bu Kek Siansu tersenyum mendengar lengking suling yang tinggi mengalun dan merdu, bersih dan nyaring itu. Jari-jari tangannya lalu mulai menyentuh kawat pada khimnya, terdengar suara cring-cring-cring tinggi rendah.

Suling Emas kaget bukan main. Begitu suara kawat khim itu berbunyi, napasnya jadi sesak dan suara sulingnya terdesak hebat sampai menurun rendah sekali. Ia segera meramkan kedua matanya, me­musatkan panca indra, mengerahkan se­luruh tenaga sin-kang di dalam tubuhnya, mengatur pernapasan sepanjang dan mungkin sampai memenuhi pusarnya, dan semua tenaga yang dikumpul­kan ini ia salurkan melalui suara sulingnya yang kini menjadi bening dan ting­gi kembali.

Akan tetapi permainan khim dari Bu Kek Siansu juga makin hebet. Suara nya­ring tinggi rendah dari kawat-kawat itu merupakan jurus-jurus penyerangan yang lebih hebat daripada tusukan-tusukan pedang pusaka. Lebih hebat daripada gempuran tangan sakti, kadang-kadang bergelombang datangnya, bertubi-tubi dan makin lama makin kuat seperti ombak samudera.


Tuesday, 23 April 2013

2.6 Suling Emas

Bagus! Kam Si Ek melangkah mundur dua tindak dan mencabut goloknya yang berkilauan saking tajamnya. Telunjuk tangan kirinya menuding dan ia berkata bengis, Kalian tiga orang wanita muda tak tahu malu. Kalian datang mengaku sebagai See-liong-sam-ci-moi (Tiga Enci Adik Naga Barat), berlagak pendekar wanita yang bermaksud membantu karena melihat kesengsaraan rakyat dalam jaman perang perebutan kekuasaan. Aku menerima kalian dengan baik dan hormat. Kiranya kalian mengandung maksud hati yang kotor dan hina. Kalau aku memberi tanda, alangkah mudahnya anak buahku yang ribuan orang banyaknya datang menangkap kalian untuk dijatuhi hukuman mati. Akan tetapi aku Kam Si Ek seorang laki-laki sejati, tidak mengandalkan jumlah orang banyak. Majulah, dan sudah sepatutnya golokku mengakhiri riwayat kalian yang tersesat ke dalam jurang kenistaan!


"Manusia sombong!" Si Baju Merah meloncat dan bagaikan kilat menyambar pedangnya menusuk, berikut tubuhnya yang melayang ke depan, benar-benar seperti seekor naga menyambar. Hebat serangan ini, akan tetapi Kam Si Ek yang sudah siap dengan goloknya, menangkis keras.


"Tranggg!!" Wanita baju merah itu terpental ke samping, akan tetapi dengan gerakan indah ia membuat loncatan salto dua kali. Adapun kedua orang adiknya juga sudah menerjang maju dengan loncatan-loncatan tinggi dan menyerang dengan pedang selagi tubuh mereka masih di udara. Kam Si Ek terkejut sekali. Tiga orang wanita ini benar-benar patut dijuluki Naga Barat, karena gerakan mereka benar-benar lincah dan cepat laksana naga menyambar. Ia cepat mengelak sambil memutar golok sehingga berhasil menangkis tusukan pedang dari kanan kiri. Akan tetapi tiga orang enci adik itu sudah mendesaknya dengan serangan pedang bertubi-tubi. Kam Si Ek cepat memutar goloknya dan mainkan ilmu silat keturunan keluarga Kam.Pertahanannya kuat sekali, namun didesak oleh tiga batang pedang yang bekerja sama baik sekali, ia hanya mampu menangkis sambil berloncatan ke sana ke mari, sebentar saja terdesak hebat.


Namun, sebagai seorang jantan Kam Si Ek berpegang kepada kata-katanya. Ia tidak mau berteriak minta bantuan para penjaga yang berada di luar gedung itu dan tetap mempertahankan diri dengan goloknya. Sewaktu pedang Si Baju Merah menusuk tenggorokan dan ia menangkis dengan golok, pedang Si Baju Kuning sudah membabat penggangnya. Cepat ia bergerak dengan jurus Burung Walet Membalikkan Tubuh, membuat gerakan memutar untuk mengelak sambil memutar goloknya melindungi tubuh belakang. Ia berhasil mengelak dan sekaligus menangkis babatan pedang Si Baju Hijau tepat pada waktunya. Akan tetapi kembali pedang Si Baju Merah sudah menerjang datang, disusul dua buah pedang yang lain ! Karena ketiga orang gadis lihai itu kini menghujankan serangan di tiga bagian, yaitu bawah tengah dan atas, maka sibuk jugalah Kam Si Ek. Dengan ilmu golok emasnya yang diputar merupakan benteng melindungi tubuhnya, ia hanya dapat melindungi bagian atas dan tengah saja, sehingga menghadapi penyerangan pedang d! i ! bagian bawah, ia harus meloncat-loncat yang membuat gerakan pemutaran goloknya terganggu. Setelah lewat tiga puluh jurus, pemuda ini mulai berputar-putar dan terdesak ke sana ke mari, semua jalan keluar telah dihadang oleh tiga orang gadis yang tertawa-tawa mengejek.


"Jenderal sombong, daripada mati di ujung pedang, bukankah lebih baik kau memeluk tiga orang gadis jelita ? Ah, alangkah goblok engkau ! Mana bisa engkau melawan See-liong-sam-ci-moi ? Kami benar-benar mencintaimu, Kam-goanswe !"


"Lebih baik aku mati !" teriak Kam Si Ek ganas dan melihat kesempatan selagi Si Baju Merah bicara, golok emasnya menyambar dengan pembalasan serangan dahsyat. Namun tiga batang pedang sudah menangkisnya dan kembali ia terkepung tiga gulungan sinar berkilau yang mematikan semua jalan ke luar itu.


Liu Lu Sian yang menonton dari atas genteng, segera mengetahui bahwa biarpun Kam Si Ek memiliki tenaga yang cukup kuat, namun di bidang ilmu silat agaknya belum dapat diandalkan benar, jauh di bawah tingkat tiga orang gadis itu. Kemarahannya memuncak dan kekagumannya terhadap Kam Si Ek juga memuncak. Ia segera mengambil jarum-jarum rahasianya dan tiga kali tangannya bergerak disertai pengerahan sin-kang yang sepenuhnya. Senjata rahasia jarum ini adalah ajaran ayahnya, penggunaannya amat sukar karena jarum-jarum itu kecil dan ringan sekali, harus disambitkan dengan sin-kang tertentu baru dapat meluncurcepat melebihi anak panah. Dan sekali jarum-jarum ini meluncur, sama sekali tidak mendatangkan suara, kalaupun ada, suara itu halus sekali sukar ditangkap telinga.


Hebat sekali kesudahannya. Terdengar jerit melengking dan tiga orang gadis iti seperti disambar petir. Si Baju Merah melepaskan pedangnya dan berputar-putar seperti mabok, disusul Si Baju Kuning yang melemparkan pedang dan mencekik lehernya sendir, kemudian Si Baju Hijau terjungkal dan melingkar-lingkar di atas lantai. Tiga orang gadis itu berkelojotan di atas lantai dan beberapa menit kemudian tak bergerak lagi. Si Baju Merah kemasukan jarum tepat di ubun-ubunnya, Si Baju Kuning terkena lehernya dan Si Baju Hijau terserang dadanya. Jarum-jarum itu mengandung racun kelabang yang gigitannya menewaskan seketika, maka bukan main hebatnya.


Kam Si Ek berdiri dengan golok melintang di depan dada, matanya terbelalak lebar. Pada saat itu berkelebat bayangan memasuki pintu dan muncullah seorang wanita berpakaian serba putih, wajahnya cantik dan terang, usianya sebaya dengan Kam Si Ek. Wanita ini memegang sebatang pedang dan tangan kirinya menjambak rambut dua orang laki-laki berpakaian tentara lalu ia mendorong dua orang itu sehingga terguling di atas lantai, terus berlutut di situ dengan tubuhmenggigil.


"Eh, Sute siapa mereka ini ... ah, bukankah ini See-liong-sam-ci-moi yang menjadi tamu kita ? Dan ... ah, mereka sudah tewas dan ... kau memegang golok ! Apa yang terjadi, Sute ?"


Kam Si Ek menggunakan tangan kirinya menggosok mata lalu menyusut peluh di dahinya, menggeleng-geleng kepala. "Bukan aku yang membunuh mereka, Suci. Tapi mereka patut tewas, mereka mempunyai niat busuk terhadap aku. Akan tetapi ....agaknya ada orang pandai membantu dan membunuh mereka.."


Wanita itu membanting-banting kakinya. "Celaka ! Mereka adalah tamu-tamu kita, mana patut tewas di sini ? Kalau ada orang yang membunuh mereka secara bersembunyi, belum tentu berniat baik. Kita harus cari dia untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya!" Wanita baju putih itu meloncat keluar lagi. "Nanti dulu, Suci. Dua orang ini ... ada apakah ?"


"Hemm, sialan benar. Dia dan lima orang lain melakukan pemerasan kepada beberapa orang pengungsi, malah mengganggu wanita. Yang lima kulukai, yang dua ini pemimpinnya, kubawa ke sini untuk kau adili."


"Jahanam !" Kam Si Ek menggerakkan kakinya menendang dan dua orang yang sial itu terlempar, kepala mereka membentur tembok,pecah dan tewas seketika. Beginilah watak Kam Si Ek yang benci akan penyelewengan-penyelewengan. Akan tetapi kakak seperguruannya, wanita baju putih itu sudah meloncat pergi ke luar untuk mencari pembunuh See-liong-sam-ci-moi. Kam Si Ek juda cepat lari ke luar setelah menyambar gendewa dan anak panahnya. Dalam ilmu silat boleh jadi dia kurang pandai, akan tetapi ilmu panahnya terkenal di seluruh Shansi, di samping ilmunya mengatur siasat perang dan ilmu menunggang kuda.


Ketika Kam Si Ek tiba di luar gedung, ia melihat para penjaga sudah ribut-ribut memandang ke atas. Ketika ia berdongak, ia melihat bahwa sucinya telah bertanding pedang dengan hebatnya melawan seorang gadis yang gerakannya lincah sekali. Bulan malam itu menerangi jagat, akan tetapi dari bawah ia tidak dapat melihat siapa adanya gadis yang bertanding melawan enci seperguruannya itu.


"Goblok !" terdengar wanita itu memaki, suaranya nyaring dan merdu, melengking menembus kesunyian malam. "Beginikah kalian membalas pertolongan orang ?"


"Kau harus menyerah, tak boleh sembarangan membunuh orang di tempat kami," jawab sucinya dengan suaranya yang tegas.


Pada saat itu, entah mengapa , tiba-tiba sucinya kehilangan keseimbangan tubuhnya, terhuyung di atas genteng dan sesosok bayangan yang bergerak seperti terbang telah menyambar tubuh wanita itu.


Lu Sian kaget melihat lawannya wanita baju putih itu tiba-tiba menghentikan penyarangannya dan terhuyung, kemudian ia lebih kaget lagi ketika tubuhnya tibq-tibq menjadi lemas dan tahu-tahu ia telah disambar orang dan dipanggul pergi ! Ketika melihat bahwa yang memanggulnya adalah Kwee Seng, ia meronta-ronta, namun tidak berhasil melepaskan diri. Ingin ia menusukkan pedangnya pada punggung pemuda ini, namun totokan tadi membuat tubuhnya terlalu lemas.


Kam Si Ek sudah sejak tadi merasa berhutang budi kepada wanita yang ternyata telah menolongnya kalau tidak segera tertolong, rasanya ia takkan mampu menangkan See-liong-sam-ci-moi. Tadinya ia sudah hendak meloncat naik mencegah sucinya menyerang wanita itu, sekarang melihat seorang laki-laki muda berpakaian pelajar memondong wanita itu, ia menyangka bahwa tentulah pemuda itu, seorang jahat. Cepat ia memberi aba-aba untuk menyerang pemuda itu dengan anak panah, sedangkan ia sendiri pun lalu mementang gendawanya.


Akan tetapi pemuda itu hanya menengok sambil tersenyum. Wajah yang tampan itu tersinar bukan dan hatinya Kam Si Ek tercengang. Pemuda itu tampan bukan main dan senyumnya manis sekali ! Tentu sebangsa jai-hwa-cat (penjahat cabul) yang hendak melarikan gadis dengan maksud kotor dan rendah !


"Lihat panah !" bentaknya dan sekali gendawanya menjepret, lima batang anak panah menyambar ke arah tubuh belakang Kwee Seng !


"Bagus !" Kwee Seng yang masih menengok itu tersenyum lebar dan memuji, karena kepandaian melepas panah itu benar-benar hebat. Lima anak panah itu menuju ke lima bagian jalan darah di punggung dan kakinya, dan dengan kecepatan yang luar biasa !


Cepat tangan kirinya mencabut kipasnya dan ia harus mengerahkan lwee-kangnya untuk mengebut dan meruntuhkan anak-anak panah itu. Akan tetapi kini para perajurit panah sudah pula ikut melepaskan anak panah, sedangkan Kam Si Ek dengan kecepatan luar biasa sudah pula menghujankan anak panahnya. Terpaksa Kwee Seng kembali mengebut sambil mengerahkan sin-kang-nya, kemudian sekali berkelebat tubuhnya sudah meloncat jauh, kemudian berlari cepat setelah tubuhnya melayang turun dan sekali ia menggerakkan kakinya, ia telah meloncat ke atas tembok benteng. Hujan anak panah lagi dari kanak kiri, namun pelepasan anak panah oleh para perajurit itu tentu saja tidak begitu di hiraukan oleh Kwee Seng. Sekali kipasnya mengebut, angin kebutannya sudah membuat semua anak panah menyeleweng arahnya atau runtuh ke bawah. Kemudian ia meloncat keluar tembok dan lenyap !


"Suci ... ! Dimana kau ... ?" Kam Si Ek berseru, akan tetapi ia tidak melihat kakak seperguruannya itu. Namun ia mempunyai banyak pekerjaan, maka ia tidak mencarinya lagi, melainkan cepat mengatur anak buahnya untuk melakukan penjagaan yang lebih kuat dan memerintah orang-orang untuk mengurus lima buah mayat yang menggeletak di lantai ruangan gedung. Malam itu juga ia mengadili lima orang lain yang dilukai encinya dan menggunakan kesempatan ini untuk mengancam para tentara dengan hukuman berat apabila ada yang berani melakukan penyelewengan. Kemudian ia masuk ke dalam kamarnya dan duduk termenung. Ia maklum bahwa tidak semua anggota bala tentaranya setia kepadanya, karena sesungguhnya, ia tidak mampu memberi belanja yang cukup kepada mereka. Banyak diantara mereka yang diam-diam ingin rupanya dia mengabdi kepada Raja Liang atau kepada Gubernur Li yang juga sudah mengangkat diri sendiri sebagai raja muda di Shan-si.


"Tidak," bantah suara hatinya, "sebelum muncul pemimpin yang betul-betul akan membuat rakyat Shan-si khususnya hidup aman tentran dan makmur, aku tidak akan mengabdi kepada siapapun juga !"


Sementara itu, Lu Sian terus meronta-ronta, kedua kakinya di gerak-gerakkan danakhirnya Kwee Seng menurunkannya di dalam hutan tempat mereka tadi beristirahat sambil membebaskan totokannya. Dengan pedang di depan dada Lu Sian meloncat maju dan membentak.


"Kwee Seng, kali ini kau terlalu ! Mengapa kau mengganggu urusanku ? Apakah kau hendak pamer kepandaianmu ?"


"Eh, Sian-moi ..., aku hanya hendak mencegah kau menimbulkan keributan di tempat orang, aku ... aku hanya bermaksud menolongmu ... "


"Siapa butuh pertolongan mu? Siapa sudi ? Kwee Seng, agaknya di samping kelemahan hatimu, kau juga memiliki kesombongan memandang rendah orang lain. Apa yang kulakukan, kau peduli apakah ?"


"Sian-moi, mengapa kau berkata demikian ? Bagaimana aku dapat tidak mempedulikan apa yang kau lakukan ? Sian-moi ... kau sudah tahu akan perasaan hatiku, tak perlu kusembunyikan lagi. Aku cinta padamu ! Nah, sekarang terlepaslah sudah ganjalan hatiku. Aku mencintaimu, tentu saja aku tak dapat membiarkanmu terancam bahaya atau melakukan hal-hal yang tidak semestinya. Kam Si Ek seorang patriot sejati, seorang gagah perkasa, tak boleh diganggu..."


"Cukup ! Biar seribu kali kau mencintaku, kau belum berhak untuk mengurusi persoalanku. Aku bukan apa-apamu, tahu ? Kau boleh mencintaku sampai mampus, akan tetapi aku tidak mencintaimu ! Dengar baik-baik, Kwee Seng, aku tidak cinta kepadamu ! Kau memang tampan, kau memang gagah perkasa, memiliki kesaktian tinggi melebihi aku, akan tetapi kau lemah ! Kau bukan laki-laki sejati, hatimu lemah, mudah jatuh. Kaukira aku cinta kepadamu ? Ihh ! Aku suka ikut bersamamu karena mengharapkan kepandaianmu yang kaujanjikan kepadaku di depan ayah. Nah kau dengar sekarang ? Setelah kauketahui pendirianku, apakah kau kini hendak menarik janjimu lagi seperti layaknya seorang pengecut ?"


Bukan main hebatnya serangan ini bagi Kwee Seng, seakan-akan ribuan batang jarum berbisa menusuk-nusuk jantungnya. Wajahnya sebentar pucat sebentar merah, tubuhnya gemetar, bibirnya menggigil, matanya sayu dan dua butir air mata membasahi pipinya. Kemudian ia menggertak gigi mengeraskan perasaan, menguatkan hatinya, mengepal tangan dan berkata sambil menengadahkan muka ke langit.


"Bagus sekali ! Memang kau patut menjadi puteri Pat-jiu- Sin-ong ! Aku yang bodoh. Ha-ha-ha, aku yang tolol. Orang macamku mana berharga menjatuhkan hati padamu ? Tidak, Liu Lu Sian, aku tidak menarik janjiku ! Kapan saja kau minta, akan kuturunkan ilmuku yang kupakai mengalahkan kau di panggung Beng-kauw ketika itu. Memang aku cinta kepadamu, dan kau tidak mencintaiku sama sekali. Ha-ha-ha, biarlah, biar dirasakan oleh hati yang rakus ini, oleh pikiran yang pendek dan tak tahu diri ini, Si Cebol merindukan bulan, ha-ha-ha!"


Senang bukan main hati Liu Lu Sian. Memang beginilah watak gadis puteri Beng-kauwcu ini. Mungkin karena semenjak kecil terlalu dimanja, atau memang memiliki watak aneh keturunan ayahnya yang terkenal sebagai tokoh aneh di dunia kang-ouw, gadis ini suka sekali melihat laki-laki, sebanyak-banyaknya, jatuh hati kepadanya. Suka Ia menggoda, menonjolkan kejelitaannya agar mereka makin dalam terperosok, kemudian akan ia kecewakan mereka, akan ia permainkan mereka dan melihat mereka menderita, ia akan mentertawakannya !


"Untung engkau masih belum terlalu rendah untuk menarik kembali janjimu. Kwee Seng, aku menuntut janjimu itu pada besok malam, tepat tengah malam, di sini juga. Aku akan menjumpaimu di sini dan ... "


"Tidak, Liu Lu Sian. Tempat ini kurang sepi, mungkin ada orang lewat dan akan melihat kita. Kau lihat bukit di sana itu. Tampaknya sukar didatangi, terjal dan liar. Jangan kira mudah menerima ilmu. Aku hanya mau menurunkan ilmuku kepadamu di puncak bukit itu. Besok malam tengah malam tepat, aku menantimu di sana !"


Lu Sian menengok ke arah timur. Matahari mulai muncul dan tampaklah bayangan sebuah bukit yang tak berapa jauh dari tempat itu. Bukit yang bentuknya aneh, puncaknya mencuat tinggi bentuknya seperti kepala naga atau kepala mahluk aneh.


"Baik, besok malam aku akan berada di pumcak itu!" Setelah berkata demikian, Lu Sian meloncat ke atas kudanya dan melarikan kuda itu pergi meninggalkan Kwee Seng.


Pemuda itu berdiri tegak seperti patung, mendengarkan derap kaki kuda yang yang makin lama makin jauh, lalu ia meramkan matanya, serasa perih hatinya, serasa jantungnya dirobek dan serasa semangatnya terbang melayang mengikuti suara derap kaki kuda yang membawa lari Lu Sian, gadis yang selama ini memenuhi hatinya. Tiba-tiba ia tertawa dan menampar kepalanya sendiri. "Ha-ha-ha, tolol ! Gila perempuan!!" Kwee Seng lalu mengambil guci araknya dan minum dari guci araknya dan minum dari guci itu tanpa takaran lagi. Arak menggelok memasuki kerongkongannya.


Tiba-tiba ia berhenti minum dan menengok memandang ke arah gerombolan pohon kembang kecil yang belim kebagian sinar matahari pagi, masih gelap. Biarpun perasaannya terganggu batinnya terpukul hebat, namun telinga pemuda ini masih amat tajam, perasaannya masih amat peka terhadap bahaya. Ia mendengar ferakan orang disitu, maka tegurnya, "Siapakah mengintai disitu?"


Sesosok bayangan putih berkelebat keluar dari belakang pohon-pohon dan seorang gadis berdiri di hadapan Kwee Seng dengan muka merah dan sinar mata membayangkan rasa malu. Gadis ini cepat menjura dengan hormat sambil berkata.


"Harap Taihiap sudi memaafkan. Sesungghnya bukan maksud saya untuk mengintai, akan tetapi keadaan tadi membuat saya tidak berani untuk keluar memperkenalkan diri."


Kwee Seng cepat membalas penghormatan gadis yang memakai pakaian serba putih ini. Gadis bermata jernih, bermuka terang dan bersikap gagah, yang belum pernah ia kenal. Akan tetapi ia segera teringat bahwa gadis inilah agaknya Si Bayangan Putih yang bertempur melawan Lu Sian di atas genteng benteng tadi.


"Hemm, kalau sudah lama Nona mengintai, agaknya tak perlu lagi memperkenalkan diri, tentu Nona sudah mengetahui segalanya!" kata Kwee Seng dengan hati mengkal karena adegan Lu Sian yang amat memalukan, yang merendahkan dirinya.


"Sekali lagi maaf, Taihiap. Sesungguhnya saya melihat dan mendengar semua dan sekarang tahulah saya bahwa gadis lihai yang secara aneh mendatangi benteng adik seperguruanku itu bukan lain adalah Nona Liu Lu Sian puteri Beng-kauwcu yang amat terkenal. Sungguh merupakan hal yang tidak pernah kami duga, dan andaikata dia datang memperkenalkan diri secara wajar, sudah pasti kami akan menyambutnya dengan segala kehormatan. Akan tetapi, nasi sudah menjadi bubur dan saya merasa bersalah terhadap Kwee-taihiap yang amat saya kagumi karena kesaktiannya. Oleh karena itu, saya peresilakan Kwee-taihiap sudi singgah di benteng kami untuk mempererat persahabatan dan untuk menambahkan pengetahuan kami yang dangkal."


Diam-diam Kwee Seng kagum. Biarpun hanya seorang wanita, seorang gadis muda, namun nona ini benar-benar jauh bedanya dengan wanita-wanita yang ia temui. Nona ini membayangkan otak tajam, pandangan luas, sopan-santun dan hati-hati, seperti sikap orang yang sudah banyak pengalaman. Ia lalu teringat bahwa ia belum menanyakan nama, dan sebagai seorang yang begitu luas pandangannya seperti nona ini, tentu saja tak mungkin akan memperkenalkan nama kalau tidak ditanya.


"Terima kasih, Nona baik sekali. Setelah nona mengetahui namaku, agaknya boleh juga aku mengenal nama nona yang terhormat?"


"Saya yang bodoh bernama Lai Kui Lan, membantu perjuangan Kam-sute (Adik Seperguruan Kam). Saya murid tunggal dari mendiang ayah Kam-sute, akan tetapi saya yang bodoh tak dapat mewarisi sepersepuluhnya dari ilmu silat keluarga Kam."


Kembali jawaban yang mengagumkan hati Kwee Seng. Ah, kalau saja Liu Lu Sian mempunyai watak dan sikap seperti nona baju putih ini, pikirnya.


"Sekali lagi terima kasih atas undangan Nona Liu yang manis budi. Akan tetapi, sebetulnya saya tidak ingin mengganggu ketenteraman Nona dan Kam-goanswe. Tadi pun saya hanya bermaksud mencegah terjadinya hal-hal yang mendatangkan kekacauan, maka maafkan kalau tadi saya melakukan kesalahan turun tangan terhadap Nona, karena maksud saya hanya menghentikan pertandingan."


Kui Lan menundukkan mukanya dan pipinya merah sekali. Akan tetapi ia menjawab dengan sikap sederhana merendah, "Ilmu kepandaian Kwee-taihiap telah membukla mata saya. Saya ulangi lagi, atas nama Kam-sute juga, kami persilakan Kwee-taihiap untuk singgah dan menerima penghormatan kami."


"Tidak bisa, Nona Lai. Terima kasih. Saya harus pergi sekarang juga." Setelah berkata demikian, Kwee Seng mengangkat kedua tangan memberi hormat, lalu melompat ke atas kudanya dan meninggalkan guci araknya yang sudah kosong. Hatinya yang penuh rasa nelangsa itu agaknya membuat ia tidak pedulian, sehingga guci arak kosong tidak pula dibawanya.


Setelah pemuda itu pergi, Lai Kui Lan berdiri termenung di tempat itu. Berkali-kali ia menarik napas panjang, kemudian pandang matanya bertemu dengan guci arak. Ia melangkah maju, membungkuk dan mengambil guci arak itu. Tanpa ia sadar, ia menekankan guci arak kosong itu pada dadanya, dan ia meramkan matanya seakan-akan guci arak yang tadi ia lihat diminum oleh Kwee Seng itu mewakili diri pemuda sakti yang telah membuat jantungnya menggetar-getar itu. Kalau Lu Sian memandang rendah dan menghina Kwee Seng, sebaliknya Lai Kui Lan ini sekaligus jatuh cinta saking kagumnya melihat Kwee Seng dalam segebrakan merobohkan dia !


Memang aneh-aneh di dunia ini, apa lagi kalau menyangkut asmara yang mengamuk di hati orang-orang muda. Lai Kui Lan yang berwatak gagah dan polos ini sekali jumpa jatuh dan mencintai Kwee Seng, akan tetapi yang dicintanya tidak tahu akan hal ini karena Kwee Seng kegilaan Liu Lu Sian. Sebaliknya Lu Sian tidak mau membalas cinta kasih Kwee Seng dan gadis liar ini kagum kepada Kam Si Ek !


Ketika Lai Kui Lan sadar kembali akan keadaan dirinya, mukanya menjadi makin merah dan beberapa butir air mata terlontar keluar dari pelupuk matanya. Teringat akan keadaan Kwee Seng ia bergidik. Kasihan sekali pendekar itu. Jatuh cinta kepada puteri Beng-kauwcu. Ia sudah mendengar akan Liu Lu Sian puteri Beng-kauwcu, gadis jelita dan perkasa yang sudah menjatuhkan hati entah berapa banyak pemuda. Ia mendengar pula tentang para muda yang menjadi korban di Beng-kauw. Dan kini agaknya pendekar sakti Kwee Seng menjadi korban pula. Kemudian ia teingat akan sutenya, Kam Si Ek. Ada persamaan antara Liu Lu Sian dan Kan Si Ek. Sutenya itu pun menjadi rebutan para gadis, membuat banyak gadis tergila-gila, akan tetapi sutenya tetap tidak mau menerima cinta seorang di antara mereka. Banyak pula yang menjadi korban asmara, di antaranya tiga orang enci adik See-liong-sam-ci-moi-itu !


Teringat pula akan janji Kwee Seng untuk menurunkan ilmu pada besok tengah malam di puncak bukit sebelah timur, ia merasa ngeri. Bukit itu terkenal dengan nama Liong-kui-san (Bukit Siluman Naga), biarpun bukan sebuah di antara gunung-gunung besar, namun di daerah itu amat terkenal sebagai bukit yang sukar didatangi orang, serem dan dikabarkan banyak setannya. Kam Si Ek sendiri melarang anak buahnya naik gunung itu, karena memang keadaannya amat berbahaya dan harus diakui bahwa ada sesuatu yang membuat puncak bukit itu kelihatan aneh. Banyak jurang-jurang yang tak terukur dalamnya, dan di sana mengalir pula sungai yang deras airnya, sungai yang sumbernya dari dalam gunung dan yang kemudian menggabung dengan sungai Wu-kiang. Sungai ini pun oleh penduduk diberi nama Liong-hiat-kiang (Sungai Darah Naga), karena pada saat tertentu sinar matahari membuat sungai itu kelihatan kemerahan seperti darah !


Kemudian Lai Kui Lan mengeluh dan berjalan dengan langkah gontai sambil mendekap guci arak. Semangatnya seolah-olah melayang pergi mengikuti bayangan Kwee Seng Si Pendekar Muda yang sakti dan tampan !


Kwee Seng yang merana hatinya oleh ppengakuan Liu Lu Sian yang tidak membalas cintakasihnya, membalapkan kudanya menjauhi letak benteng Jendral Kam Si Ek. Karena teringat akan janjinya kepada Liu Lu Sian, ia lalu membelokkan kudanya ke arah timur dan hatinya lega ketika memasuki sebuah dusun tak jauh dari kaki gunung, sebuah dusun yang cukup ramai, bahkan di situ terdapat sebuah rumah penginapan sederhana yang membuka pula sebuah restoran. Untung baginya, rumah penginapan itu dalam keadaan kosong tidak ada tamu sehingga keadaan sunyi dan ia tidak benyak menunggu.


Kwee Seng menjual kudanya dengan perantaraan pengurus hotel, kemudian ia minum mabok-mabokan sambil bernyanyi-nyanyi untuk mengusir pergi kerinduan dan kesedihan hatinya. Sebentar saja para pelayan hotel memberinya nama Sastrawan Pemabok ! Dalam maboknya Kwee Seng menyanyikan sajak-sajak romantis ciptaan penyair terkenal Li Tai Po.


Pada senja hari itu Kwee Seng berdiri di ruangan belakang rumah penginapan, memandang sinar matahari yang mulai lenyap, hanya tampak sinar merah kekuningan menerangi angkasa barat. Tangan kanannya memegang sebuah tempat arak terbuat daripada kulit labu kering. Ia bersandar kepada langkan, memandangi angkasa barat yang berwarna indah sekali sambil sekali-kali meneguk arak dari tempat itu. Teringat ia akan sajak karangan Li Tai Po, maka sambil mengangkat muka dan menggerak-gerakan tempat arak di depannya, Kwee Seng lalu menyanyikan sajak itu,


Kunikmati arak hingga tak sadar akan datangnya senja rontokan daun bunga memenuhi lipatan bajuku mabok kuhampiri anak sungai mencerminkan bulan ohhh, burung terbang pergi, sunyi dan rawan


Kwee Seng berhenti bernyanyi dan meneguk araknya. Biarpun hawa arak sudah memenuhi kepalanya, membuat kepalanya serasa ringan dan hendak melayang-layang namun sebagai seorang ahli silat yang sakti, telinganya menangkap suara langkah kaki orang. Sambil minum terus dan arak menetes-netes dari bibirnya, Kwee Seng melirik ke sebelah kanan. Ia masih berdiri bersandarkan langkan.


"Heh-heh-heh, matahari pergi tentu terganti munculnya bulan..." Ia berkata-kata seorang diri akan tetapi diam-diam ia memperhatikan orang-orang yang baru datang. Mengapa ada orang datang dari belakang rumah penginapan ?


Ketika melihat bahwa yang datang adalah seorang pemuda dan seorang gadis, ia tidak berani memandang langsung, melainkan mengerling dan memperhatikan dari sudut matanya. Alangkah herannya ketika ia mengenal wanita itu. Bukan lain adalah gadis baju putih, Lai Kui Lan, suci (kakak seperguruan) dari Jenderal Kam Si Ek ! Pakaiannya masih sutra putih seperti pagi tadi, wajahnya masih terang dan manis seperti tadi, akan tetapi ada keanehan pada diri gadis ini. Kalau pagi tadi Lai Kui Lan amat peramah dan sinar matanya bening terang, kini gadis itu sama sekali tidak menengok ke arahnya, seakan-akan tidak mengenalnya atau tidak melihatnya, padahal tak mungkin tidak melihatnya karena di tempat itu tidak ada orang lain. Dan sinar mata gadis itu, seperti kehilangan semangat, tidak sewajarnya ! Apalagi lengan kiri gadis itu digandeng dengan erat oleh Si Pemuda yang memandang penuh curiga kepadanya.


Kwee Seng membalikkan tubuh, menggoyang-goyang kepalanya seperti seorang pemabokan dan mengangkat tempat arak ke arah pemuda itu dengan gerakan menawarkan. Akan tetapi diam-diam ia memperhatikan Si Pemuda. Seorang pemuda sebaya dengannya, berwajah cukup tampan akan tetapi membayangkan keanehan dan kekejaman, sepasang alisnya yang tebal hitam itu bersambung dari mata atas kiri ke atas mata kanan. Kepalanya kecil tertutup kain penutup kepala yang bentuknya lain daripada biasa. Pada muka itu terbayang sesuatu yang asing, seperti terdapat pada wajah orang-orang asing. Tubuhnya tidak berapa besar namun membayangkan kekuatan tersembunyi yang hebat, sedangkan sinar matanya pun membayangkan tenaga dalam yang kuat. Diam-diam Kwee Seng terkejut dan menduga-duga siapa gerangan pemuda ini, dan mengapa pula Lai Kui Lan ikut dengan pemuda ini dengan sikap seolah-olah seekor domba yang dituntun ke penjagalan.


Seekor domba yang dituntun ke penjagalan ! Kalimat ini seakan-akan berdengung di telinga Kwee Seng, membuatnya termenung lupa akan araknya ketika dua orang itu sudah memasuki kamar tengah, mendengar suara Si Pemuda yang berat dan parau minta kamar dijawab oleh pengurus rumah penginapan. Kemudian, masih lupa akan araknya, Kwee Seng berjalan perlahan menuju ke kamarnya sendiri, kalimat tadi masih terngiang di telinganya. Mungkin, bisik hatinya. Mungkin sekali Lai Kui Lan menjadi domba dan pemuda itu kiranya patut pula menjadi seorang penyembelih domba, seorang jai-hwa-cat (penjahat cabul). Kalau tidak demikian, mengapa sikap Lai Kui Lan begitu aneh seperti orang terkena sihir ? Seperti seorang yang melek akan tetapi tidak sadar ?


Makin gelap keadaan cuaca di luar hotel, makin gelap pula pikirnya Kwee Seng menghadapi teka-teki itu. Hatinya pernah penasaran, biarpun beberapa kali ia meyakinkan hatinya bahwa kehadiran Lai Kui Lan bersama seorang pemuda itu sama sekali bukan urusannya dan bahwa tidak patut mengintai keadaan muda-mudi yang mungkin sedang di lautan madu asmara, namun kecurigaannya mendesak-desaknya sehingga tak lama kemudian, di dalam kegelapan malam, Kwee Seng sudah melayang naik ke atas genteng hotel dan melakukan pengintaian. Hal ini ia lakukan dengan guci arak masih di tangan, karena untuk melakukan pekerjaan yang berlawanan dengan kesusilaan ini ia harus menguatkan hati dengan minum arak.


Akan tetapi ketika ia mengintai ke dalam kamar dua orang itu, hampir saja ia terjengkang saking marah dan kagetnya. Tak salah lagi apa yang dikuatirkan hatinya ! Ia melihat Lai Kui Lan terbaring telentang di atas pembaringan dalam keadaan lemas tak dapat bergerak, mukanya yang pucat itu basah oleh air mata, terang bahwa gadis itu tertotok hiat-to (jalan darah) di bagian thian-hu hiat dan mungkin juga jalan darah yang membuat gadis itu menjadi gagu ! Akan tetapi air mata itu menceritakan segalanya ! Menceritakan bahwa keadaan gadis seperti itu bukanlah atas kehendak Si Gadis sendiri, melainkan terpaksa dan karena tak berdaya. Adapun pemuda tadi, duduk di tepi pembaringan sambil berkata lirih membujuk-bujuk.


"Nona yang baik, mengapa kau menangis?" Dengan gerakan halus dan mesra pemuda itu mengusap-usap kedua pipi yang penuh air mata. "Aku tertarik oleh kecantikanmu, dan andaikata aku tidak tahu bahwa kau adalah suci dari Jenderal kam Si Ek, tentu aku tidak akan berlaku sesabar ini! Aku ingin kau menyerahkan diri kepadaku berikut hatimu, ingin kau membalas cintaku dan kau akan kuajak ke Khitan, menjadi isteriku, isteri seorang panglima! Dengan ikatan ini, tentu adik seperguruanmu akan suka bersekutu dengan kami. Nona, kau tinggal pilih, menyerah kepadaku dengan sukarela, ataukah kau ingin menjadi orang terhina karena aku menggunakan kekerasan? Kau tidak ingin dinodai seperti itu, bukan? Aku Bayisan, panglima terkenal di Khitan, tidak kecewa kau menjadi kekasihku..." Pemuda itu menundukkan mukanya hendak mencium muka gadis yang tak berdaya itu.


Tiba-tiba pemuda yang bernama Bayisan itu meloncat bangun, membatalkan niatnya mencium karena tengkuknya terasa panas dan sakit. Matanya jelilatan ke sana ke mari, cuping hidungnya kembang kempis karena ia mencium bau arak. Ia meraba tengkuknya yang ternyata basah dan ketika ia mendekatkan tangannya ke depan hidung, ia berseru kaget.


"Keparat, siapa berani main-main dengan aku?" "Penjahat cabul jahanam! Di tempat umum kau berani melakukan perbuatan biadab, sekarang beremu dengan aku tak mungkin kau dapat mengumbar nafsu iblismu!" terdengar suara Kwee Seng dari atas genteng.


Bayisan bergerak cepat sekali, tahu-tahu tubuhnya sudah melayang ke luar dari jendela kamar dan beberapa menit kemudian ia sudah meloncat naik ke atas genteng. Akan tetapi ia tidak melihat orang di atas genteng yang sunyi itu! Bayisan celingukan, napasnya terengah-engah karena menahan amarah, sebatang pedang sudah berada di tangan kanannya.


"Heeeei! Jahanam cabul, aku di sini. Mari kita keluar dusun kalau kau memang berani!" Tahu-tahu Kwee Seng suah berada agak jauh dari tempat itu, melambai-lambaikan guci araknya ke arah Bayisan. Tentu saja orang Khitan ini makin marah dan sambil berseru keras ia mengejar. Kwee Seng lari cepat dan terjadilah kejar-kejaran di malam gelap itu, menuju ke luar dusun. Di luar dusun inilah Kwee Seng menantikan lawannya.


Mereka berhadapan. Kwee Seng tenang dan ketika lawannya datang ia sedang meneguk araknya. Bayisan marah sekali, mukanya merah matanya jalang, pedang di tangannya gemetar. Ketika mengenal pemuda pelajar pemabokan itu, ia makin marah.


"Eh, kiranya kau, pelajar jembel tukang mabok! Kau siapakah dan mengapa kau lancang dan mencampuri urusan pribadi orang lain?" Bayisan membentak menahan kemarahannya karena ia maklum bahwa yang berdiri di depannya bukan orang sembarangan sehingga ia harus bersikap hati-hati dan mengenal keadaan lawan lebih dulu. Bayisan terkenal sebagai seorang pemuda yang selain tinggi ilmunya. Juga amat cerdik dan keji. Di Khitan ia terkenal sebagai seorang panglima muda yang tangguh dan pandai. Kwee Seng tertawa. "Aku orang biasa saja, tidak seperti engkau ini, Panglima Khitan merangkap penjahat cabul! Aku mendengar tadi namamu Bauw I San? Belum pernah aku mendengar nama itu! Pernah aku mendengar nama Kalisani sebagai tokoh Khitan yang dipuji-puji, akan tetapi nama Bouw I San (Bayisan) tukang petik bunga (penjahat cabul) aku belum pernah!"


"Hemm, manusia sombong! Aku memang bernama Bayisan Panglima Khitan, kau mendengarnya atau belum bukan urusanku. Aku suka gadis itu dan hendak mengambilnya sebagai kekasih, kau mau apa? Apakah kau iri? Kalau kau iri, apakah kau tidak bisa mencari perempuan lain? Tak tahu malu engkau, hendak merebut perempuan yang sudah menjadi tawananku!"


"Heh-heh-heh, Bayisan hidung belang! Jangan samakan aku dengan engkau! Kau suka mengganggu wanita, aku tidak! Kau penjahat cabul, aku justeru membasmi penjahat cabul! Aku Kwee Seng selamanya tidak memaksa perempuan yang tidak cinta kepadaku!" kalaimat terakhir ini tanpa ia sadari keluar dari mulutnya dan diam-diam Kwee Seng selamanya tidak memaksa perempuan yang tidak cinta kepadaku!" Kalimat terakhir ini tanpa ia sadari keluar dari mulutnya dan diam-diam Kwee Seng meringis karena ia teringat akan Liu Lu Sian yang tidak cinta kepadanya.


Di lain pihak, Bayisan kelihatan terkejut dan marah mendengar disebutnya nama ini. "Akhh, keparat! Jadi kau ini Kwee Seng, pelajar jembel tak tahu malu itu? Kau telah terlepas dari tangan maut Suhuku Ban-pi Lo-cia, sekarang kau tak mungkin terlepas dari tanganku!" setelah berkata demikian, Bayisan menuyerang hebat dengan pedangnya. Pedang itu digerakkan ke atas akan tetapi dari atas menyambar ke bawah dengan bacokan ke arah kepala, kemudian disusul gerakan menusuk dada. Hebat serangan ini, karena sekaligus dalam satu gerakan saja telah menjatuhkan dua serangan yaitu membacok kepala dan menusuk dada!


Akan tetapi Kwee Seng menggerakkan kedua kakinya dan tubuhnya mencelat ke belakang sejauh dua meter sambil meneguk araknya. Sekaligus dua serangan itu gagal sama sekali!


"Aih... aihhh... jadi kau ini murid Ban-pi Lo-cia? Pantas... pantas.... Gurunya hidung belang, muridnya mata keranjang!"


Akan tetapi dengan gerakan kilat Bayisan sudah menerjang maju dan permainan pedangnya benar-benar hebat. Kiranya Bayisan bukanlah sembarang murid dari Ban-pi Lo-cia, agaknya sudah menerima gemblengan dan mewarisi ilmu silat bagian yang paling tinggi, di samping ilmu silat yang dipelajarinya dari orang-orang pandai di daerah utara dan barat. Pedang di tangannya berkelebatan berubah menjadi sinar bergulung-gulung dan angin yang ditimbulkan mengeluarkan bunyi berdesingan mengerikan.


Diam-diam kwee seng kagum juga. Sayang sekali, pikirnya. Jarang ada orang muda dengan ilmu kepandaian sehebat ini, maka amatlah saying kepandaian begini baik jatuh pada diri seorang pemuda yang bermoral rendah. Orang dengan kepandaian seperti ini tentu akan dapt menjunjung tinggi nama besar suku bangsa Khitan yang memang terkenal sejak dulu sebagai suku bagsa yang kuat dan pengelana yang ulet. Menghadapi pedang Bayisan yang tak boleh dipandang ringan ini, terpaksa Kwee Seng mengeluarkan kipasnya dan dengan kipas di tangan kir, barulah ia menghalau semua ancaman bahaya dari pedang itu.


Sebaliknya, Bayisan kaget sekali. Gurunya pernah bercerita bahwa di dunia kang-ouw muncul jago muda bernama Kwee Seng yang berjuluk Kim-o-eng. Akan tetapi gurunya tidak bicara tentang kehebatan pemuda itu, maka sungguh kagetlah ia ketika melihat betapa pemuda itu hanya dengan kipas di tangan mampu menghadapi pedangnya, malah kini semua jalan pedangnya serasa buntu, lubang untuk menyerang tertutup sama sekali! Celaka, pikirnya, andaikata ia dapat menangkan sastrawan muda itu, hal yang amat meragukan, tentu akan makan waktu lama sekali. Pertandingan melawan sastrawan ini tidak penting baginya, lebih penting lagi diri Lai Kui Lan yang ia tinggalkan dalam kamar hotel. Pengaruh totokannya tidak akan tahan lama, apalagi gadis itu memiliki ilmu kepandaian yang tidak rendah. Kalau ia terus melayani sastrawan ini dan Lai Kui Lan dapat membebaskan diri daripada totokan, tentu akan terlepas dan lari. Kalau sudah lari kembali ke benteng,sukarlah untuk menangkapnya lagi. Ia akan menderi! ta! rugi dua kali, pertama, kehilangan calon korban yang begitu menggiurkan, ke dua, rencananya menarik Jenderal Kam Si Ek sebagai sekutu Khitan akan gagal sama sekali.


Berpikir demikian, pemuda Khitan yang cerdik ini lalu mengeluarkan seruan keras dan tinggi hampir merupakan suara lengking memekakkan telinga, kemudian pedangnya bergerak menusuk-nusuk seperti datangnya belasan batang anak panah. Kwee Seng terkejut. Lengking tadi hampir mencapai tingkat yang dapat membahayakan lawan. Kalau pemuda Khitan ini tekun berlatih dan menerima bimbingan orang pandai, tentu akan berhasil memiliki ilmu pekik semacam Saicu-ho-kang (Auman Singa) yang dapat melumpuhkan lawan hanya dengan pengerahan suara saja ! Apalagi lengking itu disusul serangan pedang sehebat itu. Benar-benar pemuda Khitan ini mengagumkan dan berbahaya.


Kwee Seng cepat memutar kipasnya dan karena ia kuatir kipasnya akan rusak menghadapi hujan tusukan itu, ia mengalah dan meloncat ke belakang. Akan tetapi kesempatan itu dipergunakan oleh Bayisan untuk menggerakan tangan kirinya. Benda-benda hitam menyambar dan Kwee Seng mencium bau yang amat tidak enak ketika ia mengelak dan jarum-jarum hitam itu lewat di depan mukanya. Jarum-jarum beracun yang lebih jahat daripada jarum beracun milik Liu Lu Sian ! Untuk menghilangkan bau tidak enak, ia meneguk araknya. Akan tetapi Bayisan meloncat pergi sambil berkata.


"Jembel busuk, Tuanmu tidak ada waktu lagi untuk ... " Hanya sampai di sini kata-kata Bayisan karena tiba-tiba ia terguling roboh dan tubuhnya lemas ! Kiranya secepat kilat Kwee Seng tadi telah menyemburkan dari mulutnya dan menyusulkan sebuah totokan dengan ujung kipasnya. Gerakannya melompat seperti kilat menyambar dengan cepatnya sehingga tidak terduga-duga oleh Bayisan yang lebih dulu sudah tersembur arak pada punggungnya. Robohlah tokoh Khitan itu, terguling telentang. Ia berusaha bangkit namun tak berhasil dan roboh lagi. Di lain saat Kwee Seng sudah berdiri di dekatnya dan menudingkan gagang kipas pada dadanya. Kini suara Kwee Seng keren berpengaruh.


"Bayisan ? Kau terhitung apa dengan Kalisani?" Bayisan orangnya cerdik sekali. Kalau perlu ia sanggup bersikap pengecut untuk menyelamatkan diri. Seketika ia mengerti bahwa nyawanya tergantung pada jawabannya ini. Tanpa ragu-ragu ia berkata, "Dia Kakak Misanku, tunggu saja kau akan pembalasannya karena kau berani menghinaku!"


Kwee Seng tertawa bergelak dan melangkah mundur. "Ho-ho-ha-ha ! Kau hendak menggunakan nama Kalisani untuk menakut-nakuti aku ? Aha, lucu ! Justeru karena engkau saudara misannya, justeru karena memandang mukanya, aku mengampuni jiwamu yang kotor, bukan sekali-kali karena aku takut kepadanya. Huh, manusia rendah yang mencemarkan nama besar orang-orang gagah Khitan!" Kwee Seng meludah, mengenai muka Bayisan, lalu pemuda ini meninggalkan Bayisan, berlari cepat ke dusun.


Ketika ia memasuki kamar lewat jendela, ia melihat Lai Kui Lan masih telentang di atas pembaringan, air matanya bercucuran, akan tetapi kini gadis itu sudah dapat mulai bergerak-gerak lemah. Kwee Seng cepat menggunakan ujung kipasnya menotok jalan darah dan terbebaslah Kui Lan. Gadis ini meloncat bangun, mukanya membayangkan kemarahan besar. Ia bersikap seperti orang hendak bertempur, kedua tangannya yang kecil mengepal, matanya berapi-api memandang ke sana ke mari, mencari-cari. "Mana dia ? Mana jahanam terkutuk itu ? Aku hendak mengadu nyawa dengan jahanam itu!"


"Tenanglah, Nona. Bayisan sudah pergi kupancing dia keluar dusun dan dia sekarang terbaring di sana, tertotok gagang kipasku. Untung bahaya lewat sudah, Nona, dan kiranya tak baik menimbulkan gaduh di hotel ini sehingga memancing datang banyak orang dan akan timbul pertanyaan-pertanyaan yang amat tak baik bagi nama Nona..."


Tiba-tiba Lai Kui Lan memandang Kwee Seng dan menjatuhkan diri di depan pemuda itu sambil menangis. Kwee Seng kebingungan dan menyentuh pundak gadis itu dengan halus. "Ah, apa-apaan ini Nona ?Mari bangkit dan duduklah, kalau hendak bicara, lakukanlah dengan baik, jangan berlutut seperti ini."


Lai Kui Lan menahan isaknya, lalu bangkit dan duduk di atas kursi. Kwee Seng tetap berdiri dan menenggak araknya yang tidak habis-habis itu.


"Kwee-taihiap, kau telah menolong jiwaku..." "Ah, kau tidak terancam bahaya maut, bagaimana bisa bilang aku menolong jiwamu?"


"Kwee-taihiap bagaimana bisa bilang begitu ? Bahaya yang mengancamku di tangan jahanam itu lebih hebat daripada maut..." Gadis itu menangis lagi lalu cepat menghapus air matanya dengan saputangan. "Sampai mati aku Lai Kui Lan tidak dapat melupakan budi Taihiap..." Tiba-tiba sepasang pipinya menjadi merah dan sinar matanya menatap wajah Kwee Seng penuh rasa terima kasih.


Melihat sinar mata itu, Kwee Seng membuang muka dan menenggak araknya lagi. "Lupakanlah saja, Nona, dan berterima kasih kepada Tuhan bahwa kejahatan selalu pasti akan hancur."


"Ah, di mana dia ? Aku harus membunuhnya ! Dia tertotok di luar dusun?" Setelah berkata demikian, gadis itu cepat ke luar dan berlari di dalam gelap.


Kwee Seng menggeleng-gelengkan kepalanya. Memang Bayisan patut di bunuh, akan tetapi ia merasa tidak enak kepada Kalisani, tokoh Khitan yang dikagumi semua orang dunia kang-ouw. Maka ia tidak menghendaki nona itu membunuh Bayisan, dan diam-diam ia mengikuti Lai Kui Lan dari jauh. Akan tetapi hatinya lega ketika ia melihat bahwa ketika Lai Kui Lan tiba di luar dusun, Bayisan sudah tak tampak lagi bayangannya. Kembali ia merasa kagum. Pemuda Khitan itu benar-benar luar biasa, dapat membebaskan diri dari totokan sedemikian cepatnya.


Ketika dengan hati kecewa Kui Lan kembali ke kamar itu, ia tidak melihat Kwee Seng, hanya melihat sehelai kertas bertulis di atas meja. Ia memungutnya dan membaca tulisan yang rapi dan bagus.


Para pelayan telah melihat nona datang bersama dia, tidak baik bagi nona tinggal lebih lama di tempat ini, lebih baik kembali.


Surat itu tak bertanda tangan, akan tetapi Kui Lan maklum siapa orangnya yang menulisnya. Dengan helaan napas panjang, lalu meloncat keluar lagi dan berlari-lari menuju benteng sutenya. Gadis ini tidak tahu bahwa diam-diam dari jauh Kwee Seng mengikutinya untuk menjaga kalau-kalau gadis ini bertemu lagi dengan Bayisan. Setelah gadis itu memasuki benteng, barulah ia berjalan perlahan kembali ke hotelnya, memasuki kamar lalu tidur dengan nyenyak.


Pada keesokan malamnya, Kwee Seng berjalan perlahan mendaki bukit Liong-kui-san. Baiknya malam hari itu angkasa tidak terhalang mendung sehingga bulan yang masih besar menyinar terang, menerangi jalan setapak yang amat sukar dilalui. Diam-diam pemuda ini kagum akan keadaan gunung yang tak dikenalnya ini, bergidik menyaksikan jurang-jurang yang amat dalam, dan ia merasa menyesal mengapa ia kemarin minta supaya Lu Sian datang ke tempat seperti ini. Kalau ia tahu gunung ini begini berbahaya, tentu ia memilih tempat lain. Akan tetapi karena sudah terlanjur, dan ia maklum pula bahwa Lu Sian cukup pandai untuk untuk dapat mendaki gunung ini, ia melanjutkan pendakiannya.


Tepat pada tengah malam ia tiba di puncak bukit. Puncak ini merupakan tempat datar yang luasnya lima belas meter persegi, ditumbuhi rumput tebal, dan di sebelah selatan dan barat merupakan tempat pendakian yang sukar, adapun di sebelah utara dan timur tampak jurang ternganga, jurang yang tak dapat dibayangkan betapa dalamya karena yang tampak hanya warna hitam gelap mengerikan. Jauh sebelah bawah, agaknya di jurang sebelah timur, terdengar suara air gemericik, akan tetapi tidak tampak airnya.


Ketika tiba di tempat itu, Kwee Seng menengok ke belakang dan menarik napas panjang. Sejak tadi ia tahu bahwa ada orang mengikutinya, dan tahu pula bahwa orang itu bukan lain adalah Lai Kui Lan. Ketika tiba di bagian yang sukar dan banyak batunya tadi, diam-diam ia menyelinap dan mengambil jalan lain turun lagi maka ia melihat bahwa orang yang membayanginya tadi itu adalah Lai Kui Lan. Ia diam saja dan tidak menegur, lalu melanjutkan perjalanannya, malah menjaga agar ia tidak mengambil jalan terlalu sukar agar nona yang membayanginya itu dapat mengikutinya dengan aman. Ia menduga-duga apa maksud nona itu dan akhirnya ia mengambil kesimpulan bahwa nona itu tentu ingin pula melihat kelanjutan daripada urusannya dengan Lu Sian. Tiba-tiba ia teringat, Lu Sian seorang yang aneh wataknya. Kalau diketahui bahwa ada orang ketiga hadir, tentu akan marah, bukan tak mungkin timbul keganasannya dan menyerang Kui Lan. Oleh karena inilah maka Kwee Seng tidak jadi naik, cepat ia berlari t! ur! un lagi menyongsong Kui Lan.


Dapat dibayangkan betapa kaget hati Kui Lan ketika melihat Kwee Seng secara tiba-tiba berdiri di depannya, tak jauh dari puncak. Mereka berdiri berhadapan saling pandang, dan Kui Lan menjadi makin gugup.


"Eh... ah... Kwee-taihiap....aku... aku ingin bercerita kepadamu tentang... tentang mengapa aku sampai datang bersama... jahanam itu. Karena aku tidak bisa menjumpai Taihiap di sana, aku... aku lalu datang ke sini karena kau tahu bahwa malam ini Taihiap tentu akan datang disini." Kata-kata ini diucapkan tergesa-gesa dan tergagap sehingga Kwee Seng merasa kasihan, tidak mau menggodanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang mendesak.


"Kau aneh sekali, Nona Lai. Mengapakah kau hendak menceritakan hal itu ? Akan tetapi biarlah, karena kulihat bahwa orang yang hendak kujumpai di sini belum datang di puncak, baiklah kau bercerita. Nah, sekarang aku bertanya, bagaimana kau bisa bertemu dan tertawan oleh Bayisan ? Duduklah biar enak kita bicara."


Lai Kui Lan bernapas lega, lalu ia duduk di atas sebuah batu, berhadapan dengan Kwee Seng yang duduk di atas tanah.


"Kemarin, setelah Taihiap meninggalkan aku di hutan itu." Ia mulai bicara, suaranya menggetar, "aku tak dapat menahan hatiku yang merasa kasihan dan kagum kepada Taihiap. Aku kecewa karena Taihiap tidak sudi menerima undanganku, kami sesungguhnya membutuhkan petunjuk-petunjuk orang sakti seperti Taihiap. Aku tidak putus asa dan berusaha mengejar Tahiap yang menunggang kuda." Ia berhenti sebentar untuk melihat dan menunggu reaksi dari Kwee Seng, akan tetapi pemuda ini diam saja maka ia melanjutkan ceritanya.


"Setelah keluar dari hutan itu, tiba-tiba muncul Bayisan. Dia menyatakan kehendaknya, yaitu bermaksud untuk membujuk sute untuk bersekutu dengan orang-orang Khitan. Tentu saja aku menjadi marah dan memaki lalu kami bertempur dengan kesudahan aku kalah dan tertawan. Dia lihai bukan main,orang Khitan keparat itu. Demikianlah, dalam keadaan tak berdaya aku dibawa ke rumah penginapan itu. Untung Tuhan melindungi diriku sehingga dapat bertemu dengan Taihiap. Kwee-taihiap, kuulangi lagi permohonanku, sudilah kiranya Taihiap berkunjung ke benteng, berkenalan dengan Suteku dan kami mohon petunjuk-petunjuk dari Tahiap dalam suasana yang kacau balau ini. Kami seakan-akan hampir kehilangan pegangan, Taihiap, demikian banyaknya muncul raja-raja yang membangun kerajaan-kerajaan kecil sehingga sukar bagi kami untuk menentukan nama yang baik dan mana yang buruk."


Di dalam hatinya Kwee Seng memuji. Nona ini, seperti juga Kam Si Ek, adalah seorang yang amat cinta kepada negara, orang-orang berjiwa patriot yang akan rela mengorbankan jiwa raga demi negara dan bangsa. Tak enaklah kalau menolak terus.


"Baiklah, Nona Lai. Setelah selesai urusanku di sini, aku akan singgah di benteng Jenderal Kam."


"Terima kasih, Taihiap, terima kasih...!" Dengan suara penuh kegembiraan Kui Lan menjura, berkali-kali.


"Ssttt, ada orang di puncak. Nona Lai, karena kau sudah terlanjur berada di sini, aku pesan, kau bersembunyilah dan jangan sekali-kali kau keluar, jangan sekali-kali memperlihatkan diri, apapun juga yang terjadi. Maukah kau memenuhi permintaanku ini?"


Lai Kui Lan dapat mengerti isi hati Kwee Seng, dengan muka sedih ia mengangguk. Akan tetapi karena muka itu tertutup bayangan, Kwee Seng tidak melihat kesedihan ini, Kwee Seng lalu bangkit dan meninggalkan Kui Lan, mendaki puncak. Benar saja dugaannya, ketika ia tiba di puncak, di sana telah berdiri Liu Lu Sian. Bukan main jelitanya gadis ini. Di bawah sinar bulan yang tak terhalang sesuatu, gadis ini seperti seorang dewi dari khayangan. Sinar bulan membungkus dirinya, rambutnya mengeluarkan cahaya, matanya seperti bintang.


"Kiranya kau tidak lupa akan janjimu. Kwee Seng, aku sudah berada di sini, siap menerima ilmu seperti yang kau janjikan dahulu." Kata Liu Lu Sian, akan tetapi suaranya amat tidak menyenangkan hati, karena terdengar dingin, alangkah jauh bedanya dengan pribadinya yang seakan-akan menciptakan kehangatan dan kemesraan. Ia tahu bahwa gadis itu selain tidak membalas cinta kasihnya, juga mendendam kepadanya. Karena itu, ia pun tidak mau menggunakan sebutan moi-moi (adinda), karena kuatir kalau-kalau hal itu akan menambah kemarahan Si Gadis dan akan menimbulkan cemoohan terhadap dirinya yang sudah terang tergila-gila kepada Lu Sian.


"Lu Sian, sebetulnya ilmu yang kupergunakan untuk menandingimu dahulu itu hanyalah Ilmu Silat Pat-sian-kun biasa saja."


"Tak perlu banyak alasan, Kwee Seng. Kalau ada ilmu yang hendak kau turunkan kepadaku seperti janjimu, lekas beri ajaran!"


Kwee Seng menggigit bibirnya, lalau berkata, "Kau lihatlah baik-baik. Inilah ilmu silat itu." Ia lalu bersilat dengan gerakan lambat dan memang ia mainkan Ilmu Silat Pat-sian-kun-hwat dengan tangan kosong, akan tetapi jelas bahwa gerakan-gerakan ini diperuntukkan senjata pedang. Sebetulnya ilmu silat ini ada enam puluh jurus banyaknya. Akan tetapi ketika Kwee Seng menerima petunjuk dari Bukek Siansu Si Manusia Dewa, ia hanya meringkasnya menjadi seperempatnya saja, jadi hanya enam belas jurus inti yang sudah meliputi seluruhnya dan mencakup semua gerak kembang atau gerak pancingan, gerak serangan atau gerak pertahanan. Setelah mainkan enam belas jurus itu, Kwee Seng berhenti dan memandang kepada Lu Sian sambil berkata.


"Nah, inilah ilmu silatku yang hendak kuajarkan kepadamu, Lu Sian, Sudahkah kau memperhatikan gerakannya ? Harap kau coba latih, mana yang kurang jelas akan kuberi penjelasan."


"Ah, kau membohongi aku!" Lu Sian berseru marah. "Ilmu silat macam itu saja, dilihat dari gerakannya jauh kalah lihai daripada Pat-mo Kiam-hoat ciptaan Ayah ! Mana bisa kaukalahkan aku dengan ilmu itu ? Kwee Seng, aku tahu, setelah kau tidak bisa mendapatkan cintaku, kau hendak membalasnya dengan menyuguhkan ilmu silat pasaran untuk menghinaku!"


Gemas hati Kwee Seng, dan perih perasaannya. Gadis ini terlalu kejam kepada orang yang tidak menjadi pilihan hatinya. "Lu Sian, sipa membohongimu ? Ketika aku menghadapimu dahulu, aku tidak menggunakan ilmu lain kecuali ini!"


"Aku tidak percaya ! Coba kau sekarang jatuhkan aku dengan ilmu itu!"


"Baiklah. Biar kugunakan ini sebagai pedang." Kwee Seng mengambil sebuah ranting pohon yang berada di tempat itu. "Kau mulailah dan lihat baik-baik, aku hanya akan menggunakan Pat-sian-kun!"


Lu Sian mencabut pedangnya, lalu menerjang dengan gerakan kilat, mainkan jurus berbahaya dari ilmu pedang ciptaan ayahnya, yaitu Pat-mo Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Iblis) yang memang diciptakan untuk menghadapi Pat-sian-kun (Ilmu Silat Delapan Dewa).


Melihat pedang nona itu berkelebat menusuk ke arah dadanya dengan kecepatan luar biasa, Kwee Seng menggeser kakinya ke kiri lalu ranting di tangan kanannya melayang dari samping menempel pedang dari atas dan menekan pedang lawan itu ke bawah disertai tenaga sin-kang. Pedang Lu Sian tertekan dan tertempel seakan-akan berakar pada ranting itu ! Betapapun Lu Sian berusaha melepaskan pedang, sia-sia belaka.


"Nah, tangkisan ini dari jurus keempat yaitu pat-sian-khat-bun (Delapan Dewa Buka Pintu) dan dapat dilanjutkan dengan serangan jurus ke delapanPat-sian-hian-hwa (Delapan Dewa Serahkan Bunga), pedang menyambar sesuka hati, boleh memilih sasaran, akan tetapi untuk contoh aku hanya menyerang bahu." Tiba-tiba ranting yang tadinya menekan pedang itu lenyap tenaga tekannya dan selagi pedang Lu Sian yang telepas dari tekanan ini meluncur ke atas, ranting cepat melesat dan menyabet bahu kanan Lu Sian !


Lu Sian meringis, tidak sakit, akan tetapi amat penasaran. "Coba hadapi ini!" teriaknya dan pedangnya membuat lingkaran-lingkaran lebar, dari dalam lingkaran itu ujung pedang menyambar-nyambar laksana burung garuda mencari mangsa, mengancam tubuh bagian atas dari lawan.


"Seranganmu ini kuhadapi dengan jurus ke lima yang disebut Pat-sian-hut-si (Delapan Dewa Kebut Kipas) untuk melindungi diri." Kata Kwee Seng dan tiba-tiba ranting di tangannya berputar cepat merupakan segunduk sinar bulat melindungi tubuh atasnya dan dilanjutkan dengan serangan jurus ke empat belas yang disebut Delapan Dewa Menari Payung!" Tiba-tiba gulungan sinar bulat itu berubah lebar seperti payung dan tahu-tahu dari sebelah bawah, ranting telah meluncur dan menyabet paha Lu Sian sehingga mengeluarkan suara "plak!" keras. Kalu saja ranting itu merupakan pedang tentu putus paha gadis itu !


"Aduh ...!" Lu Sian menjerit karena pahanya yang disabet terasa pedas dan sakit. "Kwee Seng, kau kurang ajar...!"


"Maaf, bukan maksudku menyakitimu. Sudah percayakah kau sekarang?"


"Tidak ! Kau akali aku ! Aku minta kau ajarkan ilmu-ilmi silatmu yang terkenal, seperti Lo-hai-san-hoat (Ilmu Kipas Menaklukan Lautan), atau Cap-jit-seng-kiam (Ilmu Pedang Tujuh Belas Bintang), atau Ilmu Pukulan Bian-sin-kun (Tangan Sakti Kapas)!"


Kwee seng terkejut. Bagaimana nona ini bisa tahu akan ilmu-ilmu silat rahasia simpanannya itu ? Ia menjadi curiga. Kalau Pat-jiu Sin-ong mungkin tahu, akan tetapi nona ini ? Suaranya keren berwibawa ketika ia menjawab.


"Liu Lu Sian, harap kau jangan minta yang bukan-bukan. Aku hanya hendak mengajarkan kau Pat-sian-kun, dan kau harus menerima apa yang hendak kuberikan kepadamu."


"Kau hendak melanggar janji??" "Sama sekali tidak. Aku berjanji kepada ayahmu hendak mengajarkan ilmu yang dapat mengalahkan ilmu pedangmu itu, dan kurasa Pat-sian-kun yang dapat menjadi Pat-sian Kiam-hoat dapat mengalahkan ilmu pedangmu Pat-mo Kiam-hoat!"


"Hoa-ha-ha-ha ! Kau menggunakan akal untuk menipu anak kecil, Kwee-hiante. Sungguh keterlaluan sekali!"


Kwee Seng kaget dan cepat menengok. Kiranya Pat-jiu Sin-ong sudah berdiri disitu, tinggi besar dan bertolak pinggang sambil tertawa. Cepat Kwee Seng memberi hormat sambil berkata, "Ah, kiranya Beng-kauwcu telah berada disini!" Akan tetapi di dalam hatinya ia tidak senang dan tahulah ia sekarang mengapa Lu Sian mengenal semua ilmu simpanannya, tentu sebelumnya telah diberi tahu oleh orang tua ini yang hendak mempergunakan puterinya untuk menjajaki kepandaiannya dan kalau mungkin mempelajari ilmu simpanannya. "Beng-kauwcu, apa maksudmu dengan mengatakan bahwa aku menggunakan akal untuk menipu puterimu?"


"Ha-ha-ha ! Kau bilang tadi bahwa Pat-sian-kun dapat menangkan Pat-mo Kiam-hoat ! Tentu saja kau dapat menangkan Lu Sian karena memang tingkat kepandaianmu agak lebih tinggi daripada tingkatnya." Dengan ucapan "agak lebih tinggi" ini terang orang tua itu memandang rendah kepada Kwee Seng, akan tetapi pemuda itu mendengarkan dengan tenang dan sabar. "Andaikata aku yang mainkan Pat-mo Kiam-hoat, apakah kau juga masih berani bilang dapat mengalahkannya dengan Pat-sian-kun?"



"Orang tua yang baik, mana aku yang muda berani main-main denganmu? Kita sama-sama tahu bahwa ilmu silat sama sekali bukan merupakan syarat mutlak untuk menangkan pertandingan, melainkan tergantung daripada kemahiran seseorang. Betapa indah dan sulitnya sebuah ilmu kalau si pemainnya kurang menguasai ilmu itu, dapat kalah oleh seorang ahli mainkan sebuah ilmu biasa saja dengan mahir. Puterimu dahulu kuhadapi dengan Pat-sian-kun, hal ini kau sendiri tahu. Aku berjanji hendak menurunkan ilmu yang kupakai mengalahkan dia, malam ini kuturunkan kepadanya Pat-sian-kun, apalagi yang harus diperbincangkan?"


"Orang muda she Kwee ! Dua kali kau menghina kami keluarga Liu!" Si Ketua Beng-kauw membentak, suaranya mengguntur sehingga bergema di seluruh punucak, membikin kaget burung-burung yang tadinya mengaso di pohon. Dari jauh terdengar auman binatang-binatang buas yang merasa kaget pula mendengar suara aneh ini.


"Pa-jiu Sin-ong, aku tidak mengerti maksudmu." Jawab Kwee Seng, tetap tenang.


"Dengan setulus hati aku menjatuhkan pilihanku kepadamu, aku akan girang sekali kalau kau menjadi suami anakku. Akan tetapi kau pura-pura menolak ketika berada di sana. Ini penghinaan pertama. Kemudian kau mengadakan perjalanan dengan puteriku, kuberi kebebasan karena memang aku senang mempunyai mantu engkau. Dalam perjalanan ini kau jatuh cinta kepaa Lu Sian, sikapmu menjemukan seperti seorang pemuda lemah. Ini masih kumaafkan karena memang kukehendaki kau mencintainya dan menjadi suaminya. Akan tetapi Lu Sian meliha kelemahanmu dan tidak mau membalas cintamu, melainkan mengharapkan ilmumu. Dan sekarang, kau yang katanya mencintainya mati-matian, ternyata hanya hendak menipunya, karena kalau betul mencinta, mengapa tidak rela mewariskan ilmu simpananmu ? Inilah penghinaan ke dua!"


Panas hati Kwee Seng. Terang sudah sekarang bahwa orang tua ini secara diam-diam mengawasi gerak-geriknya. Ia menjadi malu sekali mengingat akan kebodohan dan kelemahannya. Akan tetapi orang tua ini terang berlaku curang dan tak tahu malu.


"Pat-jiu Sin-ong ! Sama kepala lain otak, sama dada lain hati ! kau menganggap aku menipu, aku menganggap kau dan puterimu yang hendak mendesakku dan bahkan kau hendak menggunakan rasa hatiku yang murni terhadap puterimu untuk memuaskan nafsu tamakmu akan ilmu silat. Tidak, beng-kauwcu aku tetap dengan pendirianku, karena Pat-sian-kun yang mengalahkan Pat-mo-kun yang dipergunakan puterimu, maka sekarang aku hanya dapat menurunkan Pat-sian-kun saja."


"Singgg!!!" Tiada menduga, kilat menyambar. Kiranya kilat itu keluar dari pedang di tangan Pat-jiu Sing-ong yang telah dihunusnya secara cepat sekali sehingga seperti main sulap saja, tahu-tahu di tangannya sudah ada sebatang pedang yang kemilau. Inilah Beng-kong-kiam (Pedang Sinar Terang) yang sudah puluhan tahun menemani tokoh ini merantau sampai jauh ke barat, pedang yang minum entah berapa banyaknya darah manusia.


"Kalau begitu, kau cobalah hadapi Pat-mo-kiam dengan begitu Pat-sian-kiam !" teriaknya.


Terkejutlah Kwee Seng. Menghadapi seorang tokoh seperti Pat-jiu Sin-ong, bukanlah hal main-main, karena berarti merupakan pertempuran selama dua hari dua malam melawan Ban-pi Lo-cia berkesudahan seri, tiada yang kalah atau menang. Ini saja sudah membuktikan betapa hebatnya kepandaian kakek ini, dan sekarang kakek ini mengajak ia bertanding pedang ! Dia tidak mempunyai pedang, biasanya ia menggunakan suling sebagai pengganti pedang. Akan tetapi sulingnya tidak ada lagi ! Namun Kwee Seng adalah seorang pemuda gemblengan yang telah memiliki batin yang kuat sekali. Kalau baru-baru ini batinnya tergoncang dan lemah oleh asmara, hal ini tidaklah aneh karena ia masih muda, tentu saja menghadapi Dewi Asmara ia tidak akan kuat bertahan ! Dengan sikap tenang Kwee Seng mengambil ranting yang tadi ia lepaskan di atas tanah lalu menghadapi kakek itu sambil berkata.


"Pat-jiu Sin-ong, aku tidak mempunyai senjata lainnya selain ini. Kalau kau bertekad hendak memaksaku, silakan."


"Ha-ha-ha-ha, Kwee Seng. Coba kau keluarkan Pat-sian-kun yang kau agung-agungkan itu menghadapi Pat-mo-kun ! Lu Sian, mundur kau jauh-jauh dan jangan sekali-kali campur tangan!" Lu Sian meloncat mundur, menonton dari pinggir jurang.


Pat-jiu Sin-ong memutar-mutar pedangnya di atas kepala sambil tertawa bergelak. Hebat sekali kakek ini. Pedangnya yang diputar di atas kepala itu berdesingan mengaung-ngaung seperti suara sirene dan lenyaplah bentuk pedang, berubah menjadi sinar bergulung-gulung yang melebihi sinar bulan terangnya



"Kwee Seng, inilah jurus ke tiga dari Pat-mo-kun, sambutlah!" teriak pat-jiu-Sin-ong, disusul dengan menyambarnya sinar terang ke arah Kwee Eng.


Karena Pat-mo Kiam-hoat ini sengaja dicipta untuk menghadapi Pat-sian Kiam-hoat, maka tentu saja gerakannya ada persamaan dan Kwee Seng mengenal baik gaya serangan ini, akan tetapi ia maklum bahwa jurus ini kalau dimainkan oleh pat-jiu Sin-ong amatlah jauh bedanya dengan permainan Lu Sian. Jurus apa saja kalau diperagakan oleh tangan kakek Ketua Beng-kauw ini merupakan jurus maut yang amat hebat dan berbahaya. Sekali pandang ia tahu bahwa jurus lawannya ini harus ia hadapi dengan Pat-sian-kun, jurus ke sebelas. Setiap jurus Pat-sian-kun yang sudah ia ringkas itu dapat menghadapi empat macam jurus lawan. Sambil mengerahkan tenaganya ia menggerakkan ranting di tangan kanannya, memutar-mutar ranting itu seperti gerakan seekor ular berenang. Dengan tepat rantingnya berhasil menangkis pedang.


"Krakkkk!" Ranting itu patah menjadi dua. Pat-jiu Sin-ong menarik pedangnya sambil tertawa bergelak.


"Ha-ha-ha-ha, kau sungguh tak memandang mata kepadaku, Kim-mo-eng ! Apa kaukira dapat mempermainkan aku hanya dengan sepotong ranting saja seperti yang kaulakukan kepada Lu Sian?"


"Kau tahu bahwa aku tidak memiliki senjata pedang, Pat-jiu Sin-ong." Jawab Kwee Seng dengan sikap tenang, akan tetapi diam-diam ia senang juga karena ternyata Ketua Beng-kauw ini biarpun wataknya aneh dan kadang-kadang kejam ganas, namun masih memiliki kegagahan seorang tokoh besar sehingga tadi menarik kembali pedangnya karena senjata lawan yang tak berimbang kekuatannya itu patah.


"Lu Sian, kaupinjamkan pedangmu kepadanya, biar dia mencoba membuktikan omongannya bahwa Pat-sian-kun dapat mengalahkan Pat-mo-kun kita."


Lu Sian mengeluarkan suara ketawa mengejek mencabut pedangnya dan melontarkannya ke arah Kwee Seng. Jangan dipandang ringan lontaran ini, karena pedang itu bagaikan anak panah terlepas dari busurnya terbang ke arah Kwee Seng.Ahli silat biasa saja tentu akan "termakan" oleh pedang terbang ini. Akan tetapi dengan tenang Kwee Seng mengulur tangan dan tahu-tahu ia telah menangkap pedang itu dari samping tepat pada gagangnya.


"Ha-ha-ha, sekarang kau sudah bersenjata pedang. Kalau kalah jangan mencari alasan lain. Awas, sambut ini jurus ke tujuh Pat-mo-kun!" kata Pat-jiu Sin-ong sambil menggerakkan pedangnya membabat ke arah iga kiri Kwee Seng dilanjutkan dengan putaran pedang membalik ke atas menusuk mata kanan.

Diam-diam Kwee Seng mendongkol. Terang bahwa Ketua Beng-kauw ini sengaja mengejek dan memandang rendah kepadanya sehingga setiap menyerang menyebut urutan nomor jurus Pat-mo-kun. Kalau ia tidak memperhatikan kelihaiannya, kakek yang sombong ini akan menjadi semakin sombong, pikirnya. Maka ia cepat memutar pedang pinjamannya itu, pedang yang amat ringan dan enak di pakai. Tahu bahwa pedang Toa-hong-kiam ini merupakan pedang pusaka yang ampuh juga, hatinya besar dan cepat ia mainkan Pat-sian Kiam-sut dengan pengerahan tenaga sin-kangnya. Dua kali serangan lawan dapat ia tangkis dengan meminjam tenaga lawan kemudian pedangnya terpental seperti terlepas dari tangannya, padahal sebetulnya terpentalnya pedang itu terkendali sepenuhnya oleh tenaga sin-kangnya, maka dapat ia atur sehingga pedang itu terpental dengan ujungnya mengarah tenggorokan lawan yang sama sekali tidak menyangkanya. Pat-jiu Sin-ong diam-diam kaget juga,karena ia tiidak mengira bahwa serangan pertamanya itu se! ak! an-akan malah dijadikan batu loncatan oleh Kwee Seng sehingga bukan merupakan serangan lagi melainkan merupakan tenaga bantuan bagi lawan untuk balas menyerang dengan tenaga sedikit namun dapat mematikan!


Bersambung...

Popular posts