Theme Support

Showing posts with label bu kek siansu. Show all posts
Showing posts with label bu kek siansu. Show all posts

Monday, 22 April 2013

1.15 Bu Kek Siansu (Tamat)


Malam hari itu, mereka berhasil lolos keluar dari kota raja dan semalam suntuk terus melarikan diri ke barat. Pada keesokan harinya, dengan tubuh lesu dan lelah, mereka sudah tiba jauh dari kota raja dan selagi mereka hendak mengaso, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dari belakang. Mereka terkejut dan cepat menyelinap ke dalam semak-semak untuk ber-sembunyi. Akan tetapi, empat orang yang menunggu kuda itu sudah melihat mereka dan begi-tu tiba di tempat itu, mereka meloncat turun, mencabut senjata dan seorang di antara mereka berseru, "Dua orang pengkhianat rendah, keluarlah!" Dari tempat persembunyian mereka, Swi Niodan Toan Ki mengenal empat orang itu. Mereka adalah bekas-bekas teman mereka ketika masih membantu An Lu Shan dahulu di masa "perjuangan". Karena mengenal mereka dan tahu bahwa mereka itu adalah orang-orang kang-ouw yang dahulu juga membantu pembe-rontakan karena sakit hati kepada kelaliman Kaisar, Swi Nio dan Toan Ki meloncat keluar.

Liem Toan Ki tersenyum memandang kepada kakek berusia lima puluh tahun yang memimpin rombongan empat orang itu. Kakek ini bernama Thio Sek Bi, murid dari seorang tokoh kang-ouw kenamaan, yaitu Thian-tok Bhong Sek Bin! Adapun tiga orang yang lain adalah orang-orang kang-ouw yang agaknya tunduk kepada Thio Sek Bi ini, namun menurut pengetahuan Toan Ki, kepandaian mereka tidaklah perlu dikhawatirkan. Hanya orang she Thio ini lihai.

"Thio-twako, kita sama mengerti bahwa perjuangan kita hanya untuk meng-halau Kaisar lalim. Urusan kami di istana The Kwat Lin sama sekali tidak ada hubungannya dengan urusan perjuangan. Harap Toako tidak mencampuri urusan pribadi dan suka mengalah, membiarkan kami pergi dengan aman."

"ha-ha-ha-ha! Liem Toan Ki, enak saja kau bicara! Setelah berhasil memperoleh pusa-ka-pusaka keramat, mau lolos begitu saja dan melupakan teman! Kami berempat tentu akan menerima uluran tanganmu yang bersahabat kalau saja persahabatan itu kau buktikan dengan membagikan sebagian pusaka itu. Demikian banyaknya, buat apa bagi kalian? Membagi sedikit kepada kawan, sudah sepatutnya, ha-ha!" Thio Sek Bi berkata sambil menudingkan senjata toya ditangannya ke arah punggung Toan Ki, di mana terdapat buntalan pusaka yang dititipkan kepadanya oleh Swat Hong.

"Ya, sebaiknnya bagi rata, bagi rata antara teman sendiri, Saudara Liem Toan Ki dan Nona Bu Swi Nio!" kata orang ke dua sedangkan teman-temannya juga mengangguk setuju. Toan Ki terkejut. Mengertilah dia bahwa tentu empat ini malam tadi ikut mengepung dan mereka mendengar penitipan pusaka itu oleh Swat Hong , maka mereka lalu diam-diam mengejar sampai di hutan ini.

"Hem, saudara-saudara. Kalau kalian tahu bahwa ini adalah pusaka tentu kalian tahu pula bahwa ini bukanlah milikku, dan aku hanya dititipi saja dan tidak berhak membagi-bagikan kepada siapapun juga."

“Ha-ha-ha! Lagaknya! Siapa mau percaya omonganmu? Pusaka-pusaka dari Pulau Es yang hanya dikenal di dunia kang-ouw sebagai dalam dongeng telah berada di tangan kalian dan kalian benar-benar tidak menghendakinya? Bohong!" kata Thio Sek Bi sambil tertawa mengejek.

“Bohong atau tidak, apa yang dikatakan oleh Ki-koko adalah tepat! kami tidak kan membagi pusaka kepada kalian atau siapapun juga. Habis kalian mau apa?" Bu Swi Nio membentak sambil mencabut pedangnya.

"Ha-ha, wah lagaknya! Kalau begitu, pusaka itu akan kami rampas dan kalian berdua, mati atau hidup, akan kami seret kembali ke kota raja!" kata Thio Sek Bi sambil memutar toyanya, diikuti oleh tiga orang kawannya. Swi Nio dan Toan Ki menggerakan senjata dan melawan dengan mati-matian. Ilmu toya yang dimainkan oleh Thio Sek Bi amat hebat dan aneh karena dia adalah murid dari Thian-tok. Thian-tok (Racun langit) terkenal sebagai seorang ahli racun dan sebagai pemuja tokoh dongeng Kauw-cee-thian Si Raja Monyet, maka yang paling hebat di antara ilmu silatnya adalah ilmu silat toya panjang yang disebut Kim-kauw-pang seperti senjata tokoh dongeng Kau-cee-thian sendiri! Muridnya ini, biarpun senjatanya toya, namun dimainkan dengan gerakan yang amat aneh dan sebentar saja Toan Ki sudah terdesak olehnya. Namun, Liem Toan Ki adalah seorang murid Hoa-san-pai yang memiliki dasar ilmu yang bersih dan kuat. Selain itu, dia sudah mempunyai banyak penga-laman, bahkan tidak ada yang tahu bahwa dia adalah murid Hoa-san-pai karena selain dia tidak pernah mengaku karena takut membawa-bawa nama Hoasan- pai dengan pembe-rontakan, juga ilmu silatnya sudah dia campur dengan ilmu silat lain sehingga tidak kentara benar. Dengan gerakan pedang yang indah dan cepat, dia dapat menjaga diri dari desakan toya di tangan Thio Sek Bi. Di lain pihak, Swi Nio yang menghadapi pengeroyokan tiga orang itu, tidak mengalami banyak kesulitan. Wanita muda ini pernah digembleng oleh The Kwat Lin, sedikit banyaknya telah mewarisi ilmu yang dahsyat dari wanita itu, maka kini dikeroyok oleh tiga orang lawan yang tingkatnya dibawah dia, tentu saja dia dengan mudah dapat memper-mainkan mereka.

Terdengar Swi Nio mengeluarkan suara melengking berturut-turut seperti yang biasa dikeluarkan oleh The Kwat Lin, dan tiga orang lawannya roboh berturut-turut dan terluka parah, tidak mampu melawan lagi. Sambil melengking keras, Swi Nio meloncat dan mem-bantu kekasihnya yang terdesak oleh toya Thio Sek Bi. "Cring! Tranggggg......!" Swi Nio terhuyung, akan tetapi Thio Sek Bi merasa betapa telapak tangannya panas.

Liem Toan Ki tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, menubruk maju dan memutar pedangnya kemudian dibantu oleh kekasihnya dia terus mendesak sehingga permainan toya dari murid Thian-tok itu menjadi kacau. Akhirnya, tiga puluh jurus kemudian, robohlah Thio Sek Bi, lengan kanannya terbacok dan terluka parah, juga pundak kirinya terobek ujung pedang Swi Nio.  JILID 24

"Lekas.....! Kita pakai kuda mereka!" Liem Toan Ki berkata kepada kekasihnya. Swi Nio menyambar kendali dua ekor kuda terbaik, sedangkan Toan Ki lalu mencambuk dua ekor kuda yang lain sehingga binatang-binatang itu kabur ketakutan. Kemudian mereka meloncat ke atas punggung kuda rampasan itu dan membalapkan kuda meninggalkan tempat itu.

"Mestinya mereka itu dibunuh, akan tetapi aku tidak tega melakukannya," kata Toan Ki.

"Benar, belum tentu mereka itu jahat."

"Moi-moi, berhenti dulu," tiba-tiba Toan Ki berkata. Swi Nio menahan kudanya dan melihat kekasihnya seperti orang bingung.

"Ada apakah?"

"Tidak baik kalau kita menuruti permintaan Nona Han Swat Hong pergi ke Awan Merah."

Bu Swi Nio mengerutkan alisnya dan memandang kepada kekasihnya dengan penuh selidik. Selama ini, dia selain mencinta, juga kagum dan percaya penuh kepada kekasihnya yang dianggapnya seorang pria yang gagah perkasa dan patut dibanggakan. Akan tetapi sekarang dia memandang penuh curiga. jangan-jangan kekasihnya juga ketularan penyakit seperti empat orang tadi, menginginkan pusaka Pulau Es! Biarpun dia sendiri belum pernah membuka-buka pusaka-pusaka itu, namun dia maklum bahwa pusaka-pusaka Pulau Es yang berada di tangan gurunyaadalah pusaka yang tak ternilai harganya, benda keramat yang tentu mengandung ilmu-ilmu mujijat! "Kok, apa..... apa maksudmu?"

Mendengar nada suara kekasihnya, Toan Ki mengangkat muka memandang. Mereka bertemu pandang dan Toan Ki tersenyum, memegang tangan kekasihnya dan mencium tangan itu. "Ihhhh! kau berdosa padaku, memandang penuh curiga seperti itu!" katanya tertawa. "Tidak, Moi-moi, tidak ada pikiran yang bukan-bukan di dalam hatiku. Aku hanya teringat akan bahaya besar kalau kita ke Awan Merah. Thio Sek Bi tadi adalah murid Thian-kok, sedangkan Thian-kok adalah suheng dari Puncak Awan Merah di tai-hang-san! Kalau murid dari Sang Suheng seperti Thio Sek Bi tadi, apakah kita dapat mengharapkan sute akan lebih baik? Jangan-jangan kita seperti ular-ular menghampiri penggebuk!"

"Sialan! Kausamakan aku dengan ular? Koko, kalau begitu, bagaimana baiknya sekarang?" Swi Nio menghentikan kelakarnya karena menjadi khawatir juga.

"Swi-moi, tugas yang kita pikul bukanlah ringan. Apalagi karena agaknya sudah banyak yang tahu bahwa kita berdualah yang memegang pusaka-pusaka Pulau Es, maka kurasa lang-kah-langkah kita tentu akan dibayangi orang-orang kang-ouw yang ingin merampas Pusaka Pulau Es. Ke mana pun kita pergi, kita tentu akan dicari oleh mereka."

Swi Nio menjadi pucat. Baru dia sadar betapa berat dan berbahaya tugas mereka.

"Aihh, kalau begitu bagaimana baiknya?'

"Tidak ada jalan lain kecuali berlindung ke Hoa-san. Aku akan minta bantuan Hoa-san-pai agar suka menerima kita bersembunyi di sana dan menyembunyikan pusaka di sana. Hanya Hoa-sa n-pai saja yang dapat kupercaya dan kiranya tidak sembarangan orang berani main gila di Hoa-san-pai."

"Engkau benar, Koko dan aku setuju sekali. Akan tetapi, bagaimana nanti kalau yang mempunyai pusaka ini menyusul kita ke Puncak Awan Merah dan tidak mendapatkan kita di sana?"

"Lebih baik begitu daripada mendapatkan kita di sana tanpa pusaka lagi, atau mende-ngar bahwa kita tewas dan pusaka dirampas orang! Sebagai orang-orang yang sakti, tentu me-reka akan dapat mencari kita atau menduga bahwa aku berlindung ke Hoa-san-pai. Mari kita berangkat, Moi-moi, hatiku tidak enak sebelum kita tiba di Hoa-san."

Demikianlah, dua orang itu lalu bergegas melanjutkan perjalanan ke Hoa-san. Setelah tanpa halangan mereka tiba di bukit itu, Toan Ki mengajak kekasihnya langsung menghadap ketua Hoa-san-pai yang terhitung twa-supeknya (uwak guru pertama) sendiri yang tidak per-nah dijumpainya. Setelah bertemu dengan Kong Thian Cu, ketua Hoa-san-pai pada waktu itu, seorang kakek tinggi kurus yang bersikap lemah lembut dan rambutnya sudah putih semua, serta merta kedua orang muda itu menjatuhkan diri berlutut.

"Teecu Liem Toan Ki menghaturkan hormat kepada Twa-supek," kata Toan Ki.

"Teecu Bu Swi Nio menghaturkan hormat kepada Locianpwe," kata Swi Nio penuh hormat.

Kakek itu mengangguk-angguk. "Duduklah dan bagaimana engkau dapat menyebut pinto sebagai Twasupek, orang muda?"

"Teecu adalah murid dari Suhu Tan Kiat yang membuka perguruan silat di Kun-min dan menurut Suhu, katanya beliau adalah sute dari Twa-supek yang menjadi ketua di Hoa-san-pai, sungguhpun Suhu berpesan agar teecu tidak menyebut-nyebutnama Hoa-san-pai kepada siapapun juga."

Kakek itu kelihatan terkejut, lalu menarik napas panjang, mengelus jenggotnya dan kembali mengangguk-angguk. "Tan-sute memang murid Suhu, akan tetapi sayang, pernah dia membuat mendiang Suhu marah dan mengusirnya. Padahal bakatnya baik sekalli. Kiranya dia membuka perguruan silat? Dan dia pesan agar muridnya tidak membawa nama Hoa-san-pai? Bagus, ternyata dia jantan juga. Di manakah dia sekarang dan bagaimana keadaannya?"

"Suhu telah tewas dalam keadaan penasaran, difitnah pembesar sebagai pemberontak dan dijatuhi hukuman mati."

"Ahhh....!"

"Karena itulah maka teecu sebagai muridnya yang juga menderita karena orang tua teecu juga menjadi korban keganasan pembesar pemerintah, lalu ikut berjuang bersama An Lu Shan, kemudian setelah berhasil tecu mengundurkan diri karena teecu tidak menghendaki ke-dudukan apa-apa. Apalagi melihat betapa Angoanswe menerima bantuan orang-orang dari kaum sesat, maka teecu mengundurkan diri."

"Bagus, baik sekali engkau mengambil keputusan itu, karena biarpun engkau tidak me-nyebut nama Hoasan- pai, namun pinto akan ikut merasa menyesal kalau ada orang yang me-warisi kepandain Hoa-san-pai mempergunakan kepandaian itu untuk urusan pemberontak. Sekarang engkau bersama Nona ini datang menghadap pinto ada keperluan apakah?"

"Teecu datang untuk mohon pertolongan Twa-supek. Nona ini adalah tunangan teecu, dia puteri dari mendiang Lu-san Lojin."

"Siancai....! Lu-san Lojin sudah meninggal? Pinto pernah bertemu satu kali dengan ayahmu, Nona. Seorang yang gagah perkasa!" Kemudiankakek ini menoleh kepada Liem Toan Ki dan bertanya, "Pertolongan apakah yang kalian harapkan dari pinto?"

Dengan terus terang tanpa menyembunyikan sesuatu Liem Toan Ki lalu menceritakan tentang penyerbuannya bersama para penghuni Pulau Es, betapa kemudian puteri Pulau Es telah menitipkan Pusaka Pulau Es kepada mereka berdua, kemudian betapa mereka dihadang orang jahat yang hendak merampas pusaka dan mereka mengambil keputusan untuk bersem-bunyi di Hoa-san-pai. Kakek itu menjadi bengong mendengar penuturan panjang lebar itu, beberapa kali memandang ke arah buntalan di punggung Toan Ki dan memandang wajah me-reka berdua seperti orang yang kurang percaya. "Siancai.... kalau tidak melihat wajah kalian berdua yang agaknya bukan orang gila dan bukan pembohong, pinto sukar untuk percaya bah-wa kalian telah bertemu bahkan bertanding bahu-membahu dengan orang-orang Pulau Es! Pinto kira bahwa nama Pulau Es hanya terdapat dalam dongeng belaka."

"Karena teecu yakin bahwa tentu orang-orang di dunia kang-ouw akan saling berebut untuk merampas pusaka-pusaka ini, maka teecu berdua mengambil keputusan untuk berlin-dung di Hoa-san-pai sampai yang berhak atas pusaka-pusaka itu datang mengambilnya." Sampai lama kakek itu termenung dan menundukan kepalanya, dipandang dengan hati gelisah dan tegang oleh Toan Ki dan Swi Nio.

Akhirnya kakek itu mengangkat mukanya memandang dan berkata, suaranya bersung-guh-sungguh. "Selamanya Hoa-san-pai menjaga nama dan kehormatan sebagai partai orang-orang gagah. Entah berapa banyak anak muridHoa-san-pai tewas dalam mempertahankan kebenaran dan keadilan, bahkan ada pula yang tewas tanpa pinto ketahui apa sebabnya dan di mana tewasnya seperti Keesan Ngo-han, lima orang murid pinto yang dahulu bertugas melin-dungi Sin-tong....."

"Aihhhh....!!" Tiba-tiba Swi Nio mengeluarkan teriakan tertahan dan ketika kakek itu memandang kepadanya, dia cepat berkata, "Mendiang Subo adalah bekas ratu Pulau Es yang menyeleweng dan bersekutu dengan Kiam-mo Cai-li Liok Si memberontak kepada pemerin-tah. Pernah teecu mendengar penuturan Subi ketika menceritakan kelihaian Kiam-mo Cai-li bahwa Kee-san Ngo-hohan terbunuh oleh Kiam-mo Cai-li itu."

Ketua Hoa-san-pai itu kelihatan terkejut dan sinar matanya menjadi keras, "Hemm, kiranya iblis betina itu yang membunuh murid-murid pinto....!

"Akan tetapi iblis itu telah tewas di tangan Nona Han Swat Hong puteri Pulau Es yang menitipkan pusaka kepada teecu berdua, Twa-supek," Toan Ki berkata.

Kakek itu mengangguk-angguk dan mendengarkan penuturan mereka berdua tentang penyerbuan hebat di kota raja, di dalam istana dari The Kwat Lin, bekas Ratu Pulau Es yang minggat dan melarikan Pusaka-pusaka Pulau Es itu. "Kalau begitu, sudah sepatutnya kalau Hoa-san-pai membantu para penghuni Pulau Es. Kalian boleh tinggal di sini dan biarlah Hoa-san-pai yang melindungi kalian dan pusaka-pusaka itu sampai yang berhak datang mengam-bilnya."

"Sebelumnya teecu berdua menghaturkan banyak terima kasih atas kebijaksanan dan kemuliaan hati Twasupek. dan teecu ingin mengajukan permohonan ke dua......"

Kakek itu tersenyum. "Permohonanmu yang paling hebat, menegangkan dan berbahaya telah pinto terima dan urusan pusaka ini hanya kita bertiga saja yang mengetahuinya, tidak boleh kalian bocorkan keluar agar tidak menimbulkan keributan. Sekarang, ada permohonan apa lagi yang hendak kaukemukakan?"

"Teecu...... mohon .....karena teecu berdua sudah tidak mempunyai keluarga lagi, dan teecu berdua sudah cukup lama bertunangan, maka.... teecu mohon berkah dan doa restu Twa-supek untuk menikah di sini." Toan Ki yang hidupnya sudah penuh dengan segala macam pengalaman hebat itu, tidak urung tergagap ketika mengucapkan permintaan ini, sedangkan Bu Swi Nio menundukkan mukanya yang menjadi mereh sekali. Kong Thian-cu tertawa bergelak, lalu berkata, "Pernikahan adalah peristiwa amat menggembirakan. Tentu saja pinto suka sekali memenuhi permintaan ini. Liem Toan Ki, engkau adalah murid Hoa-san-pai pula, tentu saja engkau berhak untuk menikah di sini, disaksikan oleh semua murid Hoa-san-pai yang berada di sini."

Demikianlah, Pusaka-pusaka Pulau Es yang di rahasiakan itu disimpan oleh Kong Thian-cu sendiri di dalam kamar pusaka yang tersembunyi, tidak ada anggauta Hoa-san-pai lain yang mengetahuinya dan sebulan kemudian diadakanlah perayaan sederhana namun khidmat untuk melangsungkan upacara pernikahan antara Liem Toan Ki dan Bu Swi Nio. Pada malam pertama pernikahan itu Bu Swi Nio menangis di atas dada suaminya, menangis dengan penuh keharuan, kedukaan yang bercampur dengan kegembiraan mengenangkan semua pengalamannya, kematian ayahnya dan kakaknya, malapetaka yang menimpadirinya ketika dalam keadaan mabok dan tidak ingin diri dia diperkosa oleh Pangeran Tan Sin Ong. Dia memeluk suaminya dan berterima kasih sekali karena dia dapat membayangkan bahwa kalau tidak ada pria yang kini menjadi suaminya dengan syah dan terhormat ini tentu dia sudah membunuh diri dan andai kata dalam keadaan hiduppun ia akan mendrita aib dan terhina.

Sampai dua tahun suami isteri yang saling mencinta dan berbahagia ini hidup di Hoa-san-pai, menjadi anggota-anggota dan anak murid Hoa-san-pai yang tekun berlatih dan rajin bekerja. Akan tetapi mereka gelisah sekalli karena sampai selama ini, Han Swat Hong atau lain tokoh Pulau Es tidak ada yang muncul bahkan gadis luar biasa dari Pulau Neraka, Ouw Soan Cu, juga tidak muncul. Tentu saja hati mereka akan menjadi lebih lega dan bebas dari kekhawatiran kalau saja pusaka-pusaka Pulau Es itu sudah diambil oleh yang berhak dan tidak menjadi tanggung jawab mereka.. Lebih hebat lagi kegelisahan hati mereka ketika pada suatu hari Ketua Hoa-san-pai, Kong Thian-cu yang sudah tua itu, meninggal dunia karena sakit. Sebelum meninggal dunia, Kong Thian-cu memberitahukan di mana dia menyembunyi-kan pusaka-pusaka itu yang tidak diketahui orang lain. Setelah Kong Thian-cu meninggal dunia, kedudukan Ketua Hoa-san-pai digantikan oleh seorang tokoh Hoa-san-pai lain, terhitung sute dari Kong Thian-cu yang telah menjadi seorang tosu yang saleh, berjuluk Pek Sim Tojin. Ketua yang baru ini pun tidak tahu akan rahasia Pusaka Pulau Es, sehingga kini rahasia pusaka itu seluruhnya menjadi tangung jawab Liem Toan Ki dan isterinya. Biarpun selama duatahun itu tidak terjadi sesuatu, namun hati suami isteri ini selalu merasa tidak tenteram. Bahkan mereka berdua seringkali merundingkan bagaimana baiknya. Hendak meninggalkan Hoa-san-pai dan mencari Swat Hong, mereka tidak berani meninggalkan Hoa-san-pai di mana pusaka itu disimpan, juga mereka tidak tahu ke mana harus mencari Han Swat Hong. Tinggal diam saja di Hoa-san mereka merasa makin lama makin gelisah. Selama itu, tidak ada satu kali pun mereka berani memeriksa pusaka yang disimpan di tempat yang amat rapat di kamar pusaka oleh mendiang Kong Thian-cu. Akhirnya mereka terpaksa menahan diri, dan saling berjanji bahwa kalau setahun lagi pemilik pusaka yang sah tidak muncul, mereka akan menghadap Pek Sim Tojin, menceritakan dengan terus terang dan menyerahkan pusaka itu untuk dipelajari bersama sehingga dengan demikian pusaka itu ada manfaatnya demi kemajuan dan kebaikan Hoa-san-pai sendiri.

"Suheng, kita berhenti istirahat dulu di sini!" Swat Hong berkata. Sin Liong menoleh kepada dara itu, tersenyum dan berkata, "Engkau lelah, Sumoi?" Swat Hong mengangguk dan Sin Liong menghentikan langkahnya, lalu keduanya duduk dibawah sebatang pohon besar di lereng bukit itu. Tempat perhentian mereka itu ditepi jalan yang merupakan lorong setapak, di sebelah kiri terdapat dinding bukit, di sebelah kanan jurang yang amat curam. Pemandangan di seberang jurang amatlah indahnya, tamasya alam yang tergelar di bawah kaki mereka, sehelai permadani hidup yang permai dengan segala macam warna berselang-seling, kelihatan kacau namun menyedapkan pandangankarena di dalam kekacauan itu terdapat keselarasan yang wajar. Sawah ladang bekas hasil tangan manusia berpetak-petak, digaris oleh sebatang sungai yang berbelok-belok, dengan rumpun di sana-sini diseling pohon-pohon besar yang masih bertahan di antara perobahan yang dilakukan oleh tangan-tangan manusia. Sebatang pohon yang daun-daunnyatelah menguning dan banyak yang rontok, kelihatan menyendiri dan menonjol di antara segala tumbuh-tumbuhan menghijau , dan seolah-olah segala keindahan berpusak kepada pohon menguning hampir mati itu. Matahari yang berada di atas kepala tidak menimbulkan bayangan-bayangan sehingga hari tampak cerah sekali. Sinar matahari dengan langsung dan bebas menyinari bumi dan segala yang berada di atasnya, terang menderang tidak ada gangguan awan. Di dalam keheningan itu, Swat Hong dapat melihat ini semua. Ketika tanpa disengaja tangannya yang digerakkan untuk menyeka keringat bertemu dengan lengan Sin Liong, barulah dia sadar akan dirinya dan sekelilingnya. Dan dia terheran. Semenjak dia bertemu dengan suhengnya dan melakukan perjalanan ini, seringkali dia tenggelam ke dalam keindahan yang amat luar bias, yang sukar dia ceritakan dengan kata-kata. Dia merasa tenteram, tenang dan penuh damai sungguhpun suhengnya jarang mengeluarkan kata-kata. Dia seperti merasa betapa diri pribadi suhengnya bersinar cahaya yang hangat dan aneh, terasa ada getaran yang ajaib keluar dari pribadi suhengnya yang mempengaruhinya dan mendatangkan suatu perasaan yang menakjubkan, yang mengusir segala kekesalan, segala kerisauan, dan segala kedukaan. Sudah beberapa kali dia ingin mengutarakan ini kepada suhengnya, namun setiap kali dia hendak bicara, mulutnya seperti dibungkamnya sendiri oleh keseganan yang timbul dari perasaan halus dan lembut terhadap suhengnya itu, sesuatu yang belum pernah dirasakannya semula. Dia mencinta suhengnya, ini sudah jelas. Namun sekarang timbul perasaan lain yang lebih agung daripada sekedar cinta biasa, perasaan yang membuat dia penuh damai.

"Suheng......." Dia memberanikan hatinya berkata.

"Ya......?" Sin Liong mengangkat muka memandangnya sambil tersenyum. Senyumnya begitu lembut penuh kasih, pandang matanya begitu bersinar penuh pengertian sehingga Swat Hong merasa betapa seolah-olah sebelum dia bicara, suhengnya itu telah tahu apa yang ter-kandung di dalam hatinya! Inilah yang biasanya membuat membungkam dan tidak dapat me-lanjutkan kata-katanya. Kini dia mengeraskan hati dan berkata dengan suara lirih,

"Suheng, kita akan ke manakah?"

"Ke Hoa-san, sudah kuberitahukan kepadamu," jawabnya sederhana. "Bagaimana kau bisa tahu bahwa mereka berada di Hoa-san?"

Sin Liong tersenyum, senyum cerah, secerah sinar matahari di saat itu, senyum yang bebas dan wajar tidak menyembunyikan sesuatu tidak membawa arti sesuatu. "Sumoi, pusaka itu kau berikan kepada Liem Toan Ki dan tunangannya, dan karena Liem Toan Ki adalah murid Hoa-san-pai, maka tentu saja mereka berada di Hoa-san."

Swat Hong mengangguk-angguk, memang dia tahu bahwa Toan Ki adalah murid Hoa-san, akan tetapi dia lupa bahwa dia tidak pernah menceritakan hal ini kepada suhenngya! "Bagaimana kalau mereka tidak berada si sana, Suheng?"

Kembali senyum itu. Senyum seorang yang begitu pasti akan segala sesuatu, senyum penuh pengertian, seperti senyum seorang tua yang melihat kenakalan anak-anak dan maklum pengapa anak itu nakal! "Sumoi, apakah gunanya memikirkan hal-hal yang belum terjadi? Membayangkan hal-hal yang belum terjadi adalah permainan buruk dari pikiran, karena hal itu hanya akan menghasilkan kecemasan dan kekhawatiran belaka. Apa yang akan terjadi kelak kita hadapi sebagaimana mestinya kalau sudah terjadi di depan kita."

Swat Hong tertarik sekali. "Apakah rasa cemas itu timbul dari pikiran yang memba-yangkan masa depan, Suheng?"

"Agaknya jelas demikian, bukan? Yang takut akan sakit tentulah dia yang belum ter-kena penyakit itu, kalau sudah sakit, dia tidak takut lagi kepada sakit, melainkan takut kepada kematian yang belum tiba. Perlukah hidup dicekam rasa takut dan rasa kekhawatiran? Pikiran yang bertanggung jawab atas timbulnya rasa takut. Pikiran mengingat-ingat kesenangan di masa lalu, dan mengharapkan terulangnya kesenangan itu di masa depan, maka timbullah ke-khawatiran kalau-kalau kesenangan itu tidak akan terulang. Pikiran mengenang penderitaan masa lalu dan ingin menjauhinya, ingin agar di masa depan hal itu tidak terulang kembali maka timbulah kekhawatiran kalau-kalau dia tertimpa penderitaan itu lagi!"

"Habis bagaimana, Suheng?"

"Hiduplah saat ini, curahkan seluruh perhatian, seluruh hati dan pikiran, untuk meng-hadapi saat ini, apa yang terjadi kepadamu di saat ini, bukan apa yang boleh terjadi di masa depan, bukan pula mengenang apa yang telah terjadi di masa lalu."

"Kalau begitu kita menjadi tidak acuh dan bersikap masa bodoh....."

"Justru biasanya kita bersikap masa bodoh dan tidak acuh, tidak menaruh perhatian yang mendalam terhadap saat ini, karena seluruh perhatian kita sudah dihabiskan untuk mengingat-ingat masa lalu dan untuk membayang-bayangkan masa depan dengan seluruh pengharapannya, seluruh cita-citanya, seluruh nafsu keinginannya, seluruh kesenangan dan kekecewaannya. Justru kalau bebas dari masa lalu tidak lagi ada bayangan masa depan dan kita hidup saat demi saat penuh perhatian, dan ini barulah di namakan hidup sepenuhnya, hidup sempurna dan lengkap karena kita menghayati hidup dengan penuh kewajaran, tidak terbuai dalam alam kenangan dan harapan yang muluk-muluk namun sesungguhnya kosong belaka."

Sampai lama hening di situ. Pengertian yang mendalam meresap di hati sanubari Swat Hong dan di dalam keheningan itu tercakup seluruh alam mayapada. "Suheng, telah dua tahun pusaka itu berada di tangan mereka. Aku telah mencari ke mana-mana, hanya ke Hoa-san-pai yang belum. Kurasa mereka itu tidak jujur, dan agaknya tentu mereka telah menyembunyikan pusaka itu. Kalau tidak demikian mengapa mereka tidak pergi menanti aku di Puncak Awan Merah seperti yang kupesankan? Memang hati manusia tidak atau jarang sekali ada yang jujur. Sekali saja melihat sesuatu yang dapat menguntungkan diri pribadi, maka terlupalah semua pelajaran tentang kegagahan dan kebaikan. Aku ingin mencari dan menghajar mereka itu!" "Sumoi, prasangka adalah satu di antara racun-racun yang merusak kehidupan kita. Prasangka di lahirkan oleh pikiran yang mengada-ada, yang membayangkan sesuatu yang direka-reka, yang timbul karena kekhawatiran. Prasangka adalah suatu kebodohan yang menyiksa diri sen-diri. Kalau kita sudah bertemu dengan mereka dan sudah melihat keadaan yang sesungguhnya, apakah kegunaannya prasangka? Prasangka dan sebagainnya lenyap setelah kita membuka mata melihat kenyataan apa adanya, dan sebelum itu, berprasangka berarti membiarkan pikiran mempermainkan diri. Apakah kegunaannya bagi kehidupan kita?"

Kembali hening. Swat Hong tak mampu menjawab karena dia dihadapkan dengan kea-daan yang nyata. Memang, dia memikirkan hal-hal yang belum terjadi, maka timbullah ke-khawatiran, dan dari kekhawatiran ini timbulah prasangka yang bukan-bukan. Yang salah dalam semua itu adalah pikiran! Setelah tubuh mereka beristirahat dengan cukup, keduanya lalu melanjutkan perjalanan menuju ke Hoasan. Makin lama Swat Hong makin mendapat kesan bahwa suhengnya benar-benar telah berubah, jauh bedanya dengan dahulu.

Pada suatu hari, ketika mereka tiba di kaki Pegunungan Hoa-san dan beristirahat, Swat Hong tidak dapat menahan rasa keinginan tahunya dan dia berkata, "Suheng, setelah dua tahun berpisah denganmu dan berjumpa kembali, aku memperoleh kenyataan bahwa engkau telah berubah sekali!"

"Begitukah, Sumoi?"

"Aku tidak tahu apanya yang berubah, memang kelihatannya engkau masih biasa sepeti dulu, Suhengku yang sabar, tenang dan bijaksana. Akan tetapi entahlah, engkau berubah be-nar, sungguhpun aku sendiri tidak dapat mengatakan apanya yang berubah."

Sin Liong tersenyum dan sinar matanya berseri. "Memang setiap manusia seyogianya mengalami perubahan, Sumoi. Kita masing-masing haruslah berubah, tidak terikat dengan masa lalu, dengan segala macam kebiasaan masa lalu, setiap hari, setiap detik kita haruslah baru! Kalau demikian, barulah hidup ada artinya!"

Swat Hong hendak berkata lagi, akan tetapi tiba-tiba Sin Liong memegang tangannya dan mengajaknya bangkit berdiri lalu berlahan-lahan melanjukan perjalanan mulai mendaki bukit pertama. Ketika Swat Hong hendak menanyakan sikap yang tiba-tiba ini dari suhengnya, dia mendengar suara orang dan tampaklah olehnya banyak orang berbondong-bondong naik ke pegunungan Hoa-san, datangnya dari berbagai penjuru. Mereka itu terdiri dari bermacam orang, dengan pakaian yang bermacam-macam pula, namun jelas bahwa rata-rata memiliki gerakan yang ringan dan tangkas dan mudah bagi Swat Hong untuk mengetahui bahwa mere-ka adalah orang-orang kang-ouw! Melihat kenyataan bahwa tidak ada di antara mereka yang memperhatikan Sin Liong dan Swat Hong, hanya memandang sepintas lalu saja seperti me-reka itu saling memandang, tahulah Swat Hong bahwa mereka itu bukan merupakan satu rom-bongan, melainkan terdiri dari banyak rombngan sehingga tentu saja mereka mengira bahwa dia dan suhengnya adalah anggauta rombongan lain. Hati Swat Hong diliputi penuh perta-nyaan. Siapakah mereka dan apa kehendak mereka itu? Apakah di Puncak Hoa-san terdapat perayaan dan mereka ini adalah para tamu yang berkujung ke Hoa-san-pai" Akan tetapi melihat sikap suhengnya diam dan tenang saja, Swat Hong merasa malu untuk bertanya dan teringatlah dia akan kata-kata suhengnya tentang permainan pikiran yang membayangkan masa depan yang menimbulkan kekhawatiran belaka. Mau tidak mau dia harus membenarkan karena kini dia merasakan sendiri. Biarlah dia hadapi apa yang sedang terjadi sebagaimana mestinya dan sebagai apa adanya tanpa merisaukan hal-hal yang belum terjadi!

Ketika akhirnya mereka tiba di Puncak Hoa-san, di depan markas perkumpulan Hoa-san-pai yang besar, Swat Hong menjadi terkejut. Di tempat itu ternyata tidak terdapat pera-yaan apa-apa dan kini banyak tosu dan anggauta Hoa-san-pai berkumpul dan berdiri di ruangan depan yang tinggi, sedangkan di bawah anak tangga, di halaman depan penuh dengan orang-orang kang-ouw yang bersikap menantang! Ketika dia melirik ke arah suhengnya, dia melihat Sin Liong bersikap masih biasa dan tenang, dan suhengnya ini pun memandang ke depan dengan perhatian sepenuhnya. Maka dia pun lalu memandang lagi dan dia melihat seorang tosu berambut putih dengan tenang berdiri menghadapi para orang-orang kang-ouw itu sambil menjura dengan sikap hormat lalu berkata dengan suara halus namun cukup nyaring,

"Harap Cu-wi sekalian sudi memaafkan kami yang tidak tahu akan kedatangan Cu-wi maka tidak mengadakan penyambutan sebagaimana mestinya. Pinto melihat bahwa Cu-wi adalah tokoh-tokoh kangouw dari bermacam golongan dan tingkat, dan pada hari ini berbon-dong datang mengunjungi Hoa-san-pai, tidak tahu ada keperluan apakah?"

Swat Hong memandang para orang kang-ouw itu dan diantaranya banyak tokoh aneh yang tidak dikenalnya itu, dengan heran dia melihat adanya Siang-koan Houw Tee Tok, tokoh yang tinggal di Puncak Awan Merah di tai-hang-san itu! "Suheng, itu Tee Tok berada pula di sini," bisikannya sambil menyentuh lengan suhengnya.

"Aku sudah melihatnya," kata Sin Liong perlahan, "dan yang di sebelah sana itu adalah Bhong Sek Bin yang berjuluk Thian-tok (Racun Langit). Bekas suheng dari Tee Tok, dan itu adalah Thian-he Tee-it Ciang Ham Ketua kang-jiu-pang di Secuan. yang di sana itu adalah Lam-hai Seng-jin, tosu majikan Pulau Kura-kura di Lamhai....."

"Guru Kwee-toako?"

Sin Liong mengangguk. Swat Hong memandang penuh perhatian dan terheran-heran melihat suhengnya mengenal orang-orang yang memiliki julukan aneh-aneh itu. Thian-he Tee-it berarti Di Kolong Langit Nomer Satu! Dan Lam-hai Seng-jin berarti Manusia dari laut Selatan! "Dan itu adalah Gin-siauw Siucai (Pelajar Bersuling Perak), seorang bertapa di Bukit Bengsan dan yang di ujung itu adalah seorang yang pernah menyerang Pulau Neraka seperti yang pernah kuceritakan kepadamu, Sumoi. Dialah Tok-gan Hai-liong (Naga Laut Mata Satu) Koan Sek, seorang bekas bajak laut."

"Wah, begitu banyak orang pandai mendatangi Hoa-san-pai, ada apakah, Suheng?"

"Kita melihat dan mendengarkan saja."

Sementara itu, ucapan dan pertanyaan Ketua Hoa-san-pai tadi mendatangkan suasana berisik ketika para pendatang yang jumlahnya ada lima puluhan orang itu saling bicara sendiri tanpa ada yang menjawab langsung pertanyaan Ketua Hoa-san-pai. Agaknya mereka itu me-rasa sungkan dan saling menanti, menyerahkan jawaban kepada orang lain yang hadir di situ. Betapapun juga, para tokoh kang-ouw itu merasa segan juga karena Hoa-san-pai terkenal sebagai sebuah perkumpulan atau partai persilatan yang besar, yang selama ini tidak pernah mencampuri urusan perebutan kekuasaan atau tidak pernah pula mencampuri urusan kang-ouw yang tidak ada hubungannya dengan mereka. Orang-orang Hoa-san-pai terkenal sebagai orang-orang gagah yang disegani di dunia persilatan, maka tentu saja mereka itu diliputi pe-rasaan sungkan. Pek Sim Tojin yang berambut putih dan bersikap tenang itu melihat seorang kakek tinggi besar bermuka tengkorak yang menyeramkan maju ke depan, maka melihat bahwa belum juga ada yang mau menjawab, dia lalu berkata ditujukan kepada kakek tinggi besar bermuka tengkorak itu.

"Kalau pinto tidak salah mengenal orang, Sicu adalah Thian-tok Bhong Sek Bin. Sicu adalah seorang yang amat terkenal di dunia kang-ouw dan mengingat bahwa kedatangan Sicu pasti mempunyai kepentingan besar, maka pinti harap Sicu suka berterus terang mengatakan apa keperluan itu."

Thian-tok Bhong Sek Bin menyeringai penuh ejekan. "Ha-ha-ha, engkau benar, Totiang! Aku adalah Bhong Sek Bin dan memang bukan percuma jauh-jauh aku datang mengunjungi Hoa-san-pai. Tentang mereka semua ini aku tidak tahu, akan tetapi kedatanganku adalah un-tuk bicara dengan dua orang yang bernama Liem Toan Ki dan Bu Swi Nio. Suruh mereka ber-dua keluara bicara dengan aku dan aku tidak akan membawa-bawa Hoa-san-pai!"

Ucapan ini disambut oleh suara berisik lagi di antara para tamu, bahkan banyak kepala dianggukan tanda setuju dan di sana sini terdengar teriakan, "Suruh mereka keluar!"

Pek Sim Tojin mengerutkan alisnya dan mengelus jenggotnya yang putih. "Pinto tidak menyangkal bahwa di antara anak murid Hoa-san-pai terdapat dua orang yang bernama Liem Toan Ki dan isterinya bernama Bu Swi Nio. Akan tetapi, selama ini mereka adalah murid-murid Hoa-san-pai yang tekun dan baik, bahkan tidak pernah turun dari Hoa-san, tidak pernah melakukan keonaran di luar, apalagi membuat permusuhan dengan golongan manapun. Kini Cu-wi sekalian berbondong datang, agaknya bersatu tujuan untuk menemui mereka! Pinto se-bagai ketua Hoa-san-pai yang bertanggung jawab atas semua sepak terjang murid-murid Hoa-san-pai, berhak mengetahui apa yang terjadi antara Cu-wi dengan mereka!" hening sejenak dan agaknya semua tamu kembali merasa sungkan dan ragu-ragu untuk menjawab. Sementara itu, hati Swat Hong terasa tegang begitu mendengar nama Liem Toan Ki dan Bu Swi Nio disebut-sebut. Dia menunjukan pandang matanya ke atas ruangan depan, namun di antara para anggauta Hoa-san-pai, dia tidak meliahat adanya kedua orang itu.

"Suheng...., agaknya mereka benar berada di sini seperti yang Suheng duga...." bisik Swat Hong dengan hati tegang, akan tetapi suhengnya memberi isyarat agar dia tenang saja. "Sumoi, aku berpesan, kalau nanti terjadi apa-apa, kau serahkan saja kepadaku dan jangan kau ikut turun tangan, ya!"

Dengan penuh kepercayaan akan kemampuan suhengnya, Swat Hong mengangguk akan tetapi hatinya berdebar penuh ketegangan. Tidak salah lagi, pikirnya yang menduga-duga, tentu orang-orang kang-ouw ini mencari Liem Toan Ki dan Bu Swi Nio berhubung dengan Pusaka-pusakaPulau Es itu! Kalau tidak demikian apalagi? Melihat bahwa tidak ada orang yang menjawab pertanyaan Ketua Hoa-san-pai itu, Thian-he Tee-it Ciang Ham yang datang bersama lima orang muridnya, mengacungkan tombak di tangan kanannya, ke atas dan berteriak.

"Totiang, sebagai Ketua Hoa-san-pai tentu saja kau berhak mengetahui sepak terjang muridmu, akan tetapi kalau urusan ini tidak menyangkut Hoa-san-pai, bagaiman kami dapat bicara denganmu? Ini adalah urusan pribadi, urusan Liem Toan Ki sendiri, maka suruh dia keluar agar kami dapat bicara dengan dia! Kalau Totiang bersikeras, berarti Hoa-san-pai akan mencampuri urusan pribadi!" Berkerut alis Ketua Hoa-san-pai itu. Ucapan tadi, biarpun tidak secara langsung, sudah merupakan tantangan dan hanya terserah kepada Hoa-san-pai untuk melayani tantangan itu ataukah tidak. Maka dia tidak mau bertindak sembrono dan ingin me-lihat dulu bagaimana duduk perkaranya. Ketua Hoa-san-pai ini memang belum sempat diberi tahu oleh Liem Toan Ki dan isterinya tentang pusaka Pulau Es itu.

"Supek, biarlah teecu berdua yang menghadapi mereka!" Tiba-tiba terdengar suara orang dan muncullah Liem Toan Ki dan isterinya dari dalam, mereka sudah kelihatan mem-persiapkan diri dengan senjata pedang di pinggang dan pakaian ringkas. Wajah mereka agak pucat, namun sikap mereka gagah dan tidak jerih. Liem Toan Ki meloncat ke depan, Di atas ruangan depan itu berdampingan dengan istrinya, menghadapi orang-orang kang-ouw itu sambil berkata, "Sayalah Liem Toan Ki dan isteri saya Bu Swi Nio. Tidak tahu urusan apakah yang membawa Cu-wi sekaliandatang mencari kami di Hoa-san?"

Hiruk pikuklah para tamu itu setelah mereka melihat sepasang suami isteri muda mun-cul dari dalam. Pertama-tama yang berteriak adalah Thian-tok Bhong Sek Bin, "Liem Toan Ki dan Bu Swi Nio, kalian telah berani melukai muridku! Aku baru bisa mengampuni kalian kalau kalian menyerahkan pusakapusaka yang kaubawa itu!"

Liem Toan Ki tersenyum. "hemm, kami terpaksa melukai muridmu karena dia menye-rang kami, Locianpwe. Pusaka apa yang Locianpwe maksudkan?"

"Pura-pura lagi, keparat! Pusaka Pulau Es!" teriak Thian-tok marah.

"Serahkan Pusaka Pulau Es kepada kami!"

"Kepada kami!"

"Bagi-bagi rata!"

"Dijadikan sayembara!"

Macam-macam teriakan para tokoh kang-ouw dan Liem Toan Ki mengangkat kedua lengannya ke atas. "Cu-wi sekalian, apa buktinya bahwa kami berdua menyimpan Pusaka Pulau Es?"

"Orang she Liem, kau masih berpura-pura lagi bertanya? Aku dan banyak orang melihat betapa gadis Pulau Es itu menyerahkan pusaka itu kepadamu!" Tiba-tiba terdengar suara orang yang bukan lain adalah Thio Sek Bi, murid Thiantok yang pernah berusaha merampok pusaka itu. Mendengar ucapan ini dan melihat munculnya murid Thian-tok dan beberapa orang bekas pengawal yang dulu ikut bertempur di istana The Kwat Lin, tahulah Toan Ki dan Swi Nio bahwa menyangkal tidak akan ada gunanya lagi. "Kita harus mempertahankan mati-matian," bisik Swi Nio kepada suaminya yang mengangguk dan berkata dengan suara lantang, "Cu-wi sekalian! Kami berdua tidak menyangkal lagi bahwa memang kami telah dititipi pusa-ka oleh Nona Han Swat Hong, dua tahun yang lalu. Akan tetapi, kami tidak akan menyerah- kan pusaka itu kepada siapapun juga kecuali kepada yang berhak, yaitu Nona Han Swat Hong!"

Teriakan-teriakan hiruk pikuk menyambut ucapan lantang ini. "Kalau begitu, kalian akan menjadi tawananku!" Thian-tok membentak marah sambil melangkah ke depan, akan tetapi gerakannya ini segera diikuti oleh banyak orang dan jelas bahwa mereka hendak mem-perebutkan Liem Toan Ki dan istrinya agar menjadi orang tawanan mereka, tentu untuk dipaksa menyerahkan pusaka!

"Siancai..... harap Cu-wi bersabar dulu.....!" Tiba-tiba dengan suara yang halus namun berpengaruh, Ketua Hoa-san-pai berkata sambil mengangkat kedua tangan ke atas, "Biarkan pinto bicara dulu!"

"Totiang, kau hendak bicara apa lagi?" Thian-tok membentak marah, alisnya berdiri dan matanya melotot. "Pinto mengaku bahwa urusan pusaka Pulau Es itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Hoa-sanpai dan Hoa-san-pai pun tidak mengetahuinya. Maka sebagai Ketua Hoa-san-pai, pinto hendak bertanya dulu kepada murid Liem Toan Ki. Ini adalah urusan dalam dari Hoa-san-pai, kiranya Cu-wi tidak akan mencampurinya!"

Terdengar teriakan-teriakan, "Silahkan! Silahkan, tapi cepat dan serahkan mereka kepa-da kami!" Pek Sim Tojin lalu menghadapi Liem Toan Ki dan bertanya, "Toan Ki, apa artinya ini semua? Benarkah kalian menyembunyikan Pusaka Pulau Es di Hoa-san-pai?"

Liem Toan Ki dan Bu Swi Nio segera menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Ketua Hoa-san-pai itu. Liem Toan Ki segera berkata, "Harap Supek mengampunkan teecu berdua. Adalah mendiang Twa-supek yang mengijinkan teecu berdua dan Beliau yang melarang teecu berdua menceritakan kepada siapapun juga, bahkan Beliau yang membantu teecu berdua dalam hal ini. Karena sekarang mereka telah mengetahuinya dan hendak menggunakan paksa-an, biarlah teecu berdua menghadapinya sendiri tanpa membawa-bawa Hoa-san-pai."

Setelah berkata demikian, Toan Ki dan Bu Swi Nio meloncat bangun, mencabut pedang dan berkatalah Toan Ki dengan suara lantang, "Haiiii, kaum kang-ouw dengarlah! Urusan ini adalah urusan kami berdua suami isteri, bukan sebagai murid Hoa-san-pai, maka kalau kalian begitu tidak tahu malu hendak merampas Pusaka Pulau Es, biar kami menghadapi kalian sam-pai titik darah penghabisan!"

"Keparat, aku tidak membiarkan kau mapus sebelum kalian menyerahkan pusaka itu." Thian-tok membentak.

"Tahan!" Tiba-tiba Pek Sim Tojin membentak dan sikapnya angker sekalil. "Cu-wi se-kalian sungguh terlalu, memperebutkan pusaka milik orang lain dan sama sekali tidak me-mandang mata kepada Hoa-sanpai, hendak membikin ribut di sini. Siapa saja tidak akan pinto ijinkan untuk menggunakan kekerasan di Hoa-san-pai!"

"Tepat sekali! Aku Tee-tok Siangkoan Houw pun bukan seorang yang tak tahu malu! Aku tidak akan membolehkan siapa pun menjamah Pusaka Pulau Es yang menjadi milik Nona Han Swat Hong!" Tiba-tiba tokoh Tai-han-san yang tinggi besar itu sudah melompat ke atas ruangan luar dan mendampingi Toan Ki dan Swi Nio dengan sikap gagah!

"Ha-ha-ha, itu baru namanya laki-laki sejati! Tee-tok, kau membikin aku merasa malu saja! Aku pun tua bangka yang tidak berguna mana ingin memperebutkan pusaka orang lain? Aku pun tidakmembiarkan siapa pun memperebutkan pusaka itu!" Lam-hai Seng-jin, guru Kwee Lun, tosu yang bersikap halus dengan tangan kiri memegang kipas dan tangan kanan memegang hudtim (kebutan pertapa), telah melangkah ke ruangan depan mendampingi Tee-tok.

"Masih ada aku yang menentang orang-orang kang-ouw tak tahu malu hendak meram-pas pusaka lain orang!" Tampak bayangan berkelebat disertai suara halus melengking dan di ruang depan itu nampak Ginsiauw Siucai Si Sastrawan yang bersenjata suling perak dan mauwpit!

Melihat ini Thian-tok tertawa bergelak dengan hati penuh kemarahan, apalagi meli-hat bekas sutenya, Tee Tok, memelopori lebih dulu membela Hoa-san-pai dan murid Hoa-san-pai yang membawa Pusaka Pulau Es yang amat dikehendakinya. "Ha-ha-ha! Kalian pura-pura menjadi pendekar budiman? Hendak kulihat sampai di mana kepandaian kalian!"

Thian-tok sudah lari ke depan, diikuti oleh banyak tokoh kang-ouw lagi dan dapat di-bayangkan betapa tentu sebentar akan terjadi perang kecil yang amat hebat antara para ang-gauta Hoa-san-pai dibantu oleh tiga tokoh kang-ouw itu melawan para orang kang-ouw yang memperebutkan pusaka.

"Tahan....!" Seruan ini halus dan ramah, tidak mengandung kekerasan sesuatu pun, akan tetapi anehnya, semua orang merasa ada getaran yang membuat mereka menghentikan gerak-an mereka mencabut senjata dan kini semua mata memandang ke arah ruangan depan itu ka-rena tadi ada berkelebat dua sosok bayangan orang ke arah situ. Ternyata Sin Liong dan Swat Hong telah berdiri di ruangan depan markas Hoa-san-pai. Dengan sikap tenang sekali Sin Liong menghadapi semua orang, terutama sekali memandang tokoh-tokoh besar dunia persi-latan yang hadir, dan yang semua memandang kepadanya dengan mata terbelalak, kemudian terdengar pemuda ini berkata, "Cu-wi Locian-pwe mengapa sejak dahulu sampai sekarang gemar sekali memperebutkan sesuatu?"

Thiantok Bhong Sek Bin yang berwatak kasar memandang dengan terbelalak, demikian pula Thian-he Tee-it Ciang Ham, Lam-hai Seng-jin, Gin-siauw Siucai dan para tokoh lain yang belasan tahun lalu pernah hendak memperebutkan bocah ajaib, Sin-tong yang bukan lain adalah Sin Liong sendiri. Mereka merasa kenal dengan pemuda ini, akan tetapi lupa lagi. "Ka...... kau siapakah.....?" akhirnya Thian-tok bertanya.

"Ha-ha-ha, kalian lupa lagi siapa dia ini?" Tiba-tiba Tee Tok Siangkoan Houw berseru keras, hatinya girang dan lega bukan main bahwa dia tadi tidak ragu-ragu melindungi Pusaka Pulau Es. Melihat munculnya pemuda yang dia tahu memiliki kelihaian yang luar biasa itu, dia girang sekali. "Coba lihat dengan baik-baik, belasan tahun yang lalu di lereng Pegunungan jeng-hoa-san kalian juga memperebutkan sesuatu. Siapa dia?"

"Sin-tong....!"

"Bocah ajaib......!!" Teringatlah mereka semua dan kini memandang Sin Liong dengan mata terbelalak. "Mau apa kau datang ke sini?" thian-tok bertanya dengan suara agak berku-rang galaknya.

Sin Liong sudah menjura kepada Ketua Hoa-san-pai, kepada Tee tok dan lain tokoh yang tadi membela Hoa-san-pai, diikuti oleh Swat Hong kemudian Swat Hong berkata kepada Toan Ki dan Swi Nio, "Terima kasih kami haturkan kepada Ji-wi (Kalian Berdua) yang ter-nyata adalah orang-orang gagah yang pantas dipuji dan dikagumi kesetiaan dan kegagahannya. Sekarang saya harap Ji-wi suka mengembalikan pusaka- pusaka itu kepadaku."

Toan Ki dan Swi Nio menjura an Toan Ki menjawab, "Harap Lihiap suka menanti se-bentar." kemudian pergilah dia bersama Swi Nio ke sebelah dalam, diikuti pandang mata Ketua Hoa-sanpai yang menjadi terheran-heran.

"Mau apa kalian dua orang muda datang ke sini?" kembali Thian-tok bertanya.

"Harap Locianpwe ketahui bahwa kami berdua adalah penghuni Pulau Es yang datang untuk mengambil kembali Pusaka Pulau Es. Pusaka itu adalah milik Pulau Es dan harus di-kembalikan ke sana."

"Penghuni Pulau Es....??" Suara ini bukan hanya keluar dari mulut para tamu, tetapi ju-ga dari pihak Hoasan- pai dan mereka yang membelanya, kecuali Tee Tok Siangkoan Houw yang sudah tahu akan keadaan pemuda dan pemudi itu. Tak lama kemudian muncullah Toan Ki dan Swi Nio. Toan Ki membawa bungkusan yang dulu dia terima dari Swat Hong, lalu menyerahkan bungkusan itu kepada Swat Hong sambil menjura dan berkata,

"Dengan ini kami mengembalikan pusaka yang Lihiap titipkan kepada kami dengan hati lega!" Memang hatinya lega dan girang sekali dapat terlepas dari tanggung jawab yang amat berat itu.

Swat Hong membuka dan meneliti pusaka-pusaka itu. Melihat bahwa pusaka itu masih lengkap, dia makin kagum. "Suheng tidak pantas kalau kita tidak membalas budi mereka ini." Sin Liong tersenyum, mengangguk, kemudian dia berkata kepada Thian-tok dan lain tamu yang masih memandang dengan bengong dan kini dari mata mereka itu terpancar ketegangan dan keinginan besar. Setelah Pusaka Pulau Es yang terkenal itu tampak di depan mata, mana mungkin mereka mundur begitu saja tanpa usaha untuk mendapatkannya?

"Cu-wi Locianpwe jauh-jauh datang ke sini, harap suka memaklumi bahwa pusaka-pu-saka ini telah kembali ke pemiliknya dan akan dikembalikan ke Pulau Es. Maka kami berdua mengharap sudilah Su-wi tidak mengganggu lagi Hoa-san-pai dan suka meninggalkan tempat ini."

"Kami harus mendapatkan pusaka itu!"

"Kami juga!"

"Kami minta bagian!"

Teriakan-teriakan itu terdengar riuh rendah dan Sin Liong lalu berkata lagi dengan halus,

"Kami berdua akan berada di sini selama tiga hari, kemudia kami akan meninggalkan Hoa-san-pai. Kalau kita tidak berada di sini, masih belum terlambat bagi kita untuk bicara lagi tentang pusaka. Amatlah tidak baik bagi nama Cu-wi Locianpwe kalau mengganggu Hoa-san-pai yang sama sekali tidak tahu-menahu tentang hal ini. Nanti kalau kami sudah meninggal-kan Hoa-san-pai, boleh kita bicara lagi."

Melihat sikap orang-orang Hoa-san-pai, dan sekarang sudah jelas bahwa pusaka itu ber-ada di tangan Sintong dan dara muda itu, Thian-tok lalu mendengus dan berkata, "Baik, kami menanti di bawah bukit. Kalian berdua tidak akan dapat terbang lalu."

Pergilah mereka itu meninggalkan Hoa-san-pai, akan tetapi semua orang tahu belaka bahwa mereka tentu akan mengurung tempat itu dan tidak akan membiarkan Sin Liong dan Swat Hong lolos dari situ membawa pergi pusaka-pusaka Pulau Es yang amat mereka ingin-kan itu. Sin Liong lalu menjura kepada Ketua Hoasan- pai, para tokoh Hoa-san-pai, Toan Ki dan Swi Nio, juga kepada Tee Tok dan mereka yang tadi membela Hoa-san-pai, kemudian berkata, "Terutama kepada Saudara Liem Toan Ki dan Nyonya, sudah sepantasnya kalau kami meninggalkan sedikit ilmu untuk Jiwi pelajari. Dan kepada para Locianpwe, kiranya akan ada manfaatnya kalau saya melayani para Locianpwe main-main sedikit untuk mem-perluas pengetahuan ilmu silat."

Semua orang menjadi ragu-ragu karena tidak tahu akan maksud hati pemuda yang aneh itu, akan tetapi Tee-tok Siangkoan Houw sudah tertawa bergelak lalu meloncat ke halaman depan. "Marilah, ingin aku tua bangka ini memperdalam sedikit kepandaianku!"

Sin Liong tersenyum lalu melangkah perlahan ke pekarangan. "Silahkan Siangkoan Lo-cianpwe menggunakan Pek-liu-kun (Ilmu Silat Tangan Geledek)!" katanya tenang. "Harap Locianpwe jangan sungkan dan keluarkanlah jurus-jurus simpanan dari Pek-liu-kun!"

Tee Tok sudah maklum akan kehebatan pemuda ini, dan setelah dua tahun tidak jumpa, kini sikap pemuda ini luar biasa sekali, bahkan dengan kata-kata biasa saja pemuda itu sudah mengundurkan semua orang yang tadi sudah bersitegang hendak menggunakan kekerasan. Dia dapat menduga bahwa bukanlah percuma pemuda ini mengajak dia berlatih silat, tentu ada niat-niat tertentu. Karena dia merasa bahwa dia tidak mempunyai maksud jahat dan tadi membela Pusaka Pulau Es dengan sungguh hati, dia kini pun tanpa ragu-ragu lagi lalu mengeluarkan gerengan keras dan tubuhnya berkelebat ke depan. Dengan sepenuh tenaga dan perhatiannya, dia menyerang pemuda itu dengan jurus-jurus simpanan dari Ilmu Silat Pek-lui-kun yang dahsyat.

"Haiiittt..... eihhh.....?" Bukan main heran dan kagetnya ketika melihat pemuda itu menghadapi dengan gerakan-gerakan yang sama! Tiap jurus yang dimainkannya, dihadapi oleh Sin Liong dengan jurus yang sama pula dan dipakai sebagai serangan balasan namun de-ngan cara yang sedemikian hebatnya sehingga jurus yang dimainkannya itu tidak ada artinya lagi! Jurus yang dimainkan oleh pemuda itu untuk menghadapinya jauh lebih ampuh, dan se-kaligus menutup semua kelemahan yang ada, menambah daya serang yang amat hebat se-hingga dalam jurus pertama saja, kalau pemuda itu menghendaki, tentu dia sudah dirobohkan sungguhpun dia sudah hafal benar akan jurusnya sendiri itu! Bukan main girang hati kakek itu. Dia terus menyerang lagi dengan jurus lain, dan sama sekali dia menggunakan delapan belas jurus terampuh dari Pek-lui-kun dan yang kesemuanya selain dapat dihindarkan dengan baik oleh Sin Liong, juga telah dengan sekaligus "diperbaiki" dengan sempurna. Semua gerakan ini dicatat oleh Tee Tok dan setelah dia selesai mainkan delapan belas jurus pilihan itu, dia melangkah mundur dan menjura sangat dalam ke arah Sin Liong.

"Astaga.... kepandaian Taihiap seperti dewa saja......., saya...... saya menghaturkan banyak terima kasih atas petunjuk Taihiap....." katanya agak tergagap.

"Ah, Locianpwe terlalu merendah," jawab Sin Liong. Tee Tok lalu menjura ke arah Ke-tua Hoa-san-pai dan yang lain-lain, seketika pamit dan pergi dengan langkah lebar dan wajah termenung karena dia masih terpesona dan mengingat-ingat gerakan-gerakan baru yang me-nyempurnakan delapan belas jurus pilihannya tadi!

Lam Hai Seng-jin bukan seorang bodoh. Dia adalah seorang tokoh kawakan yang ber-ilmu tinggi. Melihat peristiwa tadi, tahulah dia bahwa pemuda ini memang bukan orang sembarangan dan agaknya telah mewarisi ilmu mujijat yang kabarnya dimiliki oleh penghuni Pulau Es. Maka dia tidak mau menyianyiakan kesempatan itu dan dai sudah meloncat maju dengan senjata hudtim dan kipasnya. "Orang muda yang hebat, kauberilah petunjuk kepa-daku!"

"Totiang, muridmu Kwee Lun Toako adalah sahabat baik kami, harap Totiang sudi me-ngajarnya baik-baik," jawab Sin Liong dan dia pun segera menghadapi serangan kipas dan hudtim dengan kedua tangannya. Biarpun dia tidak menggunakan kedua senjata itu, namun kedua tangannya digerakan seperti kedua senjata itu, dan dia pun mainkan jurus-jurus yang sama, namun gerakannya jauh lebih hebat, bahkan sempurna. Seperti juga tadi, kakek ini memperhatikan dan dia telah menghafal dua puluh jurus campuran ilmu hudtim dan kipas. "Terima kasih, terima kasih..... Siancai, pengalaman ini takkan kulupakan selamanya." Dia menjura kepada yang lain lalu berlari pergi.

"Totiang, sampaikan salamku kepada Kwee-toako!" seru Swat Hong, akan tetapi kakek itu hanya mengangguk tanpa menoleh karena dia pun sedang mengingat-ingat semua jurus ta-di agar tidak sampai lupa. Berturut-turut Gin-siauw Siucai juga menerima petunjuk ilmu silat suling perak dan mauwpitnya, kemudian Ketua Hoa-san-pai juga menerima petunjuk ilmu pedang Hoasan-kiamsut.

Para tokoh kang-ouw yang mengurung tempat itu di lereng puncak, terheran-heran me-lihat tiga orang tokoh itu meninggalkan puncak seperti orang yang termenung. Akan tetapi diam-diam mereka menjadi girang karena tiga orang lihai itu tidak membantu atau mengawal muda-mudi Pulau Es yang mereka hadang. Tiga hari lamanya Sin Liong dan Swat Hong ting-gal di Hoa-san, setiap hari menurunkan ilmu-ilmu tingi kepada Toan Ki dan Swi Nio sehingga kedua orang suami isteri ini kelak akan menjadi tokoh-tokoh kenamaan dan mengangkat na-ma Hoa-san-pai sebagai partai persilatan yang besar dan lihai.

Pada hari ke empatnya, pagi-pagi mereka meninggalkan markas Hoa-san-pai, diantar sampai ke pintu gerbang oleh Ketua Hoa-san-pai, Toan Ki, Swi Nio dan para pimpinan Hoa-san-pai. "Taihiap, Lihiap, pinto khawatir Jiwi akan mengalami gangguan di jalan. Menurut laporan para anak murid pinto, orang-orang kang-ouw itu masih menanti di lereng gunung." Pek Sim Tojin berkata dengan alis berkerut. "Bagaimana kalau kami mengantar Ji-wi sampai melewati mereka dengan selamat?"

Sin Liong tersenyum. "Terima kasih, Locianpwe. Akan tetapi, menghindari mereka ber-arti membuat mereka terus merasa penasaran. Sebaliknya malah kalau kami berdua menemui mereka dan membereskan persoalan seketika juga."

Toan Ki dan Swi Nio yang selama tiga hari menerima petunjuk dari Sin Liong, telah menaruh kepercayaan penuh akan kesaktian pemuda Pulau Es ini, maka mereka tidak merasa khawatir. Mereka maklum bahwa pemuda dan gadis dari Pulau Es itu bukanlah manusia sem-barangan, apalagi pemuda itu memiliki wibawa yang tidak lumrah manusia, gerak-geriknya demikian penuh kelembutan, penuh belas kasih sehingga tidaklah mungkin dapat terjadi se-suatu yang buruk menimpa seorang manusia seperti ini!

Memang benar seperti yang dilaporkan oleh anak buah Hoa-san-pai bahwa para tokoh kang-ouw itu, dipelopori oleh Thian-tok, masih menghadang di lereng puncak. Thian-tok yang tadinya mengandalkan kepandaiannya sendiri, setelah menyaksikan betapa pemuda dan dara Pulau Es itu telah mendapatkan kembali pusaka-pusakanya, diam-diam telah mengajak semua tokoh lain bersekutu dengan janji bahwa kalau pusaka dapat dirampas, dia akan memberi bagian kepada mereka semua. Terutama yang menjadi pembantunya sebagai orang ke dua adalah Thian-he Tee-it Ciang Ham yang tingkat kepandaiannya hanya berselisih atau kalah sedikit saja dibandingkan dengan kepandaian Racun Langit itu. Maka ketika Sin Liong yang membawa pusaka di punggungnya bersama Swat Hong berjalan berlahan dan tenang melalui tempat itu, segera para tokoh kang-ouw itu muncul dan telah mengurung dua orang muda itu dengan ketat, mempersiapkan senjata masing-masing dengan sikap mengancam. Sin Liong menggelenggelengkan kepala.

"Hal itu tidak bisa dilakukan, Cu-wi Locianpwe. Pusaka-pusaka ini adalah milik Pulau Es turun-temurun, mana mungkin sekarang diserahkan kepada orang lain? Setelah kami ber-dua berhasil menemukannya kembali, kami harus mengembalikannya kepada Pulau Es, tem-patnya semula. Maka harap Cu-wi suka memaklumi hal ini dan tidak memaksa kepada kami."

"Orang muda yang keras kepala! Kalau kami memaksa, bagaimana?"

"Terserah kepada Cu-wi sekalian. Sumoi, harap Sumoi suka pergi dulu ke pinggir, ja-ngan menghalangi para Locianpwe ini."

Swat Hong mengangguk dan tersenyum, kemudian tubuhnya berkelebat dan terkejutlah semua orang kang-ouw itu ketika melihat gadis itu meloncat seperti terbang saja, melayang melalui kepala mereka dan kini telah berdiri di luar kepungan! Sungguh merupakan bukti ke-pandaian ginkang (Ilmu meringankan tubuh) yang amat hebat! Sin Liong sengaja menyuruh sumoinya pergi keluar dari kepungan karena tidak menghendaki sumoinya itu naik darah dan turun tangan menggunakan kekerasan terhadap orang-orang kang-ouw ini. Setelah kini meli-hat sumoinya keluar dari kepungan, dia lalu menyilangkan kedua lengannya di depan dada, berkata, "Silahkan kepada Cu-wi apa yang hendak Cu-wi lakukan setelah jelas kukatakan bahwa Pusaka Pulau Es tidak akan kuberikan kepada Cu-wi."

Melihat sikap tenang dan penuh tantangan ini, para tokoh kang-ouw menjadi marah juga. Pemuda itu tidak memegang senjata, berdiri dalam kepungan dan pusaka itu berada di dalam buntalan yang berada di punggungnya. Maka serentak orang-orang kang-ouw yang sudah mengilar dan ingin sekali merampas pusaka itu menerjang maju dan berebut hendak menye-rang Sin Liong dan mengulur tangan hendak merampas buntalan. Pemuda itu hanya berdiri tersenyum, berdiri tegak dan menyilangkan kedua lengannya sambil memandang tanpa ber-kedip mata.

"Ahhh....!"

"Hayaaa.....!"

"Aihhhh.....!"

Semua orang terhuyung-huyung mundur karena belum juga tangan mereka menyentuh pemuda itu, hati mereka sudah lemas dan luluh menghadapi wajah yang tersenyum itu, tangan mereka seperti lumpuh dan tenaga mereka seperti lenyap seketika membuat mereka terhuyung dan hampir jatuh saling timpa! Thian-tok dan Thian-he Tee-it menjadi kaget dan marah sekali melihat keadaan teman-teman mereka itu. Kedua orang itu berilmu tinggi ini memang membi-arkan teman-teman mereka turun tangan lebih dulu untuk menguji kepandaian pemuda yang keadaannya amat mencurigakan karena terlampau tenang itu. Kini melihat betapa teman-temannya mundur tanpa pemuda itu menggerakan sebuah jari tangan pun, kedua orang itu terkejut marah dan penasaran. Thian-tok menerjang ke depan dengan senjata Kim-kauw-pang di tangannya, sedangkan Ciang Ham juga sudah meloncat dekat dengan senjata tombak di tangan.

"Orang muda, serahkan pusaka itu!" Thian-tok membentak.

"Sin-tong, jangan sampai terpaksa aku menggunakan tombak pusakaku!" Ciang ham juga menghardik. Akan tetapi Sin Liong tetap tidak bergerak hanya berkata, "Terserah kepada Ji-wi Locianpwe, Ji-wi yang melakukan dan Ji-wi pula yang menanggung akibatnya."

"Keras kepala!" Thian-tok membentak dan tongkatnya yang panjang sudah menyambar ke arah kepala pemuda itu. Sin Liong sama sekali tidak mengelak, bahkan berkedip pun tidak ketika melihat tongkat itu menyambar ke arah kepalanya, disusul tombak di tangan Thian-he Tee-it Ciang Ham yang menusuk ke arah lambungnya.

"Desss! Takkkk!!"

"Aihhh.......!"

"Heiiii....."

Thian-tok Bhong Sek Bin dan Thian-he Tee-it Ciang ham berteriak kaget dan meloncat ke belakang.Tongkat itu tepat mengenai kepala dan tombak itu pun tepat menusuk lambung, namun kedua senjata itu terpental kembali seperti mengenai benda yang amat kuat, bahkan telapak tangan mereka terasa panas! Tentu saja mereka merasa penasaran, biarpun ada rasa ngeri di dalam hati mereka. Pada saat itu, orang-orang kang-ouw lainnya yang melihat betapa dua orang lihai itu sudah menyerang dengan senjata, juga menyerbu ke depan. Sin Liong tetap diam saja ketika belasan batang senjata yang bermacam-macam itu datang bagaikan hujan menimpa tubuhnya. Semua senjata tepat mengenai sasaran, akan tetapi tidak ada sedikit kulit tubuh pemuda itu yang lecet, kecuali pakaiannya yang robek-robek dan orang-orang itu ter-pelanting ke sana-sini, bahkan ada yang terpukul oleh senjata mereka sendiri yang membalik. Makin keras orang menyerang, makin keras pula senjata mereka membalik. Bahkan Thian-tok sudah mengelus kepalanya yang benjol terkena kemplangan tongkatnya sendiri, sedangkan paha Ciang ham berdarah karena tombaknya pun membalik tanpa dapat ditahannya lagi ketika mengenai tubuh Sin Liong untuk yang kedua kalinya. Ketika mereka memandang dengan ma-ta terbelalak kepada Sin Liong, mereka melihat pemuda itu masih tersenyum-senyum, masih berdiri tegak dengan kedua lengan bersilang di depan dada, hanya bedanya, kini pakaiannya robek-robek dan penuh lobang.

Thian-tok dan Thian-he Tee-it adalah orang-orang yang terkenal di dunia persilatan se-bagai tokoh-tokoh besar yang sudah banyak mengalami pertempuran. Mereka tahu pula bah-wa orang yang memiliki sinkang amat kuat dapat menjadi kebal, akan tetapi selama hidup mereka belum pernah menyaksikan kekebalan seperti yang dihadapi mereka sekarang ini. Kekebalan yang agaknya tanpa disertai pengerahan tenaga.

Apalagi melihat cahaya aneh seperti melindungi tubuh pemuda itu, mereka maklum bahwa pemuda ini bukan orang sembarangan. Tanpa melawan saja pemuda ini telah membuat mereka tidak berdaya, betapa hebatnya kalau pemuda ini mengangkat tangan membalas!

"Maafkan kami......!" Thian-tok berseru lalu melompat dan berlari pergi.

"Sin-tong, maafkan......!" Ciang Ham juga berkata lalu menyeret tombaknya, terpin-cang-pincang pergi dari situ. Tentu saja para tokoh lain yang memang sudah merasa ngeri dan jerih, melihat kedua orang yang diandalkan itu lari, cepat membalikkan tubuh dan berse-rabutan lari dari situ meninggalkan Sin Liong yang masih berdiri tegak di tempat itu. Swat Hong lari menghampiri suhengnya, lalu memeluk suhengnya itu.

"Suheng......., kau tidak apa-apa......?" tanyanya.

Sin Liong menggeleng kepala dan tersenyum.

"Pakaianmu hancur......"

"Pakaian rusak mudah diganti, akhlak yang rusak lebih menyedihkan lagi karena mendatangkan malapetaka."

"Suheng, kau......"

"Ada apakah, Sumoi......?"

Swat Hong menggelengkan kepala dan dia melepaskan rangkulannya, melangkah mun-dur dua tindak dan memandang suhengnya dengan pandang mata penuh takjub dan juga jerih.

"Suheng, kau...... kau berbeda dari dulu......."

"Aih, Sumoi, aku tetap Sin Liong suhengmu yang dahulu."

"Tidak, tidak.....! kau berbeda sekali. Ilmu apakah yang kau pergunakan tadi? Mendiang Ayahku sekalipun tidak pernah memperlihatkan ilmu mujijat seperti itu........"

"Apakah keanehannya, Sumoi? Ilmu yang berdasarkan kekerasan tentu hanya menga-kibatkan pertentangan dan kerusakan belaka, dan setiap bentuk kekerasan hanya akan men-celakakan diri sendiri."

"Suheng, ajarilah aku ilmu tadi....."

"Tidak ada yang bisa mengajar, kelak kau akan mengerti sendiri, Sumoi. marilah kita lanjutkan perjalanan kita." Setelah berkata demikian, Sin Liong memegang tangan sumoinya dan terdengar jerit tertahan dara itu ketika dia merasa bahwa dia dibawa lari oleh suhengnya dengan kecepatan seperti terbang saja! Dia sendiri adalah seorang ahli ginkang yang memiliki ilmu berlari cepat cukup luar biasa, akan tetapi apa yang dialaminya sekarang ini benar-benar seperti terbang, atau seperti terbawa oleh angin saja! Makin yakinlah hatinya bahwa suheng nya telah menjadi seorang yang amat luar biasa kesaktiannya, menjadi seorang manusia dewa!


Gerakan pembalasan yang dilakukan oleh Kaisar Kerajaan Tang yang baru, yaitu kaisar Su Tiong, yang dilakukan dari Secuan, amat hebat. Gerakan pembalasan untuk merampas kembali ibu kota Tiang-an dari tangan pemberontak ini dibantu oleh pasukan yang dapat di-kumpulkan di Tiongkok bagian barat, dibantu pula oleh pasukan Turki, bahkan pasukan Arab. Dengan bala tentara yang besar dan kuat, Kaisar Su Tiong melakukan serangan balasan ter-hadap pemerintah pemberontak yang tidak lagi dipimpin oleh An Lu Shan karena jenderal pemberontak itu telah tewas. Perang hebat terjadi selama sepuluh tahun, dan di dalam perang ini, para pemberontak dapat dihancurkan dan kota demi kota dapat dirampas kembali sampai akhirnya ibu kota dapat direbut kembali oleh Kaisar Su Tiong. Di dalam perang ini, Han Bu Ong putera The Kwat Lin yang bersama orang-orang kerdil membantu pemerintah pemberon-tak, tewas pula dalam pertempuran hebat sampai tidak ada orang pun orang kerdil tinggal hidup.

Dalam tahun 766 berakhirlah perang yang mengorbankan banyak harta dan nyawa itu, namun kerajaan Tang telah menderita hebat sekali akibat perang yang mula-mula ditimbulkan oleh pemberontak An Lu Shan itu. Kematian yang diderita rakyat, pembunuhan-pembunuhan biadab yang terjadi di dalam perang selama pemberontakan ini adalah yang terbesar menurut catatan sejarah. Menurut catatan kuno, tidak kurang dari tiga puluh lima juta manusia tewas selama perang yang biadab itu! Bukan hanya kerugian harta dan nyawa saja, akan tetapi juga setelah perang berakhir, Kerajaan Tang kehilangan banyak kekuasaan atau kedaulatannya! Bantuan-bantuan yang diterima oleh Kaisar di waktu merebut kembali kerajaan, membuat Kaisar terpaksa membagi-bagi daerah kepada para pembantu yang diangkat menjadi guber-nur-gubernur yang lambat laun makin besar kekuasaannya dan seolah-olah menjadi raja-raja kecil yang berdaulat sediri. Di samping itu, pemberontak An Lu Shan membentuk pasukan-pasukan yang ketika pemberontak dihancurkan, melarikan diri ke perbatasan dan menjadi pasukan-pasukan liar yang selalu merupakan gangguan terhadap kekuasaan pemerintah.

Demikianlah, dengan dalih apapun juga, pemberontakan lahiriah hanya mendatangkan kerusakan dan malapetaka, karena tidaklah mungkin perdamaian diciptakan oleh perang! Menurut sejarah di seluruh dunia, tidak pernah ada revolusi jasmani mendatangkan perda-maian dan kesejahteraan. Kiranya hanyalah revolusi batin, revolusi yang terjadi di dalam diri setiaporang manusia, yang akan dapat mengubah keadaan yang menyedihkan dari kehidupan manusia di seluruh dunia ini.

Dengan tewasnya Han Bu Hong di dalam perang itu, maka habislah semua tokoh yang keluar dari Pulau Es dan Pulau Neraka. Yang tinggal hanyalah Sin Liong dan Swat Hong ber-dua saja, akan tetapi kedua orang ini pun sudah kembali ke Pulau Es dan semenjak peristiwa di Hoa-san-pai itu, tidak ada lagi yang tahu bagaimana keadaan kedua orang itu dan, di mana adanya mereka! Yang jelas, Pulau Es masih ada dan kedua orang suheng dan sumoi yang sa-ling mencinta itu pun masih hidup. Buktinya, beberapa tahun kemudian kadang-kadang me-reka itu muncul sebagai manusia-manusia sakti menyelamatkan belasan orang nelayan yang perahunya diserang badai. Didalam kegelapan selagi badai mengamuk dahsyat itu, ketika pe-rahu-perahu mereka dipermainkan badai dan nyaris terguling, tiba-tiba muncul sebuah perahu kecil yang didayung oleh seorang pria berpakaian putih dan seorang wanita cantik, dan kedua orang ini dengan kesaktian luar biasa menggunakan tali untuk menjerat perahu-perahu itu kemudian menariknya keluar dari daerah yang diamuk badai! Apakah mereka itu Sin Liong dan Swat Hong, tidak ada orang yang mengetahuinya karena setiap kali muncul menolong para nelayan dan para penghuni pulau-pulau yang berada di utara, kedua orang itu tidak per-nah memperkenalkan nama mereka. Kalau benar mereka itu adalah Sin Liong dan Swat Hong, bagaimanakah jadinya dengan mereka? Apakah suheng dan sumoi yang saling mencinta dan yang telah kembali ke Pulau Es itu langsung menjadi suami isteri? Hal ini pun tidak ada yang tahu, karena agaknya bagi mereka berdua, menjadi suami isteri atau bukan adalah hal yang tidak penting lagi. Diri mereka telah dipenuhi oleh cinta kasih, bukan cinta kasih yang biasa melekat di bibir manusia pada umumnya, karena cinta kasih seperti itu telah diselewengkan artinya, cinta kasih kita manusia hanya akan mendatangkan kesenagan dan kesusahan belaka dan justeru karena cinta kasih kita itu mendatangkan kesenangan maka dia mendatangkan pula kesusahan karena kesenangan dan kesusahan adalah saudara kembar yang tak mungkin dapat dipisah. Menerima yang satu harus menerima pula yang ke dua, yang mau menikmati kesenangan harus pula mau menderita kesusahan. Tidak, cinta kasih mereka bukan seperti cinta kasih palsu yang kita punyai!

Pernah ada seorang anak nelayan yang diwaktu malam hari, ketika perahunya diayun-ayun gelombang kecil dan dia sedang menggantikan ayahnya yang tertidur untuk menjaga kail, mendengar nyanyian halus yang dinyanyikan oleh seorang wanita cantik di atas perahu dan yang kelihatan remang-remang di bawah sinar bulan purnama di malam itu. Anak yang cerdas ini masih teringat akan bunyi nyanyian itu seperti berikut: "Langit, Bulan dan Lautan kalian mempunyai Cinta kasih namun tak pernah bicara tentang Cinta kasih! Kasihanilah manusia yang miskin dan haus akan Cinta Kasih, bertanya-tanya apakah Cinta Kasih itu? Bilamana tidak ada ikatan tidak ada pamrih dan rasa takut tidak memiliki atau dimiliki tidak menuntut dan tidak merasa memberi. Tidak menguasai atau dikuasai tidak ada cemburu, iri hati tidak adadendam dan amarah tidak ada benci dan ambisi. Bilamana tidak ada iba diri tidak mementingkan diri pribadi, bilamana tidak ada "Aku" barulah ada Cinta Kasih........"

Puluhan tahun, bahkan seratus tahun kemudian di dunia kang-ouw timbul semacam cerita setengah dongeng tentang seorang manusia dewa yang mereka sebut Bu Kek Siansu, seorang laki-laki tua yang sederhana namun yang pribadinya penuh cinta kasih, cinta kasih terhadap siapa pun dan apa pun. Bu Kek Siansu yang dikenal sebagai tokoh Pulau Es dan menurut cerita tradisi dari keturunan tokoh-tokoh seperti Tee Tok Siangkoan Houw, Lam Hai Sengjin dan muridnya, Kwee Lun, Gin-siauw Siucai, tokoh-tokoh Hoa-san-pai, katanya bah-wa Bu Kek Siansu itu adalah anak yang dahulu disebut Sin-tong (Anak Ajaib), yaitu pemuda Kwa Sin Liong yang menghilang bersama sumoinya, Han Swat Hong, dan yang kabarnya menetap di Pulau Es, tidak pernah lagi terjun ke dunia ramai. Dan memang seorang manusia seperti Bu Kek Siansu tidak pernah mau menonjolkan diri, selalu bergerak tanpa pamrih, ha-nya digerakan oleh cinta kasih. Maka kita pun tidak mungkin dapat mengikuti seorang ma-nusia seperti Bu Kek Siansu, dan hanya kadang-kadang saja dapat melihat muncul di antara orang banyak, dan di dalam dunia persilatan, Bu Kek Siansu akan muncul di dalam ceritera "Suling Emas". Demikinlah, terpaksa pengarang menutup cerita "Bu Kek Siansu" ini yang hanya dapat menceritakan pengalaman pemuda Kwa Sin Liong sewaktu dia belum menjadi seorang Bu Kek Siansu, sewaktu dia belum memiliki cinta kasih sehingga masih diombang-ambingkan oleh suka dan duka dalam kehidupannya. Dengan mengenangkan isi nyanyian yang dinyanyikan oleh anak nelayan itu, penulis mengajak para Pembaca Budiman untuk sama-sama mempelajari dan mudah-mudahan kita pun akan memiliki Cinta Kasih melalui pengenalan diri pribadi. Teriring salam bahagia dari pengarang dan sampai jumpa kembali di lain cerita..



T A M A T

1.14 Bu Kek Siansu


"Ibu.....!"

"Ayahhhhh.....!" Ouw Sian Kok menghentikan amukannya dan menjatuhkan diri ber-lutut. Tadi dia mengira bahwa puterinya telah tewas, maka panggilan itu menggetarkan jan-tungnya dan membuat dia lemas.

"Kau.....kau Soan Cu.....?"

"Ayahhhhhhh..... Hu-hu-hu-huuuuu.....!!" Soan Cu menangis dalam rangkulan ayahnya yang juga bercucuran air mata. Baru pertama kali Ouw Sian Kok dapat mencucurkan iar mata. "Wutttt..... trangggggg......!!" Dua batang golok terpental oleh tangkisan oleh tangkisan Ouw Sian Kok tanpa menoleh karena dia sedang mendekat dan menciumi dahi puterinya.

"Ayah, aku puas..... dapat bertemu denganmu.......!"

"Soan Cu...... aihhhh, anakku, kauampunkan dosa ayahmu....." Ouw Sian Kok berkata dengan suara terisak. "Trang-trang..... dessss!!" Dua orang pengawal yang berani menyerang roboh oleh tangkisan pedang Ouw Sian Kok dan mecuatnya kaki Soan Cu yang menendang. "Ah, jangan kau keluarkan tenaga....." kata Ouw Sian Kok melihat betapa tendangan tadi membuat napas Soan Cu memburu.

"Ayah..... aku.....aku tidak kuat lagi.....kalu larilah, ayah......."

"Soan Cu......! Soan Cuuuu......!!" Sian Kok meraung-raung ketika menyaksikan dengan mata sendiri betapa puterinya yang baru dilihatnya selama hidup puterinya itu, menghembus-kan napas di dalam dekapnya, dengan bibir tersenyum. Laki-laki gagah perkasa itu masih terus meraung-raung, dengan air mata bercucuran ketika dia telah membaringkan tubuh puteri nya ke atas lantai kemudian dia mengamuk seperti seekor naga, menyebar maut diantara pe-ngeroyoknya! Hujan senjata tidak dirasakannya lagi pedangnya sampai menjadi merah dari ujung sampai kegagang, bahkan sampai ke lengannya! Sementara itu Liu Bwee yang sudah banyak kehilangan darah juga makin lemas gerakannya. kalau tidak ada Swat Hong, tentu dia roboh oleh Ouwyang Cin Cu. Untung bagi mereka agaknya kakek yang sudah menjadi Kok-su ini hanya setengah hati saja bertempur, sering kali dia sengaja mundur dan membiarkan anak buah pengawal yang mengeroyok. Hal ini karena dia sebetulnya tidak begitu suka kepa-da The Kwat Lin yang dianggapnya berbahaya. Pula, setelah sekarang dia telah memperoleh kedudukan tinggi, dia tidak membutuhkan kerja sama dengan The Kwat Lin. Selain itu, juga dia ingin menghindarkan sedapat mungkin permusuhan dengan orang-orang lihai, apalagi keluarga dari Pulau Es!

"Swat Hong, cepat kau pergi......!"

"Tidak, Ibu!" "Kalau tidak, kau akan mati......!"

"Mati bersamamu merupakan kebahagiaan, Ibu!"

"Hushhhh, anak bodoh. kalau begitu siapa yang akan mengembalikan pusaka? Kauingat pesan Ayahmu."

"Tapi, Ibu....."

"kalau kau membantah dan sampai tewas di sini, Ibumu tidak akan dapat mati dengan mata meram."

"Ibu......!"

"Lihatlah, dia.....diapun akan mati..... Ibu ada seorang teman yang baik......Ibu dan dia.....ah, kami senang mati bersama.....kau jangan ikut-ikut......!"

Mendengarkan ucapan ini, Swat Hong terkejut sekali dengan menengok ke arah Ouw Sian Kok yang mengerikan keadaannya itu.Mengertilah dia bahwa Ibunya dan laki-laki per-kasa itu telah saling jatuh cinta! Jantungnya seperti ditusuk, teringat dia akan kesalahan ayah nya terhadap ibunya. Ibunya tidak bersalah, sudah sepantasnya menjatuhkan hati kepada pria lain karena disakiti hatinya oleh suami yang tergila-gila kepada wanita lain!

"Ibu......"

"Pergilah, dan ajak pemuda gagah itu!" Sambil bercucuran air mata, Swat Hong meng-amuk, memutar pedangnya dan mendekati Kwee Lun yang juga masih mengamuk.

"Toako, hayo kita pergi!!"

"Eh? Ibumu? Soan Cu? Ayahnya.......?"

"Ayolah.....!!"

"Baik, baik.....!" Mereka berdua membuka jalan darah, akhirnya berhasil meloncat keluar.

"Jangan kejar mereka! kepung saja yang berada di dalam!" terdengar Ouwyang Cin Cu berseru. Tidak terlalu lama Ouw Sian Kok dan Liu Bwee dapat bertahan. Mereka sudah keha-bisan tenaga, juga terlalu banyak mengeluarkan darah. Akhirnya, mereka roboh berdekatan, di dekat mayat Soan Cu. Ouwyang Cin Cu menghela napas panjang, kagum sekali menyaksikan kegagahan mereka itu. Dia masih belum menduga bahwa tiga orang yang telah tewas ini ada-lah orang-orang yang datang dari tempat yang hanya didengarnya dalam dongeng! wanita cantik setengah tua itu adalah bekas permaisuri Raja Pulau Es, sedangkan laki-laki perkasa dan dara jelita itu adalah ayah dan anak dari Pulau Neraka, bahkan merupakan tokoh pimpin-an! Dia menghela napas pula ketika melihat bahwa The Kwat Lin juga tewas dalam keadaan mengerikan. Diam-diam dia merasa lega, karena dia maklum betapa dilubuk hati wanita ini tersembunyi cita-cita yang amat hebat, yang kelak mungkin membahayakan kedudukan kaisar, dan kedudukannya sendiri.

Setelah membuat laporan kepada Kaisar baru, yaitu An Lu Shan, tentang kematian The Kwat Lin bekas jenderal ini hanya menarik napas panjang. "Hemm, sayang sekali, dia meru-pakan tenaga yang berguna." Kemudian mengelus jenggotnya dan berkata, "kalau begitu ba-gaimana dengan puteranya?"

"Menurut pendapat hamba, puteranya itu masih berdarah Raja Pulau Es yang kabarnya masih mempunyai hubungan keluarga dengan kerajaan lama. Maka kalau dia dibiarkan saja menjadi pangeran di sini, kelak kalau sudah dewasa tentu akan merupakan bahaya."

An Lu Shan mengangguk-angguk. "habis bagaimana pendapatmu?" Kok Su yang meru-pakan penasehat utama itu mengerutkan alisnya yang bercampur uban, lalu berkata,

"Mereka itu datang dari Rawa Bangkai, biarlah dia hamba bawa kembali ke sana, diberi kedudukan sebagai penguasa di Rawa Bangkai dan daerahnya. Anak kecil itu tidak tahu apa-apa, asal diberi kedudukan di sana mengepalai bekas anak buah ibunya dan Kiam-mo Cai-li, tentu kelak akan senang hatinya."

"Baiklah, urusan ini kuserahkan kepadamu untuk dibereskan."


Demikianlah, setelah penguburan jenazah ibunya selesai, Han Bu Ong yang masih kecil itu menurut saja ketika oleh Ouwyang Cin Cu diberitahu bahwa dia oleh kaisar "diangkat" menjadi "raja muda" yang berkuasa di Rawa Bangkai, di mana telah dibangun sebuah gedung mewah lengkap dengan semua pelayan dan perabot. Di tempat ini, Han Bu Ong hidup cukup mewah. Akan tetapi anak ini memang mempunyai kecerdikan yang luar biasa. Biarpun dia di-cukupi hidupnya, diam-diam dia mengerti bahwa dia sengaja setengah"dibuang" oleh Kaisar dan Ouwyang Cin Cu setelah ibunya tewas. Maka dia mencatat di dalam hatinya bahwa selain Swat Hong dan Kwee Lun yang menjadi musuh besarnya, juga Ouwyang Cin Cu sebetulnya bukanlah seorang sahabat yang setia dari ibunya.

Anak kecil ini dengan rajin lalu melatih dirinya dengan ilmu-ilmu peninggalan ibunnya yang masih ada padanya. Dia harus menggembleng dirinya dan kelak, selain dia harus mem-balas kepada musuh-musuhnya, juga dia akan berusaha untuk merampas kembali pusaka-pusaka Pulau Es yang dicuri oleh Swat Hong. Dia merasa bahwa dia berhak memiliki pusaka itu karena bukankah dia putera Raja Pulau Es? Dari ibunya dia dahulu mendengar bahwa sia-pa yang mewarisi pusaka Pulau Es dan melatih semua ilmu yang terdapat di dalam kitab-kitab itu, tentu akan menjadi jago nomer satu di dunia.


***

Para pembaca yang mengikuti pengalaman Kwa Sin Liong tentu menjadi penasaran kalau pemuda sakti itu sampai tewas dalam keadaan yang demikian mengerikan! Tidak, dia tidak mati! Memang nyaris dia tewas dimakan ratusan ekor ular berbisa yang menjadi peng-huni sumur itu. Akan tetapi kalau orang belum tiba saatnya untuk mati, ada saja penolongnya yang bisa dianggak tidak masuk akal, kebetulan atau luar biasa. Dalam halnya Sin Liong tidak ada yang tidak masuk akal atau luar biasa. Memang tubuhnya yang pingsan itu terlempar ke dalam sumur di mana terdapat ratusan ekor ular berbisa dari segala jenis, akan tetapi tidak ada seekorpun ular yang berani menggigitnya. Apalagi menggigit, mendekatipun mereka itu tidak berani, bahkan begitu tubuh pemuda itu terjatuh, ular-ular itu cepat menyingkir ketakutan. Hal ini adalah karena tanpa sengaja di saku baju Sin Liong terdapat batu mustika hijau dari Pulau Es! Seperti kita ketahui, batu mustika hijau ini adalah milik Han Swat Hong yang telah me-nyelamatkan nyawa gadis ini pula ketika terserang racun. Ketika Sin Liong mengobati sumoi nya itu, dia menyimpan batu mustika ini di dalam saku bajunya sehingga ketika dia terlempar ke dalam sumur, batu mustika itu ikut terbawa olehnya dan menjadi penyelamatnya karena ti-dak ada ular yang berani mendekatinya. Sebetulnya pemuda ini menderita luka yang amat pa-rah dan yang akan mematikan akibatnya bagi orang lain. Namun, pemuda ini pada dasarnya memiliki tubuh yang sempurna, bersih darahnya dan kuat tulang dan urat-uratnya, apalagi se-jak kecil dia menerima gemblengan ilmu kesaktian dari Han Ti Ong sehingga dia memilki tubuh yang amat kuat dan tahan derita.

Dua hari dua malam dia rebah pingsan di dasar sumur yang lembab, tampa diusik oleh ular-ular itu yang hanya memandang dari jauh seolah-olah dia merupakan mahluk yang menakutkan. Pada hari ke tiga, nampak tanda hidup pada tubuh yang tadinya tak bergerak-gerak seperti mati itu dengan suara mengeluh panjang, kemudian tubuh itu bergerak dan bangkit duduk dengan susah payah. Sejenak Sin Liong merasa nanar dan bingung melihat bahwa dirinya berada di tempat yang amat gelap. Begitu gelapnya sehingga dengan terkejut dia menyangka bahwa matanya telah menjadi buta. Akan tetapi, ketika dia menoleh, tampak lah sedikit cahaya di belakangnya, dan mengertilah dia dengan hati lega bahwa dia tidak buta, melainkan berada di tempat yang amat gelap. Dia tidak tahu bahwa dia dilempar ke sumur dan sumur itu kini telah tertutup oleh batu-batu besar dari atas ketika guha terowongan itu se-ngaja diruntuhkan oleh Kiam-mo Cai-li dan The Kwat Lin. Melihat cahaya terang di belakang nya, Sin Liong menggerakan tubuhnya hendak menyelidiki, akan tetapi dia mengeluh karena begitu bergerak, dadanya terasa nyeri bukan main! Dia teringat akan pertempuran itu dan mu-lai mengertilah dia bahwa tentu dia telah tertawan dan berada dalam tempat tahanan rahasia yang amat gelap. Maka dia segera duduk bersila mengatur pernapasan di tempat lembab dan pengap itu, menyalurkan tenaga dan hawa sakti di dalam tubuhnya. Memang dia memiliki sinkang yang amat kuat berkat latihan di Pulau Es, maka tak lama kemudian dia telah mengo-bati luka di dalam tubuhnya dan menyelamatkan rasa nyeri-nyeri di tubuhnya. Begitu dia menghentikan latihannya, terasa betapa perutnya lapar sekali. Dia tidak tahu bahwa sudah dua hari dua malam perutnya sama sekali tidak diisi apa-apa. Sin Liong bangkit berdiri dengan hati-hati. Tangannya meraih ke atas. kosong. Dia mencoba meloncat dengan kedua tangannya di atas kepala.Tetap saja disebelah atasnya kosong, tanda bahwa tempat tahanan itu tinggi bukan main! Seperti sumur! Betapapun dalamnya sumur itu tentu dia akan meloncat keluar, pikirnya.

Dikerahkan seluruh tenaga dalamnya, kemudian dengan ilmu ginkangnya yang isti-mewa, dia melompat lagi ke atas, kedua tangannya tetap menjaga di atas kepala. "Plakkkkk!" Tubuhnya melayang lagi ke bawah. Kedua tangannya bertemu dengan batu besar yang amat berat, yang menutup lubang sumur itu! Beberapa kali Sin Liong menggunakan kepandaiannya untuk keluar dari dalam sumur, dan sekali meloncat, dia menggunakan sinkang di kedua ta-ngannya untuk mendorong batu. Akan teteapi usahanya ini selalu gagal. Tentu saja tidak mungkin bagi seorang manusia, betapa kuatpun dia, untuk meloncat sambil mendorong tum-pukan batu-batu besar yang menutup mulut sumur itu, batu-batu sebesar rumah dan yang sebongkah saja beratnya ada yang seribu kati! Akhirnya Sin Liong pun maklum bahwa usaha nya meloloskan diri melalui atas tidak mungkin baginya. Maka dia mulai meraba-raba di se-kelilingnya. Sumur itu tidak berapa lebar, paling banyak bergaris tengah tiga meter. Ketika dia mendengar suara mendesis-desis dan mencium bau hamis, tahulah dia bahwa di tempat itu terdapat banyak ular berbisa. Kemudian tampak olehnya melalui cahaya redup tadi bahwa di bagian bawah terdapat sebuah lubang dan agaknya dari tempat itulah ular-ular keluar dari su-mur. Begitu dia mendekati lubang ini, tampak olehnya ekor ular berkelebat di dalam cahaya remang-remang itu, menjauhkan diri. Dia merasa heran mengapa binatang-binatang itu tidak mengganggunya ketika dia pingsan dan kini kelihatan takut kalau didekatinya.

Dia teringat, meraba saku bajunya dan tersenyum mengeluarkan batu hijau yang menge-luarkan sinar di dalam gelap itu. Inilah penolongku,pikirnya. Hatinya menjadi makin tenang. Dengan adanya batu mustika hijau ini, tidak perlu takut menghadapi binatang berbisa apa pun. Akan tetapi, melihat batu mustika itu, teringatlah dia kepada Swat Hong dan dia merasa kha-watir juga. Musuh demikian lihai, dia sendiri kena ditangkap dan agaknya dilempar ke sumur ini. Bagaimana nasib Swat Hong? Dia harus cepat keluar dari tempat ini untuk menolong Swat Hong. Kekhawatirannya terhadap sumoinya itu membuat dia makin bersemangat men-cari jalan keluar. Lubang dari mana ular-ular itu keluar dari sumur terlalu sempit untuk dapat diterobos, maka Sin Liong lalu menggunakan kedua tangannya untuk membongkar batu di lubang itu, memperlebar lubang dengan jalan memukul pecah batu batu di sekelilingnya. Tidak mudah pekerjaan ini, karena selain tubuhnya masih lemah, juga batu-batu di tempat itu amat kerasa dan hanya dapat digempurnya sedikit demi sedikit. Namun akhirnya dapat juga dia memperlebar lubang itu sehingga dia dapat merangkak melalui lubang sambil terus meng-gempur lubang di depat yang merupakan terowongan panjang. Melihat betapa makin lama cahayanya dari seberang terowongan kecil itu makin terang, hatin Sin Ling membesar. Jelas bahwa di seberang itu terdapat tempat terbuka dari mana sinar matahari dapat masuk, pikirnya. Akan tetapi pekerjaan menerobos terowongan kecil yang merupakan liang ular dengan hanya menggunakan kedua tangan kosong, memakan waktu lama juga. Saking hausnya, dia mene-ngadah untuk menerima titik-titk air yang jatuh dari atas, yaitu dari dinding sumur yang me-ngeluarkan air. biarpun memakan waktu lama, dapat juga dia mengobati dahaga dengan me-minum secara demikian. Namun perutnya yang lapar terpaksa harus berpuasa lagi sampai tiga hari! karena setelah tiga hari, barulah dia berhasil merangkak keluar dari terowonganitu dan tiba di sebuah ruangan yang cukup luas, akan tetapi juga merupakan tempat tertutup! Bedanya, kalau sumur pertama merupakan tempat sempit dan gela, maka ruangan kedua ini luas sekali, garis tengahnya tidak kurang dari sepuluh meter, merupakan sebuah ruang dalam tanah yang aneh.

Di sebelah atas, jauh dan tinggi sekali, tertutup oleh tanah atau batu dan ada celah-celah yang merupaka retakan batu-batu dari mana sinar matahari dapat menerobos masuk. Sin Liong menjatuhkan diri duduk di tengah ruangan dalam tanah ini dan harapannya kandas sa-ma sekali. Kalau sumur pertama itu merupakan tahanan yang sukar diterobos adalah tempat ini lebih sukar lagi untuk meloloskan diri. Ular-ular yang banyak sekali berbelit-belit dan kelihatan ketakutan, ada yang merayap naik, ada pula yang menerobos terowongan yang su-dah melebar itu untuk kembali ke dalam sumur pertama! Sin Liong termenung. Dari kamar tahanan kecil dia pindah ke kamar tahanan besar! Hanya lebih lebar dan memperoleh pene-rangan sinar matahari yang tidak seberapa. Itulah bedanya! Akan tetapi dia tidak menjadi putus harapan. Dihadapinya kenyataan ini dengan tabah dan dilenyapkannya kekhawatiran di dalam hatinya tentang diri sumoinya dengan keyakinan bahwa apa pun yang akan terjadi, terjadilah tanpa dipengaruhi segala kekhawatiran yang tiada gunanya! Dia sendiri menghadapi bencana, menghadapi ancaman maut dan inilah yang terutama harus dihadapi dan diatasi lebih dulu.

Dia mulai memeriksa kalau-kalau ada jalan keluar dari tempat itu. Sama sekali tidak ada jalan keluar. Akan tetapi, dia menemukan benda-benda yang sementara dapat menolongnya dari ancaman kelaparan, yaitu jamur yang agaknya bertumbuhan dengan subur di tempat itu karena memperoleh sinar matahari. Perutnya lapar sekali dan pengetahuannya tentang tetum-buhan meyakinkan hatinya.maka mulailah dia memilih jamur-jamur yang tak mengandung racun, lalu mulai dia makan jamur. Dalam keadaan lapar bukan main, ternyata jamur-jamur mentah itu terasa enak juga! Soal minum dia tidak usah khawatir karena di beberapa tempat pada dinding batu itu terdapat air yang menetes. Ditampungnya tetesan air itu dengan kedua tangannya, lalu diminumnya. Luar biasa segarnya air yang disaring oleh tanah dan batu itu. Setelah yakin benar bahwa tidak ada jalan keluar dari tempat itu, Sin Liong menerima kenya-taan ini dan dia giat berlatih ilmu. Di dalam kesunyian yang amat hebat itu perasaan dan piki-ran Sin Liong menjadi luar biasa tajamnya. Semua ilmu yang pernah dipelajari dan dibacanya dahulu sukar dimengerti olehnya karena kitab-kitab kuno Pulau Es memang amat sukar diar-tikan, kini menjadi jelas dan dapat dia selami intinya. Oleh karena inilah maka diluar dari ke-sadarannya sendiri, ilmu kesaktiannya bertambah dengan hebat dan cepatnya. Juga ditempat ini dia mulai mengenal diri sendiri, mengenal arti hidup yang sesungguhnya. Tanpa disadari-nya sendiri, dari dalam pribadinya timbul kekuatan mujijat, kekuatan yang dimiliki oleh setiap orang manusia namun yang selalu terpendam dan tetap tersembunyi sampai saat terakhir dari hidup manusia yang selalu dipermainkan oleh nafsu yang disebut aku.

Tanpa terasa oleh Sin Liong sendiri yang selama hidup di dalam ruang bawah tanah itu sama sekali tidak pernah memikirkan atau mengenal waktu, pemuda luar biasa ini telah ber-ada di tempat itu selama dua tahun! Dia mengerti bahwa tanpa bantuan dari luar, tidak mung-kin dia meloloskan diri dari tempat itu, maka sudah sejak lama dia tidak lagi berusaha untuk keluar dari situ. Selama itu, yang menjadi teman-temannya hanyalah ular-ular berbisa! Ter-nyata oleh pemuda itu bahwa binatang berbisa seperti ular pun mengenal siapa lawan siapa kawan. Karena selama itu dia tidak pernah mengganggu mereka, ular-ular itu pun jinak dan sama sekali tidak pernah menyerangnya, biarpun dia menjauhkan batu mustika hijau dari tubuhnya. Binatang-binatang ini hanya menyerang untuk menjaga diri saja dari bahaya yang datang mengancam diri mereka. Juga tanpa disadari sendiri oleh Sin Liong, tubuhnya yang setiap hari hanya dihidupkan oleh sari jamur yang bermacam-macam itu, pertumbuhannya sama sekali berlainan dengan manusia biasa. makanan amat mempengaruhi tubuh dan sari jamu yang dimakannya selama dua tahun itu mendatang kan kepekaan luar biasa, dan kepe-kaan tubuh ini pun mempengaruhi pula pertumbuhan batinnya. Dia menjadi seorang manusia luar biasa, tidak menderita apa-apa, tidak mengharapkan apa-apa, karena di dalam keadaan apapun juga, menghadapi keadaan apa adanya, sewajarnya, sebagaimana adanya yang diang-gap sudah semestinya demikian, tidak ada lagi apa yang disebut menyenangkan atau tidak menyenangkan, tidak ada lagi yang disebut senang atau susah, tidak ada lagi puas atau kece-wa. Dalam keadaan seperti itu, tubuh sehat dan batin tenang, yang ada hanyalah rasa suka ria yangsukar dilukiskan karena sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kesukaan atau kegembiraan yang dapat dicari. Suatu nikmat yang bukan datang dari gairah nafsu atau kesenangan, nikmat hidup yang datang tanpa dicari, yang terasa hanya setelah batin bebas dari segala ikatan, seperti batin Sin Liong di waktu itu.

Pada suatu hari, di sebelah atas dari tempat rahasia ini, terjadilah kesibukan besar. Pu-luhan orang katai yang tubuhnya pendek akan tetapi besarnya seperti manusia biasa, bertubuh kuat dan bertenaga besar, dipimpin oleh seorang pemuda tanggung sedang membongkari re-runtuhan batu-batu di dalam terowongan bawah tanah itu. pemuda tanggung yang berpakaian mewah itu bukan lain adalah Bu Ong, yang kini telah mengumpulkan sisa orang-orang kerdil bekas taklukan di Rawa Bangkai dan menjadi pimpinan mereka. Han Bu Hong kini telah menjadi seorang pemuda tanggung yang lihai dan tidak ada seorang pun di antara tokoh-tokoh orang kerdil mampu melawannya. Agaknya, untuk menjadikan mimpi ibunya sebagai kenya-taan, dia telah mengangkat diri sendiri menjadi ketua atau lebih tepat lagi menjadi "raja" dari orang-orang katai ini. Gedung di Rawa Bangkai hanya menjadi tempat tinggal umum, akan tetapi diam-diam dia mendirikan "kerajaan kecil" di bawah tanah. Bahkan dia telah memba-ngun sebuah ruang seperti istana di bawah tanah, lengkap dengan kursi kebesaran yang di-hiasai dengan sebuah tengkorak di samping hiasan mahal seperti permadani, lukisan dan tulisan indah. Sering kali dia secara sembunyi mengadakan pertemuan dan rapat rahasia de-ngan para tokoh orang katai yang menjadi pembantunya, dan pemuda tanggung ini diam-diam merencanakan pekerjaan besar untuk melanjutkan cita-cita ibunya.

Demikianlah, karena dia ingin menggunakan terowongan bawah tanah itu sebagai mar-kas partai orang kerdil , dan juga karena dia ingin mencari kalau-kalau ada harta atau pusaka peninggalan Rawa bangkai di terowongan itu, dia lalu mengerahkan para anak buahnya untuk membersihkan bagian terowongan yang dahulu diruntuhkan oleh ibunya dan oleh Kiam-mo Cai-li.

"Akan tetapi, Siauw-pangcu (Ketua Cilik)," seorang pembantu membantah sebelum pembongkaran dilakukan . "Tempat ini dahulu sengaja diruntuhkan oleh Ibu Pangcu untuk menutupi sumur ular di mana tubuh musuh Ibu Pangcu dilempar. Karena musuh itu lihai bu-kan main, maka Ibu Pangcu bersama Kiam-mo Cai-li dan Ouwyang Cin Cu memutuskan untuk menutup saja tempat ini agar pemuda sakti itu tidak mampu hidup kembali."

Han Bu Ong tertawa. "Ha, ha, mana mungkin Kwa Sin Liong dapat hidup kembali? Dia sudah di lempar di sumur ular, andaikata dia tidak mati oleh ular-ular itu, tentu selama dua tahun dikubur hidup-hidup di sumur itu dia kini sudah menjadi setan tengkorak, tinggal rang-kanya saja. Mengapa khawatir? Hayo bongkar! Kalau tidak dibongkar, terowongan ini tertu-tup sampai di sini, padahal kita amat membutuhkan sebagai jalan rahasia yang amat penting bagi perkumpulan kita."

Karena alasan yang dikemukakan ketua cilik ini memang tepat, maka beramai-ramai para manusia katai itu segera bekerja keras, membongkari batu-batu yang besar-besar dan be-rat itu, menggunakan alat pendongkel dan lain-lain. Hiruk pikuk suara di dalam terowongan itu dan pekerjaan yang berat itu biarpun dilakukan oleh hampir lima puluh orang, tetap saja memakan waktu yang cukup lama. Memang sesungguhnyalah bahwa merusak itu mudah membangun itu sukar, mengotori itu mudah membersihkannya tidak semudah itu. Setelah bekerja keras selama sepekan, barulah batu besar terakhir yang menutupi sumur dapat di-singkirkan. Han Bu Ong dan para anak buahnya seperti berlomba lari menghampiri sumur dan melongok ke dalam sumur yang amat gelap itu. Pada saat itu, terdengar suara angin menyam-bar dari bawah dan berkelebatlah bayangan orang yang melayang dari bawah, Han Bu Ong dan semua orang terkejut. Ketika mereka menoleh dan memandang bayangan orang yang tadi meloncat melewati kepala mereka, mereka melihat seorang laki-laki muda berdiri di situ sambil tersenyum, seorang pemuda yang berwajah tampan, yang memiliki sepasang mata yang lembut pandangannya namun bersinar cahayanya, pemuda yang pakaiannya lapuk dan compang camping. Tidak ada orang kerdil yang mengenal pemuda ini karena memang kea-daannya jauh berbeda dengan tahun yang lalu. Akan tetapi Han Bu Ong dengan suara gemetar membentakkan perintah,

"Serbu! Bunuh dia...!!" Orang -orang katai yang tadinya bengong terheran-heran dan ketakutan karena menduga keras bahwa tentu hanyalah siluman saja yang keluar dari sumur tertutup itu, ketika mendengar bentakan ini menjadi sadar. Kini mereka pun ingat bahwa tentu ini pemuda yang dua tahun yang lalu dilempar ke dalam sumur. Biarpun mereka bergidik ngeri dan gentar mendapat kenyataan bahwa orang yang dua tahun lalu dilempar ke sumur ular yang tertutup kini ternyata masih hidup, namun karena maklum bahwa ini adalah musuh mereka dengan teriakan-teriakan ganas mereka menyerang orang itu. Memang benar dugaan Han Bu Ong. Orang ini bukan lain adalah Kwa Sin Liong.

Ketika Sin Liong akhirnya dari bawah mendengar suara hirup pikuk disebelah atas kemudian melihat cahaya turun melalui terowongan kecil jalan ular, dia menyeberangi tero-wongan dan tiba di dasar sumur pertama. akhirnya dia melihat betapa atap sumur yang tadinya tertutup batu besar itu terbuka dan melayanglah dia keluar. karena selama dua tahun dia tidak bertemu orang, begitu melihat Bu Ong dan orang-orang kerdil, dia tersenyum girang. Akan tetapi orang-orang kerdil itu dengan bermacam senjata telah menyerangnya. Sin Liong hanya mengerahkan sinkangnya membiarkan belasan senjata tajam menimpa tubuhnya. Terdengarlah teriakan-teriakan kaget karena semua senjata, baik yang tajam maupun yang tumpul, begitu mengenai tubuh pemuda itu, membalik seperti mengenai gumpalan karet yang amat kuat.

"Adik Bu Ong...bukankah engkau sute (Adik Seperguruan)...?"Sin Liong berkata halus sambil memandang kepada Han Bu Ong.

"Iblis! Siluman! Bunuh dia...!!"Bu Ong berteriak-teriak dengan muka pucat dan mata terbelalak. Biarpun hati mereka gentar sekali, namun orang katai itu kembali menyerbu dan hujan senjata menyambar tubuh Sin Liong. Kembali senjata-senjata itu mental, bahkan ada yang terlepas dari pegangan tangan pemiliknya. Sin Liong menarik napas panjang, menunduk dan memandang pakaiannya yang menjadi makincompang-camping, terkena bacokan senjata-senajata itu, kemudian sekali bergerak tubuhnya berkelebat melewati kepala para pengero-yoknya yang bertubuh pendek dan lenyap. Gegerlah para orang katai. Akan tetapi Han Bu Ong menyabarkan dan menenangkan hati mereka. Dia merasa yakin bahwa betapapun lihai nya Sin Liong, pemuda itu agaknya tidak akan mengganggunya. Maka dia melanjutkan ren-cananya dan melakukan perundingan dengan para anak buahnya. Seperti juga ibunya dahulu, pemuda tanggung ini sudah mulai dengan usahanya untuk mencari kedudukan dengan meng-hubungi seorang "pangeran" baru yang juga merasa tidak puas dengan kedudukan yang dipe-rolehnya setelah perjuangan mereka berhasil.

Pangeran ini dahulunya adalah seorang pemberontak rakyat petani yang bergabung dengan An Lu Shan, bernama Shi Su beng yang kini dianugerahi pangkat "pangeran" oleh An Lu Shan. Shi Su Beng bermaksud untuk merebut tahta kerajaan dari An Lu Shan, dan apabila terjadi kegagalan, maka terowongan bawah tanah milik Han Bu Ong itulah yang akan dijadi-kan tempat persembunyian. Setelah selesai mempersiapkan segala-galanya dan tempat itu di-tinjau sendiri oleh Pangeran Shi Su Beng, Han Bu Hong lalu pergi ke kota raja bersama seku-tunya itu untuk mulai melaksanakan siasat yang sudah mereka rencanakan lebih dahulu.

Memang selama dua tahun itu terjadi dua hal yang banyak tercatat da Kemenangan An Lu Shan ternyata tidak mendatangkan kemakmuran atau keamanan, bahkan sebaliknya. Selain kaisar yang telah melarikan diri ke Secuan dan menyerahkan tahta kerajaan kepada puteranya itu kini menyusun kekuatan di barat untuk menyerbu dan merampas kembali kota raja, juga di dalam istana pemerintah baru sendiri terjadi pertentangan dan perebutan kekuasaan! Semua ini terjadi karena memang sesungguhnya para pemimpin pemberontak yang dahulu membe-rontak terhadap pemerintah dengan dalih "demi rakyat" atau demi keadilan, demi kebenaran, demi negara dan lain istilah muluk-muluk lagi itu sesungguhnya hanyalah "berjuang" demi dirinya sendiri saja! Semua istilah itu tak lain tak bukan hanyalah untuk dijadikan "modal" perjuangannya untuk mencari kedudukan dan kemuliaan bagi diri sendiri. Hal ini sudah terlalu sering terjadi di dunia, berulang-ulang, namun sampai sekarang rakyat di seluruh dunia tetap bodoh, mau saja di peralat dan dicatut namanya oleh orang-orang yang berambisi untuk diri pribadi. Betapa banyaknya bukti akan kepalsuan ini dapat dilihat dalam sejarah di negara manapun di dunia ini. Sekelompok orang berambisi untuk keuntungan mereka sendiri, dengan siasat cerdik menggunakan nama rakyat untuk mencapai tujuan mereka, kalau perlu mereka mengorbankan rakyat. Rakyat sudah cukup puas memperoleh gelar "pahlawan" kalau sampai tewas dalam perjuangan yang sebenarnya adalah menyalah gunakan demi keuntungan kelompok yang mempergunakan mereka itu. dalam sejarah. Inilah sebabnya maka jika perjuangan telah berhasil, jika para kelompok pimpinan yang berambisi sudah memperoleh apa yang mereka kejar-kejar, maka rakyat pun dilupakan sudah! Bukan sengaja dilupakan, melainkan karena mereka yang sudah berhasil merampaskedudukan itu pun harus menghadapi lawan atau saingan yang juga ingin merebut kedudukan itu. Rakyat adalah orang yang berada dibawah, dan yang terinjak memang selalu yang berada di bawah. yang berada di atas tidak akan terinjak, akan tetapi mereka itu saling berebutan di antara mereka sendiri, memperebutkan kedudukan yang lebih enak dan empuk dari pada kedudukan yang telah dimilikinya.

Demikianlah pula dengan An Lu Shan dan teman-temannya yang telah berhasil dalam "perjuangan" mereka merampas kedudukan tahta kerajaan. Teman-teman yang tadinya ber-juang bahu-membahu, menjadi kawan senasib sependeritaan, yaitu di waktu mereka mem-berontak, kini setelah memperoleh apa yang mereka cita-citakan , berbalik mencurigai, saling iri! Memang belum ada yang secara berterang berani menentang An Lu Shan, bekas panglima yang masih amat kuat kedudukannya, didukung oleh pasukan-pasukan inti dan tampaknya semua pembantunya sudah menyetujui sebulatnya kalau An Lu Shan menjadi Kaisar. Akan tetapi diam-diam, banyak yang mepersoalkan pembagian pangkat dan kedudukan. Tentu saja yang merasa tidak puas adalah mereka yang memperoleh pangkat agak kecil, sedangkan yang menerima pangkat besar merasa curiga dan hati-hati menghadapi bekas teman yang memper-oleh pangkat yang lebih kecil. Terjadi dan berlangsunglah konflik sembunyi diantara mereka.


Ke manakah perginya Swat Hong dan Kwee Lun? Di bagian depan telah diceritakan betapa dua orang muda ini berhasil menyelamatkan diri, lari keluar dari istana The Kwat Lin dan terus keluar dari kota raja Tiang-an. Mereka berlari dengan cepat mempergunakan kege-lapan malam, berhasil keluar dari benteng tembok kota raja karena para penjaga yang berada dalam suasana pesta kemenangan itu tidak melakukan penjagaan yang terlampau ketat. Se-telah terang tanah dan mereka tiba di dalam sebuah hutan jauh dari tembok kota raja barulah keduanya berhenti, terengah-engah dan Swat Hong menjatuhkan dirinya di bawah sebatang pohon besar. Wajahnya pucat biarpun muka dan lehernya penuh keringat yang di usapnya dengan ujung lengan bajunya. Pandang matanya merenung jauh sekali, dan dia diam saja, sama sekali tidak berkata-kata, sama sekali tidak bergerak, seperti dalam keadaan setengah sadar. Kwee Lun juga menghapus peluhnya dan dia pun duduk diam, memandang kepada Swat Hong. beberapa kali dia menggerakan bibir hendak bicara namun ditahannya lagi. Pe-muda yang biasanya bergembira ini merasa betapa jantungnya seperti diremas-remas. Dia sendiri merasa kehilangan dan amat berduka dengan kematian Soan Cu, gadis yang kini dia tahu adalah wanita yang amat dicintainya. Akan tetapi, melihat keadaan Swat Hong yang terpaksa harus meninggalkan ibu kandungnya menghadapi kematian, dia melupakan kedu-kaan hatinya sendiri dan merasa amat iba kepada Swat Hong. Melihat betapa Swat Hong seperti orang kehilangan ingatan, Kwee Lun merasa khawatir sekali. Kalau dibiarkan saja, gadis ini bisa jatuh sakit, kalau hanya sakit badannya masih mending, akan tetapi kalau ter-serang batinnya lebih berbahaya lagi. Akhirnya dia memberanikan diri berkata lirih dan halus, "Mati hidup adalah berada di tangan Thian, kita manusia tak dapat menguasainya, Nona." Mendengar kata-kata ini, Swat Hong menengok dan memandang, akan tetapi pandang matanya tetap kosong, seolah-olah kata-kata itu tidak dimengertinya dan dari mulutnya hanya terdengar suara meragu,

"Hemm....?" Suara ini gemetar dan pandang mata itu menusuk perasaan Kwee Lun. Maka pemuda ini lalu memberanikan diri melangkah lebih jauh lagi dengan kata-kata yang lebih membuka kenyataan, "Ibumu gugur sebagai seorang yang gagah perkasa."

Sepasang mata yang kehilangan sinar itu terbelalak, seolah-olah baru sadar dan bibir yang gemetar itu bergerak, mula-mula lirih makin lama makin keras, ".....Ibu.....? Ibu...., Ibu....!" Swat Hong menangis tersedu-sedu dan memanggil-manggil ibunya.

"Tenanglah, Nona. Tenanglah....." Kwee Lun menghibur dan berlutut di depan gadis itu, akan tetapi suaranya sendiri parau dan agak tersedu.

"Ibu....! Mengapa aku meninggalkan ibu mati sendiri....? Ibu....! Hu-hu-huuuuuuuk, Ibuuuuuuuu.....!" Memang menangis merupakan obat terbaik bagi batin gadis itu, pikir Kwee Lun penuh keharuan, akan tetapi melihat Swat Hong menjambak-jambak rambut sendiri, dia merasa khawatir.

"Ingatlah, Nona. Ingatlah pesan Ibumu..... tentang pusaka Pulau Es...."

Swat Hong mengangkat muka dan melihat wajah pemuda itu juga basah air mata, dia menubruk. "Toako.... ahhhh, Toako....!" Dan menangislah dia tersedu-sedu di dada pemuda itu yang dianggapnya merupakan satu-satunya sahabat di dunia yang baginya kosong ini. Kwee Lun memejamkan mata dan membiarkan gadis itu menangis terisak-isak. Dengan se-senggukan Swat Hong berkata, "Ibu tewas..... di depan mataku..... dan aku tidak dapat menolongnya..... hu-hu-huuuuuuuhhhh...... dan Ayah pun sudah tiada, Suheng juga...... hu-huuuuuuuuuhhh apa gunanya aku hidup lagi? Apa gunanya aku mencari pusaka dan mengembalikan ke Pulau Es?' Seperti seorang yang mendadak menjadi kalap Swat Hong merenggutkan dirinya dari dada Kwee Lun, lalu melompat bangun mengepal tinju.

"Katakan, Kwee-toako, apa gunanya semua ini? Ayah ibuku sudah meninggal, dan su-heng satu-satunya orang yang kucinta..... dia pun tidak ada lagi......! katakan, apa perlunya aku hidup lebih lama?"

Kwee Lun teringat akan kematian Soan Cu yang menghancurkan perasaannya, akan tetapi dia menekan kedukaannya dan berkata, suaranya nyaring bersemangat, "Adik Hong, tidak semestinya seorang perkasa seperti engkau mengeluarkan kata-kata bernada putus asa seperti itu! Engkau adalah puteri dari Pulau Es! Kedukaan apa pun yang menimpa dirimu, harus kau atasi dengan gagah perkasa! Aku dapat memahami pesan mendiang Ibumu yang mulia dan gagah perkasa itu. Kalau pusaka keluargamu dari Pulau Es terjatuh ke tangan orang lain, bukankah itu amat sayang, berbahaya dan juga merendahkan ? Pusaka itu telah disela-matkan oleh Nona Bu Swi Nio dan Saudara Liem Toan Ki. Sebaiknya kalau kita segera me-nyusul mereka dan aku akan membantumu mencari Pusaka Pulau Es."

Ucapan penuh semangat itu benar-benar menyadarkan Swat Hong, menarik gadis itu dari lembah kedukaan yang hampir mematahkan semangatnya. Dia menahan isak, menarik napas panjang dan menghapus air matanya, lalu memandang kepada pemuda itu, memegang tangan Kwee Lun. "Kwee-toako, terima kasih atas peringatanmu. Hampir aku lupa akan tu-gasku. Memang benar, sudah berani hidup harus berani menghadapi apa pun yang menimpa kita. Engkau sungguh baik sekali, Toako. Engkau sendiri menderita, kehilangan Soan Cu, namun masih menghiburku......"

Kwee Lun mengangkat mukanya dan memejamkan mata. "Benar.....aku mencinta Soan Cu....... aku mencintanya......"

"Dan aku mencintai Suheng. Betapa buruk nasib kita, Toako. Engkau sendiri menderita, kehilangan Soan Cu, namun masih menghiburku......"

Kwee Lun mengangkat mukanya dan memejamkan mata. "Benar.... aku mencinta Soan Cu.... aku mencintanya........"

"Dan aku mencinta Suheng. Betapa buruk nasib kita, Toako. Akan tetapi, kau masih mempuyai Gurumu, sedangkan aku hanya seorang diri..... ah, sudahlah. Aku akan pergi, Toako. Semoga engkau akan dapat menemukan kebahagiaan dalam hidupmu. Engkau baik sekali dan terima kasih."

Swat Hong berkelebat dan meloncat pergi. "Nanti dulu! Hong-moi.... biarlah aku membantumu....."

"Tidak usah, Kwee-toako. Aku akan menyusul mereka ke Puncak Awan Merah, kemu-dian aku akan kembali ke Pulau Es.... untuk.... untuk selamanya. Selamat tinggal!"

Swat Hong meloncat dengan cepat sekali dan sebentar saja dia sudah lenyap mening-galkan Kwee Lun yang menjadi lemas. Pemuda ini menjatukan dirinya duduk di atas tanah dan baru sekarang dia tidak dapat menahan bertitiknya air matanya dan baru sekarang terasa olehnya betapa dia kehilangan Soan Cu, betapa dunia terasa amat hampa dan sunyi. Berkali-kali dia menarik napas panjang dan teringatlah dia kepada gurunya, Lam-hai Seng-jin yang seperti orang tuanya sendiri. Dia harus kembali ke Pulau Kura-kura di Lam-hai dan terbayang olehnya betapa suhunya itu akan terheran mendengar semua pengalamannya dengan keluarga Pulau Es!

Dengan perasaan yang kosong dan sunyi, ingatan akan gurunya ini merupakan setitik harapan kegembiraan hidupnya dan berlahan-lahan Kwee Lun meninggalkan hutan itu untuk kembali kepada gurunya yang sudah amat lama ditinggalkannya.

Sementara itu, dengan mata masih merah oleh tangisnya, Han Swat Hong melanjutkan perjalanan seorang diri dengan cepat untuk mengejar Swi Nio dan Toan KI. Kalau dia dapat menyusul mereka dan minta kembali Pusaka Pulau Es dia dapat langsung kembali ke Pulau Es dan selanjutnya...... entah, dia sendiri tidak tahu apakah dia ada niat untuk kembali ke da-ratan besar. Tidak, dia akan tinggal di pulau itu, di mana dia terlahir. Biarpun pulau itu sudah kosong, dia akan tinggal di tempat kelahirannya itu sampai mati! Bercucuran pula air matanya ketika dia berpikir sampai di situ dan terkenang kepada suhengnya. Kalau saja ada suhengnya di sisinya, tentu tidak akan begini merana hatinya. Akan tetapi, betapapun cepat Swat Hong melakukan pengejaran, tetap saja dia tidak berhasil menyusul Swi Nio dan Toan Ki. Bahkan ketika dia tiba di Puncak Awan Merah, tempat tinggal Tee-tok Siangkoan Houw, di tempat ini dia hanya disambut oleh Ang-in Mo-ko Thio Sam, kakek yang menjadi murid kepala Tee-tok itu yang menceritakan bahwa Tee-tok bersama puterinya telah beberapa pekan pergi turun gunung dan bahwa selama itu tidak ada tamu, juga tidak ada Bu Swi Nio dan Liem Toan Ki seperti yang ditanyakan oleh gadis itu.

Swat Hong mengerutkan alisnya. Hatinya mulai bertanya-tanya. Celaka, pikirnya, ja-ngan-jangan dia telah salah memilih orang untuk dipercaya menyelamatkan Pusaka Pulau Es! Jangan-jangan dua orang muda itu sengaja melarikan pusaka-pusaka itu dan bersembunyi! Timbul kecurigaan yang diikuti kemarahan di hatinya, dan berbareng dengan perasaan ini timbul pula semangatnya yang tadinya amat menurun itu. Hidupnya masih perlu dan ada gu-nanya, setidaknya dia harus menyelamatkan pusaka-pusaka itu agar tidak terjatuh ke tangan orang lain! Perasaan marah dan khawatir ini mendatangkan perasaan bahwa dia masih amat dibutuhkan untuk hidup terus. Sambil menahan kemarahannya, dia berkata kepada murid ke-pala Tee-tok itu, "Andaikata ada datang Bu Swi Nio dan Liem Toan Ki, harap minta kepada mereka untuk menanti saya di sini. Dua bulan lagi saya akan kembali menemui mereka." Ang-in Mo-ko Thio Sam yang sudah mengetahui kelihaian dara yang pernah menggegerkan Awan Merah ini, mengangguk-angguk.

Kemudian Swat Hong meninggalkan Puncak Awan Merah untuk mengambil jalan kem-bali ke jurusan kota raja untuk mencari kalau-kalau dua orang muda itu dapat berjumpa de-ngannya di jalan. Namun semua perjalanannya sia-sia belaka. Dua bulan kemudian, kembali dia tiba di Puncak Awan Merah dan untuk kedua kalinya Ang-in Mo-ko (Iblis Tua Awan Merah) menyatakan penyesalannya bahwa dua orang muda yang dicari itu belum juga datang, bahkan gurunya juga belum pulang. "Saya malah merasa gelisah juga memikirkan Suhu." kata kakek itu. "Keadaan di mana-mana sedang ribut dengan perang, akan tetapiSuhu pergi begitu lamanya belum juga pulang." Swat Hong menahan kemarahannya. Tidak salah lagi, pikirnya. Bu Swi Nio dan Liem Toan Ki tentu berlaku khianat, menginginkan pusaka-pusaka itu untuk diri mereka sendiri. Aku harus mencari mereka dan selain merampas kembali pusaka, juga akan kuhajar mereka! Dia berpamit lalu pergi lagi, di sepanjang jalan dia memaki-maki Bu Swi Nio yang dipercaya.

"Dasar murid iblis betina itu," gerutunya. "Gurunya sudah mati, kini muridnya yang menyusahkan aku!" Mulailah Swat Hong mencari-cari kedua orang itu tanpa hasil. sampai dua tahun dia berkelana mencari-cari kedua orang muda itu namun anehnya, tidak ada seo-rang pun manusia yang tahu akan mereka. Akhirnya timbullah pikirannya bahwa sangat boleh jadi Bu Swi Nio dan Liem Toan Ki yang tadinya adalah anak buah An Lu Shan yang kini membalik dan berkhianat itu takut kepada pembalasan pemerintah baru dan telah lari me-ngungsi ke barat, ke Secuan. Sangat boleh jadi! Pikiran ini membuat dia mengambil kepu-tusan dan berangkatlah dia ke Secuan. Sambil mencari pusaka, dia pun ingin membantu Kaisar yang kabarnya sedang menyusun kekuatan untuk menyerang dan merebut kembali tahta kerajaan. Sebaliknya kalau dia membantu, pikirnya. Selain untuk mengisi kekosongan hidupnya, juga sekalian untuk mencari Bu Swi Nio an Liem Toan Ki, juga untuk menghan-curkan semua kaki tangan An Lu Shan termasuk Ouwyang Cin Cu, dan juga mengingat bahwa ayahnya adalah seorang keturunan pangeran atau raja muda, maka sebenarnya dia masih berdarah bangsawan dan masih ada hubungan darah dengan keluarga kaisar sehingga sepatutnyalah kalau dia membantu.

Sementara itu, di ibu kota yang telah diduduki An Lu Shan, di dalam istana di mana An Lu Shan mengangkat diri sendiri menjadi raja, terjadilah hal-hal yang hebat! An Lu Shan sen-diri masih melanjutkan wataknya yang kasar dan mau menang sendiri. Satu di antara kesuka-annya adalah wanita, maka begitu dia berhasil, tak pernah berhenti setiap malam dia berganti wanita mana saja yang dipilih dan ditunjuknya, tidak peduli wanita itu masih gadis atau isteri orang lain sekalipun! Pada suatu malam, dalam keadaan mabok dan sedang gembiranya, An Lu Shan lupa diri dan dalam keadaan setengah sadar dia memasuki kamar mantu perempuan nya yang sudah lama sekali dia rindukan secara diam-diam. Kalau sadar dan tidak mabok, dia masih menahan hasrat hatinya. Akan tetapi malam itu, dalam keadaan mabok, dia tidak mem-pedulikan apa-apa lagi dan memasuki kamar mantunya! Tidak ada seorang pun manusia di dalam istana yang berani melarang, dan pada saat itu, putera An Lu Shan sedang tidak berada di situ. Dengan penuh perasaan duka dan ketakutan, mantu yang muda dan cantik jelita itu tidak kuasa menolak atau memberontak, sambil menangis dia terpaksa membiarkan dirinya dipeluk dan diciumi mertua yang mabok itu. Dengan suara lirih dan membujuk dia masih berusaha mengingatkan An Lu Shan, namun seorang laki-laki yang tidak hanya mabok arak, melainkan juga mabok cinta berahi, tidak mempedulikan apa pun. wanita hanya dapat merintih dan menangis, diseling suara ketawa gembira dari An Lu Shan.

Ketika pintu kamar itu dengan paksa dibuka dari luar oleh pangeran, An Lu Shan telah tidur mendengkur kelelahan dengan muka merah karena banyak arak, sedangkan isteri pangeran itu menangis terisak-isak, berlutut di atas lantai. Pangeran itu menjadi mata gelap, pedang dicabut dan sekali meloncat dia telah menikam dada ayahnya sendiri. "Crappp....!"

"Auhhh.... haiii.... kau.... kau.....?" An Lu Shan yang bertubuh kuat itu, biarpun pedang telah menembus dadanya, masih dapat meloncat dan memcengkeram ke arah puteranya. Akan tetapi pangeran yang sudah mata gelap itu mengelak, kakinya menendang sehingga An Lu Shan terdorong jatuh, membuat pedang itu masuk makin dalam. Dia berkelojotan dan tak bergerak lagi!

"Tangkap pembunuh.....!!" teriakan ini keluar dari mulut Shi Su Beng yang bersama de-ngan Han Bu Ong sudah lari ke dalam kamar. Shi Su Beng menggerakan pedangnya dan terdengar teriakan mengerikan ketika pangeran itu roboh pula di dekat mayat ayahnya dalam keadaan tak bernyawa pula karena lehernya hampir putus terbabat pedang Pangeran Shi Su Beng! Gegerlah seluruh istana. rapat kilat diadakan dan Shi Su Beng yang dianggap membela Kaisar itu mempergunakan kesempatan ini untuk merampas kedudukan Kaisar!

Dalam keadaan kacau balau itu, Shi Su Beng mengangkat diri sendiri sebagai raja dan Han Bu Ong menjadi raja muda pembantunya yang setia! Hanyalah mereka berdua saja yang tahu bahwa semua peristiwa itu memang digerakkan oleh mereka berdua! Shi Su Beng yang membangkitkan berahi An Lu Shan terhadap mantu perempuannya, bahkan di dalam mabok, Shi Su Beng yang membujuk supaya Kaisar baru itu memasuki kamar dengan mengatakan bahwa di dalam kamar itu dia telah menyediakan seorang wanita cantik mirip mantunya itu untuk An Lu Shan! Dan selagi An Lu Shan yang mabok itu menggagahi mantunya sendiri, diam-diam Han Bu Ong menghubungi pangeran dan membisikan bahwa ada penjahat mema-suki kamarnya. Maka terjadilah seperti apa yang telah direncanakan oleh mereka berdua, yaitu kematian An Lu Shan di tangan puteranya sendiri dan kemudian kematian pangeran di tangan Shi Su Beng. Terjadilah perubahan besar-besaran di kota raja, pergantian kekuasaan dan kembali Han Bu Ong berhasil mengangkat dirinya sendiri seperti yang dicita-citakan ibunya, yaitu menjadi seorng pangeran yang berkuasa, jauh lebih berkuasa dari pada di waktu ibunya masih hidup, yaitu menjadi tangan kanan penguasa baru yang menjadi sekutunya!

Akan tetapi, jatuhnya An Lu Shan dan berpindahnya kekuasaan di tangan Shi Su Beng, masih saja belum meredakan ketegangan-ketegangan di kota raja akibat perebutan kekuasaan. Seperti biasa penguasa baru mengangkat teman-temannya sendiri menduduki jabatan tinggi, melakukan penggeseran-penggeseran sehingga menimbulkan dendam dari kawan-kawan yang berbalik menjadi lawan. Dalam keadaan seperti itu, kacau rencana perebutan kekuasaan, kalau perlu dengan cara halus maupun kasar, para pemberontak yang kini memegang tampuk kera-jaan itu menjadi lalai. Mereka terlalu memandang rendah Kaisar yang telah melarikan diri ke Secuan, menganggap keluarga Kaisar lama itu sudah jatuh benar-benar. Kesibukan untuk kepentingan ambisi pribadi membuat mereka lengah dan kurang memperhatikan pertahanan sehingga mereka tidak tahu betapa Kaisar dan keluarganya di Secuan telah membentuk keku-atan baru untuk melakukan pembalasan! Kaisar Tua Hian Tiong, yang hancur lahir batinya karena bukan hanya mahkota kerajaan dirampas oleh pemberontak An Lu Shan, akan tetapi terutama sekali karena selirnya tercinta, Yang Kui Hui, harus mati digantung oleh kepu-tusannya sendiri, setibanya di Secuan, menjadi seorang kakek yang patah semangat dan selalu tenggelam dalam duka cita. Dalam keadaan mengungsi itu, di Secuan, keluarga kaisar dan para pengikutnya yang masih setia, menerima keputusan Kaisar Tua untuk mengangkat Kai-sar baru, yaitu putera mahkota yang bergelar Su Tiong.

Pada waktu itu sisa pasukan pemerintah yang telah kalah perang terhadap An Lu Shan, di bawah pimpinan Panglima Besar Kok Cu I, telah menyusul pula ke Secuan. Kaisar Su Tiong lalu menghimpun kekuatan dari rakyatnya di daerah Secuan, dan minta bantuan kepada negara-negara tetangga yang bersahabat. Maka terkumpullah pasukan-pasukan campuran yang terdiri dari bermacam suku, bahkan terdapat pula bangsa Turki, Tibet, dan kemudian sekali datang pula bala bantuan dari pasukan Arab yang dikirim sebagai tanda bersahabat oleh Kalipu. Pasukan-pasukan itu disusun menjadi barisan besar dan diberi latihan-latihan berat dalam persiapa kaisar Su Tiong untuk merampas kembali kerajaannya, Kok Cu I.

Tidak ada hal penting terjadi selama perjalanan Swat Hong menuju ke Secuan. Gadis yang dahulu berwatak periang dan jenaka itu, yang wajahnya selalu berseri dan gembira, kini menjadi pendiam dan ada garis-garis dan bayangan muram di wajahnya yang tetap cantik jelita walaupun tidak pernah bersolek. Perantauan selama dua tahun mencari-cari pusakanya yang hilang tanpa hasil itu membuat dia merasa berduka dan juga penasaran sekali. Di dalam hatinya di berjanji bahwa dia takkan pernah berhenti mencari sebelum mendapatkan pusaka Pulau Es itu. Dalam perantauannya itu dia mendengar pula tentang kematian An Lu Shan dan puteranya. Ketika dia tiba di Secuan, pada waktu itu Kaisar yang baru, yaitu Kaisar Si Tiong, memang sedang menyusun tenaga di bawah pimpinan Panglima Besar Kok Cu I sendiri. panglima Kok ini menyebar para pembantunya, yaitu panglima-panglima bawahan di seluruh daerah Secuan untuk menerima dan mendaftar para sukarelawan yang hendak masuk menjadi tentara. Seorang di antara bawahannya yang bertugas mengumpulkan bala bantuan bahkan menghubungi orang-orang asing dari barat ini adalah Panglima Bouw Kiat.

Panglima inilah yang telah berjasa menghubungi orang-orang Arab sehingga akhirnya Kaliphu (yang kuasa di Arab) sendiri mengirim pasukan bala bantuan. Bouw Kiat berke-dudukan di sebuah dusun daerah selatan dan di sini dia menyusun pasukannya sambil menja-mu pasukan dari Arab yang sebagian kecil sebagai pasukan pelopor telah tiba di situ. panglimaKok Cu I yang cerdik memisah-misahkan para pasukan asing yang membantunya agar menjauhkan terjadinya bentrokan. Pasukan bantuan dari Turki berada di utara, dari Tibet berada di selatan dan dari timur adalah pasukan yang terdiri dari bermacam-macam suku bangsa.

Pada suatu hari, Swat Hong tiba di daerah yang dikuasai oleh Panglima Bouw Kiat inilah. Dara ini merasa heran ketika melihat ada banyak tentara asing yang bertubuh jangkung, bersikap gagah dan berkulit coklat gelap, bermata tajam dan bercambang bauk berkeliaran di daerah itu. Di tengah jalan, dia melihat seorang laki-laki asing yang tinggi besar dan gagah, memegang gandewa dan anak panah dikelilingi prajurit-prajurit Han dan Arab sambil tertawa-tawa. Laki-laki berusia tiga puluh tahun lebih yang gagah itu berkata dalam bahasa Han yang kaku, "Lihat burung-burung itu! Aku akan menurunkannya sekaligus tiga ekor. Yang mana kalian pilih?"

Swat Hong tertarik , berhenti dan memandang ke atas. Diam-diam dia terkejut dan me-nganggap orang itu sombong. Mana bisa menjatuhkan burung-burung yang terbang begitu tinggi sekaligus tiga ekor kalau orang ini bukan seorang ahli panah yang sakti?

"Tiga ekor dari depan!" terdengar teriakan.

"Tidak, yang paling belakang adalah paling sukar!" kata orang lain.

Perwira bangsa Arab itu tersenyum dan tampaklah giginya yang rata dan putih berki-lauan, kumisnya bergerak-gerak. "Biar kujatuhkan dua terdepan dan burung terakhir!" Kelompok burung yang terbang tinggi sudah tiba tepat di atas mereka. Perwira itu memasang tiga batang anak panah pada gendewanya, lalu menarik tali gendewa . Terdengar suara men-jepret dan meluncurlah tiga batang anak panah seperti tiga sinar berkilauan ke atas. Dari ba-wah tidak kelihatan bagaimana burung-burung itu terkena anak panah, namun jelas tampak betapa dua ekor burung terdepan dan seekor paling belakang tiba-tiba runtuh ke bawah. Ketika tiga ekor burung itu jatuh ke tanah dan semua orang melihat bahwa dada burung itu tertusuk anak panah, mereka bersorak dan bertepuk tangan memuji.

"Boleh juga dia," pikir Swat Hong sungguhpun dia maklum bahwa kepandaiannya me-manah seperti itu hanyalah berguna untuk pertempuran jarak jauh dan sama sekali tidak ada artinya untuk pertandingan berhadapan. Tentu kalah cepat oleh am-gi (senjata rahasia) seperti jarum, paku, piauw dan lain-lain.

"Hai, Nona! Tepuk tangan untuk kelihaian Perwira Ahmed!" Tiba-tiba ada seorang laki-laki menegur Swat Hong. Laki-laki ini adalah seorang perajurit Han dan sambil menyeringai dia bertepuk tangan dan mendesak Swat Hong untuk ikut bertepuk tangan.  JILID 23 Akan tetapi Swat Hong tidak mau melayaninya, membuang muka dan melanjutkan langkahnya. Akan tetapi laki-laki itu melompat dan menghadang didepannya sambil bertolak pinggang. "Eitt..... nanti dulu! Berani kau menghina Perwira Ahmed? Dia bukan hanya lihai dan menembak tepat, juga banyak wanita tergila-gila kepadanya! Dan kau berani memandang rendah?"

Swat Hong memandang dengan mata melotot lalu mendengus, "Pergilah!" sambil melangkah terus. "Dan kau laki-laki kurang ajar!" Swat Hong berkata dan sekali dia meng-gerakan lengannya yang terpegang, dia berbalik sudah memegang pergelangan tangan laki-laki itu dan begitu dia membetot, laki-laki itu jatuh tersungkur mencium tanah!

"Aihhh, berani kau memukulku?" Prajurit itu marah sekali dan cepat melompat dan menubruk. "Plakkk! Augghhh....!" Perajurit itu terlempar dan mengaduh-aduh, mukanya membengkak. Melihat ini, lima orang perajurit kawan orang pertama itu menjadi marah dan menerjang maju.

"Tangkap, dia tentu mata-mata!" Swat Hong merasa muak sekali dan juga marah. Meli-hat lima orang itu menerjang dan hendak berlumba menangkap dan merangkulnya, kaki ta-ngannya bergerak dan dalam segebrakan saja, lima orang itu pun roboh tersungkur dan tidak dapat berlagak lagi karena mengaduh-aduh kesakitan. Tentu saja keadaan menjadi ribut dan banyak anak buah pasukan mengurung, akan tetapi tiba-tiba perwira yang ahli menggunakan anak panah tadi meloncat maju dan menghadik. "Mundur semua!"

Setelah orang-orang mundur tidak melanjutkan gerakan mereka untuk mengeroyok, perwira itu membungkuk di depan Swat Hong sambil berkata, "Harap Nona maafkan. Sudah lazim bahwa anak buah pasukan selalu bersikap kasar. Nona tentu bukan orang sini, kalau boleh bertanya hendak ke manakah?"

"Hemm, pikir Swat Hong. Pantas kalau banyak wanita tergila-gila. Memang perwira yang bernama Ahmed ini gagah sekali, gagah dan tampan, amat keras daya tariknya terhadap wanita terutama sekali sepasang matanya yang tajam dengan bulu mata panjang lentik dan alis yang tebal itu. Juga dagunya berlekuk dan menambah kejantanannya. Selain tampan dan gagah, juga laki-laki ini pandai bersikap manis terhadap wanita.

"Sudahlah," kata Swat Hong. “Aku pun tidak ingin mencari permusuhan, asal mereka jangan kurang ajar. Bahkan aku ingin menghadap Kaisar untuk membantu perjuangannya. Di manakah aku dapat menghadap Kaisar?"

Mendengar ucapan gadis yang cantik jelita dan gagah itu, seketika lenyaplah kemarahan para prajurit. "Aih, kiranya seorang lihiap (pendekar wanita)!"

"Tentu tokoh kang-ouw kenamaan!"

Perwira Ahmed menghentikan ribut-ribut itu dan kembali dia tersenyum, manis dan me-narik sekali. "Untuk membantu perjuangan, tidak perlu menghadap Sri Baginda, Nona. Tidak mudah menghadap Sri Baginda yang sedang sibuk. Kebetulan di sini juga merupakan markas dan dipimpin Bouw-ciangkun. Banyak pula orang-orang kang-ouw yang telah diterima men-jadi sukarelawan. Akan tetapi baru sekarang datang seorang sukarelawati seperti Nona. Ahh, terimalah hormat dan rasa kagumku, Nona. Engkau tentulah yang disebut pendekar wanita dari dunia kang-ouw, bukan?"

Swat Hong tidak peduli, yang penting adalah membantu perjuangan untuk membasmi An Lu Shan dan keturunan atau penggantinya. "Dapatkah aku bertemu dengan Bouw-ciang-kun?"

"Tentu saja. Akan tetapi, perkenankanlah aku memuaskan keinginan hatiku yang sudah terpendam bertahun-tahun untuk menyaksikan kelihaian seorang pendekar wanita dari timur, Nona." Perwira Ahmed memperlihatkan gendewanya. "Dapatkah Nona mainkan gendewa dan anak panah?"

Swat Hong maklum bahwa dia hendak diuji, dan siapa tahu, mungkin perwira ini ter-masuk seorang di antara para pengujinya.

"Senjata ini kurang praktis untuk pertandingan jarak dekat dan terang-terangan." Perwira Ahmed mengerutkan alisnya, akan tetapi bibirnya tetap tersenyum manis. "Benarkah? Nona, dengan gendewa ini aku dapat merobohkan musuh dalam jarak seratus langkah, biar-pun musuh itu menggunakan senajta apa pun untuk melindungi dirinya. Aku dapat melepas-kan anak panah terus-menerus dan bertubi-tubi sampai puluhan batang!"

"Hemm, mungkin berhasil merobohkan segala burung dan manusia yang bodoh saja."

"Wah....!" Ahmed membelalakkan matanya. "Apakan di dunia ini ada orang yang sang-gup menyelamatkan diri dalam jarak seratus langkah dari gendewaku?"

"Boleh kaucoba. Aku bersedia."

"Eiiiihhh, jangan, Nona! Aku akan menyesal selama hidupku kalau sampai melukaimu, apalagi membunuhmu!"

"Tidak perlu khawatir, aku malah akan menghadapi hujan anak panahmu itu dengan tangan kosong!"

"Mustahil!" Orang Han yang pertama kali dirobohkan Swat Hong, kini mendekat dan karena dia maklum akan kelihaian dara itu, kini dia hendak mencari muka dan berkata,

"Saudara Ahmed, jangan memandang rendah seorang lihiap. Dia pasti akan sanggup memenuhi kata-katanya."

Atas dorongan dan desakan banyak orang, akhirnya Ahmed mau juga mencoba kepan-daian wanita cantik jelita itu. Dengan tenang Swat Hong melangkah sambil menghitung sampai seratus, langkah pendek-pendek saja, kemudian membalik dan menghadapi Ahmed dengan mata tak berkedip.

"Wah, terlalu dekat....! Terlalu dekat sekali! langkahmu begitu pendek-pendek, Nona. Ini hanyalah lima puluh langkah, tidak ada seratus!" Ahmed berteriak sambil melangkah mun-dur sampai lima puluh langkah. Diam-diam Swat Hong memuji kejujuran dan niat baik di hati perwira asing itu. "Terserah kepadamu. Nah, aku sudah siap." katanya.

Ahmed ragu-ragu, mukanya agak pucat. "Tapi...... tapi, setidaknya kau harus membawa pedang untuk menangkis atau sebuah perisai."

"Tidak perlu. Seranglah!" Didesak oleh orang banyak, dan memang di dalam hatinya dia juga merasa penasaran sekali, Ahmed lalu memasang lima batang anakpanah di gende-wanya, dan masih ada puluhan batang di tempat anak panah yang siap untuk disambar tangan kanan menyusul rombongan anak panah terdahulu. "Nona, siap dan hati-hatilah!" teriaknya dan terdengar suara menjepret ketika tampak lima sinar berturut-turut meluncur ke arah Swat Hong, diikuti oleh puluhan pasang mata yang tidak berkedip dan dengan hati penuh kete-gangan. Swat Hong melihat betapa lima batang anak panah itu meluncur disekeliling tubuh nya. Tahulah dia bahwa orang itu memang amat hebat ilmu panahnya akan tetapi juga amat lembut hatinya terhadap wanita sehingga sengaja membuat anak panah rombongan pertama menyeleweng. Dia diam saja tidak bergerak membiarkan lima batang anak panah itu lewat, diikuti seruan menahan napas dari semua orang yang sudah merasa ngeri melihat nona itu sama sekali tidak mengelak! Ahmed membelalakkan matanya. hampir dia tidak percaya. Anak panahnya itu hanya sedikit saja selisihnya dari kulit tubuh wanita itu, namun wanita itu dengan tenang saja berdiri diam tidak bergerak!

"Tidak perlu sungkan, bidik yang tepat!" Swat Hong berkata setelah dia merasa yakin bahwa luncuran anak panah itu dapat diikuti dengan pandang matanya sehingga mudah bagi dia untuk menjaga diri. Lima batang lagi anak panah sudah berada di gendewa Ahmed dengan cepat bukan main dan kembali terdengar suara menjepret ketika lima batang anak panah itu menyambar seperti kilat ke arah Swat Hong. Dara itu melihat betapa lima batang ini menyam-bar ke arah kakinya semua, maka dia mengerti bahwa Ahmed masih saja khawatir kalau-kalau mencelakainya, maka dia meloncat dan sekaligus menendang ke bawah sehingga dia bukan hanya mengelak, bahkan berhasil menendang runtuh semua anak panah itu! Ahmed menge-luarkan seruan kagum dan kini dia pun tidak ragu-ragu lagi akan kehebatan pendekar wanita itu. Anak panahnya meluncur bertubi-tubi seperti hujan derasnya, susul menyusul ke arah tubuh Swat Hong dan dara ini pun memperlihatkan kepandaiannya. Sambil mengelak ber-loncatan ke sana-sini, tangannya menyambar dan dua batang anak panah ditangkapnya dengan kedua tangannya, lalu dia menggunakan dua batang anak panah itu untuk menangkis semua anak panah yang datang menyambar, kemudian dengan cepat dan tak terduga-duga dia menyambitkan sebatang anak panah yang meluncur cepat ke arah Ahmed.

“Auhhh....!" Ahmed berteriak kaget dan gendewanya terlepas dari tangan kirinya karena tangan kirinya itu kena sambar sebatang anak panah. Gendewanya terlepas akan tetapi tangan kirinya tidak terluka karena anak panah yang menyambar tangannya itu dilepas dengan cara dibalik sehingga bukan ujung yang runcing yang mengenai tangannya, melainkan ujung bela-kang yang bulu-bulunya telah dibuang . Ahmed segera lari menghampiri Swat Hong, meman-dang penuh kagum, kemudian dia membungkuk sampai dalam sambil berkata,

"Duhai....., Nona adalah setangkai bunga di tengah padang pasir! Satu di antara puluhan ribu wanita belum tentu ada yang seperti Nona...... saya merasa kagum dan hormat sekali.....!" Wajah Swat Hong menadi merah. Bukan main hebatnya pujian yang keluar dari mulut pria ini, pujian yang aneh dan istimewa. Akan tetapi sebelum dia menjawab terdengar kaki kuda ber-derap dan muncullah seorang panglima sebangsa Ahmed naik kuda. Usianya tentu sudah em-pat puluhan tahun, tinggi besar dan berwibawa, gagah dan juga tampan, akan tetapi begitu bertemu pandang, Swat Hong merasa tidak suka kepada panglima ini karena pandang mata itu seolah-olah hendak menelanjangi dan sinar mata orang itu seperti dapat menembus pakaian nya! Ahmed cepat berdiri dengan tegak memberi hormat kepada atasannya. Panglima itu lalu bertanya kepada Ahmed dalam bahasa mereka sendiri yang tidak dimengerti oleh Swat Hong, dijawab pula oleh Ahmed. Panglima itu mengangguk-angguk, bicara lagi lalu memutar kuda-nya pergi dari tempat itu setelah melempar kerling penuh gairah dan kagum ke arah Swat Hong. "Nona, Komandanku tadi bertanya tentang Nona dan menyuruh Nona langsung saja menghadap Bouw-ciangkun untuk melapor. Tentu saja bantuan tenaga seorang yang berke-pandaian tinggi seperti Nona amat dihargai dan dibutuhkan. Mari Nona, saya antar."

"kau baik sekali, terima kasih," jawab Swat Hong yang merasa memperoleh seorang sahabat dalam diri perwira yang simpatik ini.

"Nama saya Ahmed, Nona." Swat Hong tersenyum, mengerti bahwa itulah cara yang sopan dari sahabat barunya untuk menanyakan namanya. "Dan namaku Han Swat Hong." Mereka memasuki sebuah bangunan besar dan di ruangan dalam, Ahmed membawa Swat Hong ke dalam sebuah kamar di mana duduk seorang tua berpakaian panglima perang. Orang ini berusia lima puluh tahun lebih, mukanya bulat dan matanya sipit menjadi agak lebar ketika dia memandang Swat Hong yang datang bersama Ahmed. Setelah memberi hormat, Ahmed berkata "Nona Han Swat Hong ini ingin menjadi sukarelawati."

"Hemm, aku sudah mendengar dari komandanmu. Kau boleh pergi meninggalkan Nona ini di sini," jawab Panglima Bouw dengan sikap angkuh. Menyaksikan sikapnya ini saja Swat Hong sudah merasa kurang senang. Ahmed memberi hormat, melirik kepada Swat Hong lalu melangkah keluar dengan tegap. Setelah derap kaki Ahmed tidak terdengar lagi, kamar itu menjadi sunyi sekali biarpun di situ, selain Bouwciangkun dan Swat Hong, masih terdapat empat orang pengawal yang berdiri di sudut kamar seperti arca. "Silahkan duduk, Nona." Suara Bouw-ciangkun berubah, tidak singkat dan keras seperti tadi, melainkan lunak dan manis. Hal ini membuat Swat Hong makin tidak senang lagi, akan tetapi karena kedatang- annya hendak membantu kerajaan melawan pemberontak, bukan hendak berhubungan dengan orang ini, dia tidak banyak cakap, lalu duduk. "Kami telah mendengar akan kelihaian Nona yang mendemonstrasikan kepandaian di luar tadi. Kebetulan sekali kedatangan Nona, karena Kaisar memang membutuhkan seorang pengawal wanita untuk menjaga keselamatan keluarga Kaisar. Oleh karena itu, harap Nona menanti di dalam pesanggrahan, kalau kesempatan sudah terbuka, kami akan mengantarkan Nona untuk menghadap Kaisar sendiri."

Girang juga hati Swat Hong karena dia lebih senang untuk bekerja dekat dengan kelu-arga Kaisar daripada bekerja sama dengan para prajurit Kaisar itu. Pula, memang karena me-rasa bahwa ayahnya adalah masih sedarah dengan keluarga Kaisar maka dia berkeinginan membantu keluarga Kaisar, maka pekerjaan menjadi pengawal untuk melindungi keselamatan keluarga Kaisar amatlah cocok baginya. "Baik, saya akan menanti," jawabnya.

Setelah mencatatkan nama Swat Hong, Bouw-ciangkun sendiri lalu mengantarkan dara itu pergi ke pesanggrahan, yaitu sebuah bangunan yang terpencil, berada di pinggir gunung, bangunan yang bentuknya indah dan mungil. Ketika menuju ke bangunan ini, Swat Hong me-lihat beberapa orang penjaga yang jumlahnya hanya belasan orang akan tetapi senjata mereka aneh, yaitu sebatang pedang yang bengkak-bengkok seperti ular dan memegang perisai yang bentuknya seperti batok kura-kura.

"Mereka ini adalah pasukan istimewa, pasukan pengawalku." kata Bouw-ciangkun men-jelaskan dengan nada suara bangga ketika Swat Hong memandang mereka itu yang berdiri tegak dan memberi hormat kepada Bouwciangkun dengan gagah. Setelah mereka memasuki pesanggrahan, Bouw-ciangkun melanjutkan, "Mereka terdiri dari orang-orang pilihan, berma-cam suku bangsa di barat dan utara."

Akan tetapi Swat Hong sudah tidak memperhatikan lagi cerita tentang pasukan penga-wal tadi, karena dia sedang memperhatikan keadaan pesanggrahan yang cukup mewah itu. "Rumah ini kosong?" tanyanya. "Memang di kosongkan dan disediakan untuk tamu agung. Karena sekarang tidak ada tamu, maka Nona boleh beristirahat di sini barang sehari dua hari untuk menanti kesempatan Kaisar dapat menerima Nona menghadap. saya akan mengirim dua orang pelayan wanita untuk melayani segala keperluan Nona, dan sekarang juga saya akan berusaha melaporkan kedatanganNona kepada kaisar."

Swat Hong hanya memangguk dan pembesar itu pergi meninggalkannya. Ketika Swat Hong sedang memeriksa keadaan pesangrahan itu yang ternyata mewah dan lengkap dengan kamar tidur yang indah, masuklah dua orang pelayan wanita membawa perlengkapan dan bahan masakan.

"Kami menerima perintah untuk melayani Nona di sini," kata mereka dan segera mere-ka sibuk di dapur. Swat Hong merasa tidak enak hatinya. Dia melamar untuk menjadi pejuang membantu Kaisar, akan tetapi dia diterima seperti seorang tamu agung, ditempatkan di rumah mungil dan dilayani dengan istimewa seperti dimanja! Apakah karena dia wanita? Ataukah karena dia memperlihatkan kepandaiannya tadi dan dipilih menjadi pengawal keluarga Kaisar? Dia ingin melihat-lihat keadaan di luar. Akan tetapi baru saja dia meninggalkan pondok itu sejauh belasan langkah, tiba-tiba muncullah tiga orang mengawal istimewa yang bersenjata pedang berbentuk ular dan perisai kura-kura tadi.

"Harap Nona jangan meninggalkan pondok . Kami diperintah untuk menjaga pesang-grahan dan kalau Nona memaksa pergi kami harus mengawal Nona." Swat Hong menge-rutkan alisnya. Akan tetapi karena maksud itu baik, biarpun dianggapnya tidak ada gunanya, aneh dan menyebalkan, dia tidak menjawab melainkan kembali memasuki pondok, terus ke kamar dan merebahkan diri di atas pembaringan. Dia merasa seperti seorang asing di situ. Tiba-tiba dia tersenyum teringat kepada Ahmed. Untung ada orang yang simpatik itu. Seti-daknya, dia yakin bahwa dia mempunyai seorang sahabat yang boleh dipercaya. Akan tetapi baru saja dia beristirahat di atas tempat tidur yang lunak itu, terdengar suara hiruk pikuk di luar. Swat Hong yang memang selalu merasa tidak enak itu meloncat dan berlari ke luar. Kagetlah dia ketika melihat bahwa yang datang adalah Bouw-ciangkun dan Panglima Arab tinggi besar yang menjadi atasan Ahmed tadi, diiringkan oleh tujuh orang pelayan pria yang membawa baki tertutup. Begitu berhadapan, Bouw-ciangkun menjura dengan hormat sambil berkata,

"Kiong-hi (selamat), Nona Han. Kami telah menghadap Kaisar dan karena Beliau masih sibuk, mulai besok lusa Nona boleh menghadap sendiri. Sementara itu, Beliau mengirim kami berdua untuk menemani Nona menerima hidangan yang dikirim dari dapur keluarga Kaisar!" Hati Swat Hong tidak senang dan curiga, akan tetapi karena nama Kaisar disebut-sebut, dia ti-dak berani menolak. Dia tahu bahwa penolakan hadiah dari Kaisar dapat diartikan penghinaan dan pemberontakan! Banyak dia mengerti tentang peraturan kerajaan, karena selain dia sendi-ri adalah puteri raja di Pulau Es juga dia banyak membaca kitab-kitab ayahnya tentang peng-hidupan keluarga Raja di daratan besar. Terpaksa dia membalas dengan menjura penuh hor-mat, kemudian bersama dua orang panglima itu dia memasuki pondok dan duduk menghadapi meja besar bersama mereka berdua. Setelah hidangan yang lengkap dan masih panas diatur di atas meja dan para pelayan mudur berdiri di sudut, dua orang pelayan wanita muncul melayan i mereka makan minum. Bouw-ciangkun memperkenalkan panglima itu sebagai panglima yang menjadi komandan dari pasukan Arab yang membantu. "kami mengandalkan bantuan sahabat-sahabat dari barat ini untuk merampas kembali kota raja." antara lain Bouw-ciangkun berkata, akan tetapi urusan itu hanya didengarkan sepintas lalu saja oleh Swat Hong yang menghendaki agar pertemuan ini cepat selesai. Dengan tangannya sendiri Bouw-ciangkun lalu mengisi cawan-cawan kosong di depan Swat Hong, Panglima Arab, dan dia sendiri, lalu me-ngangkat cawan arak sambil berkata, "mari kita mulai makan minum bersama dengan mengu-capkan terima kasih kepada Sri Baginda dengan mengangkat cawan penghormatan untuk kejayaan Sri Baginda Kaisar!" Swat Hong mengangkat cawan dan minum bersama mereka, kemudian Bouw-ciangkun mempersilahkan Swat Hong dan Panglima Arab itu untuk mulai makan. Sambil makan, Bouw-ciangkun dengan gembira menceritakan keadaan mereka, keku-atan yang sedang mereka susun, juga menceritakan kekacauan di kota raja sebagai akibat perebutan kekuasaan di antara para peberontak sendiri. Betapa An Lu Shan dan puteranya tewas dan sekarang Shi Su Beng yang berkuasa juga menghadapi bersaingan dari bekas kawan-kawannya sendiri.

"Ha-ha-ha, seperti sekumpulan anjing memperebutkan tulang!" Dia menutup ceritanya sambil tertawatawa. Panglima Arab itu yang diperkenalkan tadi bernama Hussin bin Siddik, mengeluarkan sebuah guci yang bentuknya seperti tanduk kerbau, membuka tutupnya dan mencium bau harum yang aneh. Sambil tertawa dia mengacungkan guci tanduk kerbau itu sambil berkata, "Nona adalah seorang pendekar yang berilmu tinggi dan dipilih untuk menjadi pengawal Sri Baginda. karena itu sudah sepatutnya menerima penghormatan kami dengan anggur padang pasir ini! Marilah kita minum tiga cawan untuk pertama, demi keselamatan Sri Baginda sekeluarga!"

Dia mengisi cawan arak di depan Swat Hong dengan minum dari guci tanduk kerbau itu, tidak banyak, hanya setengah cawan kurang. karena dia diajak minum demi keselamatan kelu-arga kaisar, tentu saja Swat Hong tidak menolak, apalagi karena dia melihar betapa Bouw ciangkun dan Panglima Hussin sendiri juga minum. Diminumnya cawannya dan ternyata ang-gur itu enak dan tidak begitu keras, manis dan harum sungguhpun agak aneh harumnya. "Secawan lagi kita minum demi persahabatan kita!" Kembali Swat Hong minum dari cawan araknya yang sudah diisi lagi setengahnya. "Dan cawan terakhir kita minum untuk keme-nangan perjuangan kita!" Sekali ini cawan itu dipenuhi dan karena anggur itu sama sekali tidak mendatangkan pengaruh apa-apa, Swat Hong tidak khawatir dan minum anggur sampai habis. panglima Hussin dan Bouw-ciangkun tertawa girang dan melanjutkan makan minum sepuas-puasnya. Setelah kenyang, kedua orang panglima itu berpamit dan sambil tertawa Bouw-ciangkun berkata, "Harap Nona jangan pergi meninggalkan pesanggrahan ini karena siapa tahu tiba-tiba saja Sri Baginda Kaisar telah siap menerima kunjungan Nona. hal itu bisa saja terjadi di siang hari atau di malam hari. Sebaiknya kalau Nona mengaso saja dalam pesanggrahan dan sewaktu-waktu, kalau Sri Baginda menghendaki, aku sendiri atau Panglima Hussin yang akan datang menjemput Nona."

Swat Hong mengangguk dan setelah dua orang panglima itu pergi dan meja dibersihkan lalu ditinggal pergi oleh para pelayan, dialalu minta kepada wanita pelayan untuk menyedia-kan air. Setelah mandi dan tukar pakaian, Swat Hong kembali beristirahat di dalam kamar yang indah itu. Berada di dalam kamar ini teringatlah dia akan kamarnya sendiri di Pulau Es, kamar yang lebih indah dan lebih menyenangkan lagi. Dia menutup mulut dengan tangan dan menguap..... goyang-goyang kepalanya. Mengapa dia begini mengantuk? Dia menguap lagi. Bukan main! Rasa kantuk sukar dipertahankannya lagi. Aneh sekali! Hari baru menjelang senja, belum malam. Pula habis makan dan mandi, mana bisa mengantuk? Kembali dia menguap dan Swat hong meloncat bangun, duduk sambil memegangi kedua pelipisnya. Ini tidak wajar, pikirnya! Rasa kantuk yang amat hebat dan terbayanglah wajah Panglima Hussin yang mengajaknya minum sampai tiga kali, kemudian terbayanglah dan terdengar lagi kata-kata Bouw-ciangkun yang menyatakan bahwa kalau Kaisar menghendaki, sewaktu-waktu dia atau Panglima Hussin akan datang menjenguknya. Semua ini dilakukan sambil tertawa-tawa dan seakan-akan ada "main mata" di antara kedua orang panglima itu!

"Celaka....!" dia mengeluh, ingin dia turun membasahi muka denan air, akan tetapi dia tidak kuat, baru saja dia turun, dia sudah terguling ke atas lantai karena kepalanya pening dan Swat Hong sudah tidur di atas lantai dengan pulasnya! Tak lama kemudian, setelah matahari mulai condong ke barat, sesosok bayangn seorang pemuda berkelebat dan mengintai pesang-rahan itu dari balik batu-batu gunung. pemuda ini tinggi besar, gagah dan tampan, dengan sebatang pedang di punggungnya, berpakaian sederhana dan matanyabersinar-sinar penuh kemarahan.

Pemuda ini adalah Kwee Lun! Bagaimana dia dapat datang di tempat jauh itu? Seperti telah dituturkan di bagian depan, dua tahun yang lalu pemuda ini berpisah dari Swat Hong dan langsung dia pulang ke Pulau Kura-kura di Lam-hai. Tepat seperti dugaannya semula, gurunya, Lam-hai Seng-jin, terheran-heran dan kagum mendengar penuturan muridnya ter-utama pengalaman muridnya yang bertemu dan bersahabat dengan penghuni Pulau Es! Setelah muridnya selesai menceritakan semua pengalamannya, juga tentang kematian Ouw Soan Cu, gadis Pulau Neraka yang dicintainya. Dengan suara berduka, kakek itu berkata, "Pengalamanmu sudah cukup, muridku. Sekarang biarlah aku memperdalam ilmumu dan menerima sisa-sisa dari semua kepandaianku. Setelah itu, berangkatlah kau lagi ke daratan besar. Negara sedang kacau balau dilanda oleh para pemberontak. Tenagamu dibutuhkan. Kabarnya kaisar mengungsi ke Secuan, maka sebaiknya kalau kau kelak menyusul ke sana untuk membantu kaisar, jangan membiarkan dirimu terbujuk oleh kaum pemberontak." Demikianlah, Kwee Lun berlatih silat untuk yang terakhir dari gurunya, terutama sekali memperhebat ilmu pedang yang dimainkan bersama dengan kipas di tangan kirinya. Setahun kemudian berangkatlah dia meninggalkan Pulau Kura-kura untuk kedua kalinya, mendarat di daratan besar dan langsung dia pergi ke barat, ke Secuan!

Kebetulan sekali dia tiba pada hari itu juga, berbareng dengan datangnya Swat Hong! Hanya bedanya, kalau Swat Hong datang dari timur, adalah Kwee Lun datang dari selatan, akan tetapi mereka memasuki daerah yang sama yaitu yang dikuasai oleh Bouw-ciangkun. Kwee Lun terus melaporkan diri dan langsung diterima sebagai sukarelawan. Dia tidak tahu bahwa pada siang hari itu juga Swat Hong datang dan bertemu dengan perwira Ahmed dari pasukan Arab yang diperbantukan. Tanpa disengaja, ketika Kwee Lun berjalan-jalan dan bertemu dengan para perajurit Han, bertanya-tanya tentang keadaan, dia mendengar kelakar seorang di antara para prajurit itu.

"Wah, enak juga menjadi panglima tentara asing! Selain jaminannya lebih hebat, juga hiburannya lebih luar biasa lagi. Bayangkan saja, dara perkasa yang mengebohkan siang tadi, kabarnya akan diserahkan sebagai hadiah kepada Panglima Hussin!"

"Ah, masa?"

"Hem, jelita sekali dia!"

"Dan masih perawan hijau lagi!"

"Akan tetapi ilmu silatnya hebat! jangan-jangan panglima itu akan mampus olehnya!"

"Mudah-mudahan begitu!"

"tapi panglima itu terkenal pandai, dan lihat saja Perwira Ahmed itu, dimana-mana para wanita tergila-gila kepadanya. Agaknya mereka memiliki jimat untuk menundukan hati wani-ta." Mendengar ini, Kwee Lun mengerutkan alisnya. Tak disangkanya, di tempat seperti ini dia mendengarkan peristiwa yang sepantasnya terjadi di dunia penjahat. Seorang dara diha-diahkan begitu saja! Mendengar bahwa dara itu lihai ilmu silatnya, dia tertarik.

"Kalau wanita itu lihai, mana bisa dia dihadiahkan begitu saja?" dia ikut bicara sambil tersenyum.

"Aha, kau tidak tahu, kawan. Banyak jalan yang dapat dilakukan oleh Bouw-ciangkun. Dan kabarnya, tidak pernah ada wanita yang dapat melawan apabila dikehendaki oleh Pang-lima Hussin itu. Apalagi kalauBouw-ciangkun sudah mengijinkannya, dan dalam hal ini, agaknya Bouw-ciangkun selalu berusaha mengambil hati orang-orang berkulit hitam itu!" Kwee Lun makin tak senang hatinya. Dia mendengarkan dengan teliti dan akhirnya memper-oleh keterangan bahwa dara yang hendak dihadiahkan itu kabarnya telah dikurung di dalam pesanggerahan, yaitu rumah kecil terpencil yang oleh para perajurut diberi nama tempat pen-jagalan perawan!

"Hem, semenjak kecil suhu menanamkan sifat pendekar, membela keadilan dan kebe-naran kepadaku." Kwee Lun berpikir, "Biarpun sekarang aku menjadi seorang pejuang, tetap aku harus menentang kejahatan, dari siapapun juga datangnya! Dengan pikiran ini, Kwee Lun mulai melakukan penyelidikan dan pada sore hari itu dia sudah mendekati rumah pesang-gerahan itu dan menyelinap untuk menyelidiki dari jarak dekat, kalau mungkin memasuki ru-mah itu dan menolong si gadis yang hendak dijadikan korban. Melihat betapa di empat penju-ru terdapat empat orang penjaga yang selalu melakukan perondaan mengelilingi pesanggerah-an itu, Kwee Lun bersembunyi dan mengintai. Penjaga-penjaga yang memegang pedang ular dan perisai kura-kura itu kelihatanya bukan penjaga-penjaga sembarangan. Dia harus menanti sampai malam tiba, barulah ada harapan baginya untuk dapat memasuki pesanggrahan itu tan-pa diketahui orang. Asal saja dia tdak terlambat, pikirnya. Akan tetapi, tiba-tiba dia melihat seorang perwira Arab yang berkumis rapi datang menghampiri pesanggerahan itu. Empat orang penjaga menghadangnya, mereka bercakap-cakap dan perwira itu dibiarkan oleh para penjaga memasuki pesanggrahan. Hemm, ini agaknya pembesar yang di "hadiahi" gadis itu, pikir Kwee Lun dengan marah sekali. Kalau dia harus menanti lebih lama lagi , mungkin dia akan terlambat. Kebetulan sekali terdapat seorang penjaga meronda di dekat tempat dia ber-sembunyi,

"Keparat busuk!" Kwee Lun berseru marah dan dia meloncat dari tempat sembunyinya. Penjaga itu terkejut cepat menarik perisai kura-kura di depan dadanya dan mengangkat pe-dangnya, siap untuk menyerang. "Haaaaiiiiittttt!!!" Tubuh Kwee Lun yang meloncat ke atas itu langsung menendang dengan tumit kaki kanan di depan. "Bresss....!!" Perisai kura-kura itu ternyata kuat menahan tendangan Kwee Lun, akan tetapi pemegangnya terdorong dan terjeng-kang bergulingan. Mendengar suara berisik ini, berdatanganlah para penjaga lain dan dalam waktu sebentar saja Kwee Lun terpaksa harus mencabut pedang dan kipasnya, mengamuk dikepung oleh belasan orang penjaga yang bersenjata pedang ular dan perisai kukra-kura itu. Sementara itu, perwira berkumis yang bukan lain adalah Perwira Ahmed tadi, setelah berhasil meyakinkan para penjaga bahwa dia datang untuk memeriksa apakah dara itu masih berada di pesanggrahan, terkejut mendengar ribut-ribut dan ketika dia menengok, dia melihat seorang pemuda perkasa sedang dikepung para penjaga. Perwira yang cerdik ini menduga bahwa tentu pemuda itu datang untuk menolong Swat Hong, maka dia bergegas memasuki rumah itu. Dua orang pelayan wanita dibentaknya untuk minggir.

"Aku harus menjaga dia, ada orang jahat datang! Didorongnya dau pintu kamar dan ce-pat ditutupnya dari dalam. Melihat SwatHong rebah terlentang dan tidur pulas di atas lantai, Ahmed cepat berlutut dan mengeluarkan sebuah botol hijau dari sakunya.

"Huh, benar jahat! Mengorbankan siapa saja tanpa pilih bulu!" gerutunya sambil mem-buka tutup botol hijau yang cepat dia tempelkan di depan hidung Swat Hong. Tak lama kemudian dara itu terbangun, mengeluh dan merintih, "Aduhh....pening kepalaku....."

"Sttt..... Nona Swat Hong...... sadarlah...... aku datang menolongmu......"

Ahmed mengguncang-guncang dara itu. Swat Hong membuka matanya dan terkejut melihat Ahmed berlutut di dekatnya.

"Lekas kaucium ini....." Ahmed kembali mendekatkan botol di depan hidung Swat Hong. Gadis itu memang sudah mempunyai kesan baik terhadap diri Ahmed, maka dia tidak mem-bantah dan disedotnya botol itu. Tercium bau keras dan dia tersedak lalu berbangkis.

“Apa.... apa yang terjadi......?" Swat Hong bertanya, kepalanya masih agak pening.

"Lekas kau telan ini...." Ahmed memberikan sebutir pil hitam.

"Engkau telah terkena racun Hashish yang dicampurkan di dalam anggur. Ini obat penawarnya." Teringatlah Swat Hong dan tahulah dia mengapa dia tertidur di lantai. Tanpa bertanya lagi dia lalu menelan pel kecil itu dan benar saja, peningnya hilang dan pikirannya terang kembali.

"Nona, aku mendengar bahwa siang tadi kau dijamu oleh mereka. Tahulah aku bahwa kau tentu diberi anggur bercampur hashish. Lekas kau keluar, di luar sedang terjadi pertem-puran. Seorang pemuda agaknya datang hendak menolongmu, dia bersenjata pedang dan kipas...."

"Kwee Lun.....!" Swat Hong berseru kaget, menyambar pedangnya di atas meja dan hendak lari keluar.

"Nanti dulu, Nona."

Swat Hong berhenti. "kau baik sekali, Saudara Ahmed. Aku berterima kasih kepa-damu."

"Bukan itu. kau....kau harus lukai aku dengan pedang itu. Kalau tidak, aku akan dihu-kum mati sebagai pengkhianat."

Barulah sadar Swat Hong betapa perwira ini telah menolongnya dengan taruhan nyawa sendiri. "Kau adalah seorang yang amat baik, bagaimana mungkin aku tega untuk melukaimu? Kau sahabatku..... dan ternyata di segala bangasa, ada saja manusianya yang jahat dan baik, ti-dak ada bedanya dengan bangsa lain. Aku mengerti maksudmu, saudara Ahmed, nah, biar ku-robohkan kau dengan totokan!" Swat Hong bergerak cepat sekali, dan tahu-tahu dua jalan da-rah di tubuh Ahmed telah di totoknya dan perwira itu terguling roboh dan tak mampu berge-rak karena kaki tangannya menjadi lumpuh, tubuhnya lemas tak mampu bergerak. Swat Hong cepat menyambar botol dan sisa obat penawar, memasukannya di dalam sakunya, kemudian dia menendang meja kursi sampai terpelanting ke kanan kiri sehingga menimbulkan kesan se-olah-olah di kamar itu telah terjadi pertempuran, mencabut pedang dari pinggang Ahmed dan melemparkan pedang di lantai, kemudian dia memegang tangan Ahmed dan berkata, suaranya terharu, "Selamat tinggal!" Saudara Ahmed. Sekali lagi terima kasih dan kita takkan bertemu kembali."

Hanya dengan bibir dan pandang matanya saja Ahmed tersenyum penuh kagum, mulut nya hanya dapat berkata," Kau..... setangkai bunga di padang pasir........"

Swat Hong melompat dan berlari ke luar. Dua orang pelayan wanita yang lari menda-tangi dia tendang terguling dan menjerit-jerit, kemudian dia terus lari ke luar. Heran juga ke-tika dia melihat bahwa dugaannya tadi benar ketika mendengar penuturan Ahmed tentang seorang pemuda bersenjata kipas dan pedang. Kwee Lun telah datang dan mengamuk di luar pesanggrahan! Gerakan pemuda itu hebat bukan main karena memang selama satu tahun dia berlatih dengan tekun. Akan tetapi ternyata para pengeroyoknya juga merupakan pasukan yang terlatih dan memiliki keistimewaan. Bukan hanya senjata mereka yang aneh, yaitu pedang ular dan perisai kura-kura, akan tetapi juga mereka itu membentuk barisan yang kokoh kuat, saling membantu dan banyak menggunakan perisai untuk berlindung, kemudian pedang ular itu meluncur dari depan perisai, persis gerakan seekor kura-kura menyerang dan menyembunyikan kepala di dalam batoknya. Menghadapi kepungan yang ketat ini, Kwee Lun merasa kewalahan juga. Akan tetapi dia mengamuk dengan penuh keberanian dan akhirnya dia dapat membobolkan kepungan dengan jalan berloncatan ke sana-sini, kemudian men-dadak dia meloncat melewati kepala pengepung yang berada di belakangnya dan begitu berada di luar kepungan dia berhasil merobohkan dua orang pengeroyok dengan pedang dan kipasnya. Empat belas orang sisa pasukan itu sudah mengepung lagi, akan tetapi mendadak terdengar lengking nyaring dan robohlah empat orang diserang oleh Swat Hong dari luar kepungan.

"Nona Han....!"

"Kwee-toako, mari kita basmi mereka ini!" seru Swat Hong. Kwee Lun girang bukan main, tak pernah disangkanya bahwa dara yang hendak dijadikan korban itu adalah Han Swat Hong. Dia merasa kecelik juga, karena ternyata bahwa gadis yang akan ditolongnya itu berbalik malah menolongnya!

"Kita lari saja, Nona. tidak perlu melawan tentara yang amat banyak!"

"Tidak aku harus bunuh dulu si keparat she Bouw....!"

Pada saat itu terdengar suara hiruk pikuk dan berbondong-bondong datanglah pasukan besar dipimpin oleh Bouw-ciangkun sendiri! Melihat Bouw-ciangkun, Swat Hong menjadi marah sekali. Dari mulutnya terdengar suara melengking nayring dan tubuhnya melesat se-perti terbang cepatnya, pedangnya menyambar sebagai sinar kilat ke arah Bouw-ciangkun. panglima ini terkejut, menggerakan pedang menangkis. Terdengar suara berdencing nyaring dan pedang di tangan panglima itu patah disusul robohnya tubuhnya yang berkelojotan karena ternyata lehernya hampir putus terbabat pedang di tangan Swat Hong!

"Nona, jangan...." Kwee Lun lari mendekat dan mereka sudah dikepung oleh ratusan orang perajurit yang menjadi bengong menyaksikan kematian komandan mereka secara yang sama sekali tidak disangka-sangka itu. Semua orang menduga bahwa tentu nona yang tadinya melamar sebagai sukarelawati dan pemuda yang menjadi sukarelawan ini tentulah mata-mata dari pihak pemberontak!

"Tangkap mata-mata!"

"Bunuh mereka!"

"Tahan semua senjata....!!" Kwee Lun berteriak dan suaranya mengatasi semua keri-butan itu, semua orang menahan senjata dan memandang kepada pemuda itu dengan marah. Mau bicara apa lagi mata-mata yang sudah membunuh komandan mereka ini?

"Saudara-saudara sekalian! Kami berdua bukan mata-mata pemberontak, sama sekali bukan! Bahkan kami adalah musuh-musuh pemberontak. Kami berdua adalah sungguh-sungguh hendak membantu gerakan Sri Baginda Kaisar untuk menghalau pemberontak dari kota raja. Akan tetapi celakanya, Nona Han Swat Hong yang beriktikad baik ini dicurangi oleh Bouw-ciangkun. Sukarelawati yang gagah perkasa ini, yang akan dapat membantu ba-nyak sekali kepada Sri Baginda, oleh Bouw-ciangkun hendak dikorbankan sebagai hadiah kepada panglima Arab, untuk diperkosa! Tentu saja kami melawan kejahatan ini!"

"Tangkap......!"

"Bunuh.....! Dia telah membunuh Bouw-ciangkun......!"

"Jangan percaya hasutan mulut mata-mata pemberontak!" Kini tempat itu penuh dengan perajurit, tidak hanya ratusan, bahkan ribuan banyaknya. Mereka sudah marah semua karena biarpun di antara mereka ada yang dapat memaklumi kebenaran ucapan Kwee Lun, namun kenyataan dibunuhnya Bouw-ciangkun tentu saja menggegerkan dan mengacaukan mereka. Dengan senjata di tangan mereka sudah mengeroyok dua orang itu.

"Menyesal tidak berhasil, Nona."

"Tidak apa, Toako. Mati di sampingmu membesarkan hati."

"Benarkah?"

"Tentu saja, karena engkau seorang yang baik sekali, Kwee-toako."

"Kalau begitu, marilah mati bersama!" Pemuda itu dengan wajah berseri sudah siap dengan sepasang senjatanya, mereka saling membelakangi dan saling melindungi. Para pera-jurit sudah berdesak-desakan hendak menyerbu. Tiba-tiba terdengar suara yang halus dan tenang, namun penuh wibawa,

"Harap Cu-wi sekalian tidak menggerakkan senjata.......!" Sungguh ajaib sekali. Biarpun ada di antara mereka yang tidak mempedulikan kata-kata ini dan hendak tetap menyerang, tiba-tiba saja merasa bahwa tangan mereka tidakmampu bergerak! Terdengar seruanseruan kaget dan heran, dan kini semua mata memandang kepada seorang pemuda yang dengan tenangnya berjalan memasuki kepungan itu, dengan membuka jalan di antara para perajurit. Juga Kwee Lun dan Swat Hong mengeluarkan seruan tertahan. Mereka berdua pun merasa betapa tangan mereka tidak dapat digerakkan! Otomatis mereka pun menoleh dan melihat pula seorang pemuda yang memasuki kepungan itu dengan sikap tenang sekali. Seorang pemuda yang berpakaiannya sederhana, agak kurus, matanya memancarkan sinar yang luar biasa, pemuda yang memandang kepada Swat Hong dengan senyum di bibir.

"Su.... Suhenggggg.....!" Tiba-tiba Swat Hong menjerit, pedangnya terlepas dari pe-gangan dan sambil terisak dia lari menghampiri lalu menubruk pemuda itu yang bukan lain adalah Kwa Sin Liong! "Suheng..... aihhh, Suheng...... Ibuku....."

"Tenanglah, Sumoi, tenanglah........" Suara Sin Liong mengandung wibawa yang luar biasa sehingga Swat Hong yang dilanda kekagetan dan keharuan hebat karena sama sekali tidak menyangka bahwa suhengnya masih hidup itu, dapat menenangkan hatinya. "Suheng..... betapa bahagia rasa hatiku! Suheng, jangan kautinggalkan aku lagi....."

"Tidak, Sumoi. Tidak lagi."

"Aku cinta padamu, Suheng! Aku cnta padamu!" Tanpa malu-malu Swat Hong mene-riakkan suara hatinya ini di tengah-tengah kepungan ratusan, bahkan ribuan orang perajurit! Kwee Lun memandang semua itu dan dua titik air mata membasahi bulu matanya. Dia merasa terharu, juga girang sekali, girang melihat kebahagian Swat Hong dan sekaligus dia teringat kepada Soan Cu. Dia pun sudah dapat bergerak, melangkah maju dan berkata,

"Kwa-taihiap, syukur bahwa engkau masih dalam keadaan selamat. Sungguh aku ikut merasa girang...." Sin Liong tersenyum kepadanya.

"Kwee-toako, engkau seorang sahabat yang baik. Simpanlah pedang dan kipasmu, tidak perlu melanjutkan pembunuhan yang tidak ada gunanya ini." Kwee Lun menurut, akan tetapi matanya memandang ragu dan sambil menyarungkan pedang dan menyimpan kipasnya, dia bertanya, "Akan tetapi.... mereka itu....?"

Terdengar teriakan-teriakan dari para pengepung. "Tangkap mata-mata musuh!"

"Bunuh pemberontak!"

"Tangkap pembunuh Bouw-ciangkun!" Ribuan orang perajurit sudah bergerak lagi. Swat Hong memegang lengan suhengnya dan Kwee Lun juga mendekati Sin Liong. Betapapun juga, gentar dia menghadapi ribuan orang yang berteriak itu, apalagi dia tidak boleh melawan. Ketenangan Sin Liong membuat dia mencari perlindungan dekat pemuda ini. Sin Liong memegang lengan sumoinya dan terdengarlah suaranya penuh kesabaran dan kete-nangan yang wajar, "Cu-wi sekalian tahu bahwa mereka berdua ini bukan mata-mata, dan Cu-wi tahu apa yang telah terjadi. Maka harap Cu-wi perkenankan kami pergi, kemudian sebaik-nya melaporkan kepada Sri Baginda apa yang telah terjadi sehingga dapat diambil tidakan tepat, demi ketertiban."

Suara ini demikian halus, akan tetapi mengatasi semua teriakan dan anehnya orang-orang itu tidak berteriak-teriak lagi. "Kami hendak pergi sekarang!" Sin Liong memegang le-ngan Swat Hong dengan tangan kanannya, memegang lengan Kwee Lun dengan tangan kiri, lalu menarik kedua orang itu keluar dari kepungan.

Swat Hong dan Kwee Lun melangkah dengan bengong, merasa seperti dalam mimpi saja karena ketika mereka melangkah pergi melalui ribuan orang pasukan itu, tidak ada seo-rang pun di antara para perajurit yang mencoba untuk menghalangi mereka, bahkan ajaibnya, tidak ada seorang pun yang memandang mereka, seolah-olah para perajurit itu tidak melihat mereka! Dan memang begitulah. Para perajurit itu pun bengong ketika secara tiba-tiba setelah pemuda tampan halus itu berpamit, tiga orang itu tiba-tiba saja lenyap dari situ tanpa mening-galkan bekas! Setelah Sin Liong dan dua orang temannya pergi jauh, barulah gempar di tem-pat itu dan akhirnya Kaisar memperoleh laporan tentang semua peristiwa yang terjadi. Pang-lima Hussin dikirim pulang dan pimpinan pasukannya diserahkan kepada Ahmed! Sementara itu, Sin Liong, Kwee Lun dan Swat Hong pergi meninggalkan Secuan.

Ketika mereka tiba jauh dari daerah itu, mereka berhenti dan Swat Hong berkata, "Su-heng, mengapa kita meninggalkan Secuan? Aku ingin sekali menjadi sukarelawati, mem-bantu Kaisar dan membasmi pemberontak yang telah mengakibatkan kematian Ibu, kematian Soan Cu dan Ayahnya, bahkan kematian kakek buyutku!"

"Benar apa yang dikatakan Nona Swat Hong, Kwa-taihiap. Perjuangan menanti tenaga kita. Marilah kita bertiga membantu kerajaan membasmi pemberontak." Sin Liong menarik napas panjang, memegang tangan sumoinya dan diajak duduk di atas rumput. Swat Hong du-duk dekat suhengnya dan memandang wajah suhengnya dengan penuh kagum dan kasih sa-yang. "Kwee-toako, benarkah engkau tertarik dengan perang, dengan saling bunuh membu-nuh antara manusia, antara bangsa sendiri itu? Betapa mengerikan, Toako. Menggunakan ilmu silat untuk membela yang lemah, untuk menentang yang jahat masih dapat dimengerti dan masih mending. Akan tetapi bunuh-membunuh hanya untuk membela sekelompok manu-sia lain saling memperebutkan kemuliaan duniawi, sungguh patut disesalkan. Mereka itu hanya ingin mempergunakan orang lain demi mencapai cita-cita sendiri.

"Aih, apa yang dikatakan Suheng memang tepat, Kwee-toako. Ingat saja pengalamanku. Aku jauh-jauh datang untuk menjadi sukarelawati, membantu mereka, akan tetapi belum apa-apa aku sudah akan dikorbankan demi untuk menyenangkan hati panglima asing itu." Swat Hong berkata kemudian dia menceritakan pengalamannya kepada Sin Liong, semenjak mereka berpisah dan dia ditolong oleh kakek buyutnya, sampai dia berpisah dari Kwee Lun meninggalkan ibunya yang menghadapi maut. "Aku tidak berhasil mencari Swi Nio dan Toan Ki yang kutitipi pusaka-pusaka Pulau Es. Maka aku berniat membantu Kaisar sekaligus men-cari mereka yang kurasa melarikan diri membawa pusaka-pusaka itu untuk mereka sendiri. Sungguh menggemaskan!"

"Jangan tergesa-gesa berperasangka buruk terhadap orang lain, Sumoi. Kelak kita me-mang harus mencari mereka dan meminta kembali pusaka-pusaka itu untuk kita bawa kembali ke Pulau Es."

Kwee Lun juga menceritakan riwayatnya semenjak dia berpisah dari Swat Hong. Ke-mudian mereka minta agar Sin Liong suka menceritakan riwayatnya. "Bagaimana engkau yang menurut cerita Kakek buyut dilempar ke sumur ular dan ditutupdengan reruntuhan guha, dapat menyelamatkan diri, Suheng? dan selama ini engkau kemana saja?"

Sin Liong tersenyum. "Aku memang nyaris tewas di sumur itu, akan tetapi memang agaknya belum tiba saatnya aku mati, maka batu mustika hijau kepunyaanmu ini telah meno-longku, Sumoi." Sin Liong mengeluarkan mustika hijau itu. Swat Hong menerima batu itu dan menciumnya. "Terima kasih, kau telah menyelamatkan Suheng!" katanya girang. Sin Liong lalu menuturkan dengan singkat keadaannya selama dua tahun di dalam sumur ular sampai dia berhasil keluar ketika sumur itu dibongkar oleh Han Bu Ong dan orang-orang kerdil.

"Ahh, Ibunya yang mencelakanmu, anaknya yang tanpa sengaja menolongmu!" Swat Hong berseru heran. "lalu bagaimana kau bisa datang ke Secuan dan menyelamatkan aku dan Kwee-toako?"

"Mula-mula aku pergi ke kota raja dan mendengar betapa Ibumu, juga Soan Cu telah te-was di sana, akan tetapi juga bahwa ibu tirimu The Kwat Lin juga tewas pula. Karena aku menduga bahwa peristiwa itu tentu membuat engkau dimusuhi oleh para pemberontak, maka aku yakin bahwa kau tentu membantu Kaisar di Secuan, maka aku segera menyusul ke sini dan kebetulan sekali melihat engkau dan Kwee-toako dikeroyok para perajurit." Sin Liong tidak memberitahukan bahwa sesungguhnya telah terjadi keajaiban pada dirinya sehingga seolah-olah dia tahu bahwa sumoinya berada di Secuan. Seolah-olah apa yang terjadi bukan merupakan rahasia lagi baginya!

Tiba-tiba Kwee Lun bertanya nada suaranya hati-hati dan penuh sungkan, "Kwa-taihiap, sejak dulu saya tahu bahwa Taihiap memiliki kepandaian luar biasa. Akan tetapi..... tadi di sa-na seruan taihiap membuat ribuan orang berhenti bergerak, bahkan aku pun..... tidak mampu bergerak. Kemudian....... ketika kita pergi, terjadi keajaiban, seolah-olah mereka itu sama se-kali tidak melihat kita pergi....."

Sin Liong hanya tersenyum dan mengangkat pundak tanpa menjawab.

"Benar! Apa yang telah kau lakukan tadi, Suheng?" Swat Hong juga bertanya.

"Tidak apa-apa, Sumoi. Engkau pun melihat sendiri. Kita pergi dari mereka, dan karena tidak ada permusuhan atau kebencian di hatiku, tentu saja mereka pun tidak melakukan apa-apa."

Swat Hong memang sejak dahulu sudah tahu akan keanehan watak Suhengnya dan ka-dang-kadang ucapan suhengnya tidak dimengerti sama sekali, maka jawaban sederhana ini cukup baginya. Tidak demikian dengan Kwee Lun. Pemuda ini menduga bahwa Pemuda Pulau Es itu bukanlah manusia biasa, maka cepat dia berkata, "Kwa-taihaip, jika Taihiap berkenan, saya....... saya mohon petunjuk......"

Sin Liong menoleh, memandang. Mereka bertemu pandang dan Sin Liong tersenyum lagi. "Kau sebaiknya pulang saja ke Pulau Kura-kura, Kwee-toako. Dan mengingat engkau suka sekali akan ilmu silat dan aku yakin bahwa engkau tidak akan menggunakan ilmu itu untuk berbuat jahat, maka mungkin aku dapat menambahkan sedikit tingkat ilmumu itu. Harap kau coba-coba mainkan pedang dan kipasmu itu sebaik mungkin."

Bukan main girangnya hati Kwee Lun. Dia menjura dengan hormat sambil mengucap-kan terima kasih, kemudian dia mencabut pedang dan kipasnya lalu bermain silat di depan Sin Ling dan Swat Hong. Seperti kita ketahui, dari kitab kuno Sin Liong memperoleh ilmu luar biasa, yaitu mengenal semua inti ilmu silat dari gerakan pertama saja. Maka setelah Kwee Lun mainkan jurus-jurus simpanan yang paling lihai dan menghentikan permainan silatnya, Swat Hong bertepuk tangan memuji, sedangkan Sin Liong berkata, "Ada kelemahan-kelemahan di dalam beberapa jurusmu, Toako." Pemuda luar biasa ini lalu memberi petunjuk kepada Kwee Lun yang menjadi terheran-heran, kagum dan girang sekali. Petunjuk-petunjuk itu merupakan penyempurnaan dari semua ilmu silatnya.Dia menerima dan melatih petunjuk-petunjuk ini dan demikianlah, sampai hampir sebulan lamanya, tiga orang ini melakukan per-jalanan ke timur dan disepanjang perjalanan, Kwee Lun menerima petunjuk-petunjuk dari Sin Liong, bahkan Kwee Lun menerima pelajaran latihan untuk menghimpun tenaga sinkang. Selama sebulan itu, Kwee Lun memperoleh keyakinan bahwa pemuda Pulau Es ini benar-be-nar bukan seorang manusia biasa. Tidak tanduknya, bicaranya, pandang matanya, dan betapa pemuda itu dapat mengerti ilmu silatnya lebih sempurna daripada dia sendiri! Maka ketika tiba saatnya berpisah, dia tanpa ragu-ragu menjatuhkan diri berlutut di depan Sin Liong!

"Harap jangan berlebihan, Kwee-toako," kata Sin Liong.

"Wah, Toako. Apa-apaan ini?" Swat Hong juga mencela.

"Kwa-taihiap, saya boleh dibilang adalah murid Taihiap. Dan Han-lihiap, agaknya belum tentu selama hidupku akan dapat bertemu lagi dengan Ji-wi (Kalian). Perkenankan sa-ya, Kwee Lun, menghaturkan terima kasih dan selama hidup saya tidak akan melupakan Ji-wi!"

"Hushhhh..... sudahlah, Toako. Kita berpisah di sini. Engkau ke selatan dan kami akan terus ke timur. Mari, Sumoi, kita lanjutkan perjalanan," kata Sin Long dengan suara tenang dan biasa saja, lalu mengajak sumoinya pergi dari situ. Swat Hong beberapa kali menengok dan melihat Kwee Lun masih berlutut dengan mata basah air mata! Dia pun terharu, akan tetapi tidak lagi merasa sengsara seperti ketika dia berpisah dari Kwee Lun hampir dua tahun yang lalu. Kini Sin Liong, suhengnya, pria yang dicintainya, berada di sampingnya. Tidak ada lagi perkara apa pun di dunia ini yang dapat menyusahkan hatinya lagi!


Sudah terlalu lama kita meninggalkan Bu Swi Nio dan Lie Toan Ki, dua orang muda yang dipercaya oleh Swat Hong untuk menyelamatkan pusaka-pusaka Pulau Es. Benarkah du-gaan Swat Hong bahwa mereka itu bertindak curang, mengangkangi sendiri pusaka-pusaka yang secara kebetulan terjatuh ketangan mereka itu? Sama sekali tidak demikian dan mari kita mengikuti perjalanan mereka semenjak mereka meninggalkan kota raja.

Bersambung...

Popular posts