Theme Support

Showing posts with label virus corona. Show all posts
Showing posts with label virus corona. Show all posts

Friday, 6 March 2020

Tak Perlu Panik Covid-19 Tidak Mematikan

Illustrasi : https://ugm.ac.id/id/berita/19092-tak-perlu-panik-covid-19-tidak-mematikan
Dr. Ika Trisnawati, M.Sc., Sp.PD-KP, Ketua Tim Viral Airborne RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta, mengimbau masyarakat untuk tidak panik menghadapi virus corona atau Covid-19, sebab virus ini sesungguhnya tidak mematikan.

Ia mengatakan hal itu saat memberi kuliah mahasiswa Fakultas Farmasi UGM, Program Studi Profesi Apoteker bertema Tentang Corona Virus dan Penangannya. Menurut Ika virus corona pernah menjadi wabah dunia dengan tiga jenis yang dikenal selama ini, yaitu SARS-Cov, MERS-Cov dan COVID-19.

SARS muncul tahun 2002 di China dan Hongkong, kemudian MERS muncul tahun 2012 dan di akhir tahun 2019 menyusul COVID-19. SARS-Cov jumlah kasusnya mencapai 8.098, meninggal dunia 774 orang dan Case Fatality Rate 9,6 persen. MERS-Cov yang terjangkit lebih sedikit yaitu 2.494, namun angka kematian cukup tinggi 858 sehingga Case Fatality Ratenya 34,4 persen.

Sedangkan COVID-19 tercatat per tanggal 1 Maret 2020 mencapai 87.137 kasus dengan jumlah kematian mencapai 2.981. Angka kematian ini terlihat sangat tinggi, namun bila dibandingkan dengan jumlah kasusnya maka Case Fatality Ratenya hanya 3,4 persen.

“Oleh karena itu, tidak usah terlalu panik, kita memiliki data atau bukti ilmiah. Artinya apa virus ini tidak mematikan, namun memang mudah menular," katanya, di Auditorium Gedung V Fakultas Farmasi UGM, Rabu (4/2).

Dari data yang ada, kata Ika, yang terpenting soal COVID-19 ini adalah identifikasi kasus apakah ia kasus dari luar atau kasus berasal dari lokal. Sebagai contoh di Pakistan banyak kasus merujuk pada kasus berasal dari luar artinya kasus-kasus yang muncul akibat virus dari luar masuk kedalam. 

Ika mengakui angka kematian di luar China paling banyak di Korea, Jepang, Philipina, Itali, Perancis, Iran dan di kapal Diamond Princess. Angka kematian terbesar di China karena endemis dan virusnya sangat mudah menular.

“Dari data banyaknya pasien-pasien yang meninggal karena sebelumnya telah memiliki penyakit-penyakit yang lain. Jadi, sebelum terkena corona, sebelum terkena Covid, ia sudah sakit, semisal jantung, gagal ginjal, gagal liver dan lain-lain dan usianya sudah lanjut," terangnya.

Seementara itu, untuk pasien-pasien yang berusia muda angka kematiannya sangat kecil. Mereka yang dalam kategori usia produktif ini umumnya memiliki daya tahan yang masih bagus.

“Virus ini sangat bergantung pada ketahanan tubuh. Jadi, yang meninggal karena ia punya penyakit kronis yang lain dan telah berusia lanjut," imbuhnya.

Ika sangat berharap masyarakat untuk tidak panik menghadapi wabah ini. Menurutnya, kepanikan muncul akibat ketidaktahuan soal virus ini, belum lagi dengan beredarnya isu-isu yang berkembang.

Baginya hoaks berita terkait COVID-19 inilah yang justru paling berbahaya sehingga di Indonesia bukan virus Covidnya yang membahayakan, tapi virus hoaksnya karena lebih liar dan susah dikendalikan.

“Kalau virus covidnya bisa ditangani dengan cara dikarantina, pasien bisa dikendalikan penularannya, tapi kalau virus hoaks susah dikendalikan. Beberapa waktu kemarin kita sudah mengadakan pertemuan dengan Kementerian Kesehatan dari bidang informasi dan komunikasi guna mambahas isu-isu hoaks agar bisa ditangani secara serius," katanya.

dr. Titik Nursyastuti, SpMK., Ph.D, mikrobiologi FKKMK UGM, menyatakan Covid-19 dimulai pada 2019 dengan penemuan kasus pneumonia di daerah Wuhan dan tidak sampai sebulan sudah muncul kasus di luar China. Thailand menjadi negara pertama terdampak.

“Data WHO menyebut hampir di semua benua sudah terdampak oleh Covid-2019. Tetapi WHO sampai sekarang belum menyatakan sebagai pandemik," ungkapnya.

Menurutnya, virus ini sebenarnya labil, tidak tahan panas, tidak tahan bahan kimia dan sebagainya. Virus ini sudah sejak lama ada dan berhasil dikultur atau diisolasi pada tahun 1960-an.

“Dari sejarahnya juga ada beberapa jenis dari corona virus ini yang menginfeksi manusia, meksipun beda family. Ada human coronavirus 229E, OC43, LL63 dan sebagainya. Tetapi yang menjadi perhatian adalah tiga kelompok koronavirus yang di bawah ini yang menyebabkan outbreak atau wabah karena sebelumnya hanya menyebabkan infeksi yang ringan saja sehingga tidak menjadi perhatian serius waktu terjadi infeksi," terangnya.

Penulis : Agung Nugroho

Sumber : https://ugm.ac.id/id/berita/19092-tak-perlu-panik-covid-19-tidak-mematikan

Perilaku Hidup Sehat cara mencegah Virus Corona

Ilustrasi mencuci tangan. (Foto: Istockphoto/AlexRaths)
Konfirmasi dua kasus COVID-19 di Indonesia cukup menggemparkan masyarakat dan bahkan menimbulkan ketakutan bagi berbagai kalangan. Ketakutan ini memicu masyarakat untuk melakukan berbagai tindakan impulsif seperti memborong masker dan barang-barang kebutuhan pokok.

Koordinator tim respons COVID-19 UGM, dr. Riris Andono Ahmad, MPH, PhD mengungkapkan bahwa kunci pencegahan penularan virus ini terletak pada perilaku hidup sehat yang sebenarnya telah kerap dikampanyekan sebelum kemunculan virus ini, seperti mencuci tangan, konsumsi makanan sehat, serta olahraga dan istirahat yang cukup.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang menyikapi kejadian ini mengingat COVID-19 bisa dicegah,” ungkapnya dalam konferensi pers yang digelar Selasa (3/3) di Gedung Pusat UGM.

Terkait tindakan masyarakat yang memborong masker untuk mencegah penularan, ia menegaskan bahwa masyarakat umum yang dalam kondisi sehat tidak perlu mengenakan masker, karena virus ini tidak menular melalui udara secara langsung.

Penularan virus terjadi melalui droplet atau cairan tubuh yang bisa terpercik pada seseorang atau pada benda-benda di sekitarnya pada jarak 1-2 meter melalui batuk atau bersin. Karena itu, penggunaan masker diperlukan justru oleh orang yang sakit untuk mencegah percikan tersebut.

“Jadi secara umum penyakit ini lebih banyak menular melalui model penularan seperti itu. Karena itu, penyakit ini lebih efektif dicegah dengan cuci tangan dengan sabun antiseptik atau cairan pembersih tangan yang berbasis alkohol,” imbuhnya.

COVID-19 merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus SARS CoV-2 dengan gejala umum gangguan saluran pernafasan akut baik ringan maupun berat yang meliputi demam, batuk, sesak nafas, kelelahan, pilek, nyeri tenggorokan, atau diare.

Satu dari enam orang yang terinfeksi akan mengalami gejala sakit yang berat hingga kesulitan bernafas, dan sebagian besar penderita yang mengalami keparahan adalah orang berusia lanjut dan memiliki riwayat penyakit lain seperti hipertensi, penyakit jantung, atau diabetes.

Riris menambahkan, dibandingkan dengan beberapa penyakit yang juga disebabkan oleh virus corona, seperti SARS dan MERS-Cov, COVID-19 memiliki tingkat fatalitas yang lebih rendah, yaitu sekitar 2 persen, jauh lebih rendah dibandingkan dengan SARS yang bisa mencapai 10 persen.

Di samping itu, sistem kesehatan Indonesia dinilai cukup mumpuni untuk mendeteksi dan menangani penyakit ini, sehingga masyarakat tidak perlu panik.

“Dengan ditemukannya kasus yang terkonfirmasi kemarin, itu menunjukkan bahwa kapasitas deteksi sistem kesehatan kita cukup mumpuni, dan pemerintah juga sudah menyiapkan 100 rumah sakit di Indonesia untuk menangani kasus-kasus COVID-19,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, pakar mikrobiologi FKKMK UGM, Prof. dr. Tri Wibawa, Ph.D, Sp.MK, menerangkan bahwa banyak virus yang bisa dilawan dengan kekebalan tubuh. Di samping konsumsi makanan sehat ataupun tanaman obat yang mampu meningkatkan sistem imun, olahraga, istirahat cukup, serta pengelolaan stres juga menjadi hal yang tidak kalah penting.

UGM sendiri telah mengeluarkan surat edaran yang mengimbau seluruh sivitas UGM untuk secara aktif melakukan upaya kewaspadaan di unit kerja serta melakukan perilaku hidup sehat, di samping melakukan langkah pencegahan seperti menangguhkan perjalanan ke luar negeri, terutama negara-negara yang terdampak COVID-19, serta beberapa imbauan lainnya.

Pembentukan tim respons sebagai satuan tugas khusus juga menjadi salah satu upaya UGM untuk melindungi sivitas UGM maupun masyarakat sekitar UGM terhadap ancaman penyakit.

“Tahun lalu kami sudah meluncurkan program Health Promoting University, dan salah satu yang menjadi perhatian adalah literasi kesehatan. Karena ini menimbulkan kepanikan, UGM membentuk satgas di mana dari direktorat kemitraan dan urusan internasional, FKKMK, maupun tim HPU akan berkoordinasi,” ucap Wakil Rektor UGM Bidang Sumber Daya Manusia dan Aset, Prof. Dr.Ir. Bambang Agus Kironoto.

Penulis: Gloria
Foto: Vino & freepik.com

Sumber : https://ugm.ac.id/id/berita/19085-perilaku-hidup-sehat-kunci-pencegahan-virus-corona

Popular posts